JAKARTA,dewadet.com-Bupati Manggara di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Heribertus Geradus Laju Nabit mempresentasikan Mbaru Gendang Manggarai kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis 9 Januaria 2026.
Siaran pers PWI NTT, Senin 12 Januari 2026, menyatakan presentasi merupakan tahapan penting menjelang penyerahan Trofi Abyakta serta wartawan komunitas pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, 9 Februari 2026. Heri Nabit, salah seorang dari 10 bupati/walikota di Indonesia, kandidat penerima trofi tersebut.
Ritual adat Manggarai,Tuak Kepok mengawali ucapan selamat datang kepada 10 bupati/wali kota se-Indonesia yang masuk nominasi penerima tropi kebudayaan serta wartawan komunitas. Tuak kepok diterima Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Jusuf Sosilo Hartono.
Para bupati/wali kota diiringi tarian “Ronda,” dari Manggarai.Di depan penari ronda, beberapa orang penari Caci yang mengenakan pakaian adat lengkap memeragakan pembukaan. Bupati Manggarai melakukan pukulan pembukaansai pegelaran Caci.
Baca juga:PWI dan BTN Teken Kerjasama Serahkan 100 Rumah Subsidisi untuk Wartawan di Jabodetabek
Ke-10 kandidat terdiri dari tiga wali kota dan tujuh bupati, yakni Wali Kota Malang, Jawa Timur, Wahyu Hidayat. Wali Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Andi Harun, dan Wali Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Mohan Roliskana.
Sedangkan ketujuh bupati yakni, Bupati Lampung Utara, Lampung, Hamartoni Ahadis, Bupati Temanggung, Jawa Tengah, Agus Setiawan. Bupati Manggarai, NTT, Heribertus Geradus Laju Nabit, Bupati Blora, Jawa Tengah, Arief Rohman. Bupati Labuhanbatu, Sumatera Utara, Maya Hasmita. Bupati Manokwari, Papua Barat, Hermus Indou, dan – Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat, John Kenedy Azis.
Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, mengatakan pers punya peran strategis tidak hanya mengawal isu politik dan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan kebudayaan nasional.
“Pembangunan kebudayaan harus dimulai dari daerah. Karena itu, silaturahmi dan presentasi ini menjadi penting, sebab proposal tertulis saja tidak cukup. Kemajuan budaya daerah akan sangat menentukan arah kebudayaan nasional,” ujarnya.
Baca juga:Ketua Dewan Pers: Wartawan Bodrex, Preman yang Gunakan Kartu Palsu Peras Pemda
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, dalam sambutan disampaikan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Atal S. Depari, menegaskan Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar seremoni.
“Anugerah ini merupakan pengakuan moral dan historis atas peran kebudayaan sebagai jiwa bangsa, sekaligus apresiasi kepada para insan budaya yang konsisten menjaga identitas Indonesia di tengah arus perubahan zaman,” kata Atal.
Menurut Atal, kekuatan utama Indonesia tidak hanya terletak pada aspek ekonomi, geopolitik, atau demografi, tetapi justru pada kekayaan budayanya yang telah diakui dunia, termasuk oleh UNESCO.
“Dengan ribuan bahasa dan ragam tradisi, pembangunan yang berlandaskan kebudayaan adalah sebuah keharusan. Tanpa kebudayaan, pembangunan akan kehilangan arah, makna, dan identitas,” tambahnya.
Baca juga:Pater Viknesh: Wartawan Punya Kekuatan Mengetahui Kebenaran
Dalam konteks tersebut, pers dinilai memiliki peran penting sebagai penjaga ingatan kolektif, ruang dialog kebudayaan, serta penghubung antara tradisi dan modernitas. Pers yang sehat adalah pers yang memberi ruang bagi kebudayaan untuk tumbuh, dikenal, dan dihargai publik.
Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menilai wartawan memiliki kedekatan yang kuat dengan kebudayaan melalui tugas pencatatan sejarah, tradisi, dan dinamika sosial masyarakat.
“Wartawan mencatat sejarah dan budaya. Dari catatan itulah nilai-nilai budaya dapat terus hidup. Ke depan, para pemimpin daerah diharapkan mampu mencatatkan dirinya sebagai pelindung dan penyelamat budaya yang kini mulai tergerus,” ujarnya.
Totok menambahkan, keberhasilan seorang wali kota, bupati, atau gubernur salah satunya dapat diukur dari komitmennya dalam melindungi dan melestarikan kebudayaan daerah selama masa kepemimpinannya.
Baca juga:Ketika Hari Buruh Bersamaan Pesta Santo Yoseph Pekerja
“Jika suatu daerah didominasi budaya asing, mulai dari makanan hingga pola interaksi sosial, maka budaya lokal bisa hilang dan hanya tersisa kenangan. Di sinilah pers harus hadir sebagai penjaga, pejuang, sekaligus tonggak kebudayaan bangsa,” tegasnya.
Usai kegiatan silaturahmi, sebanyak 10 kepala daerah mengikuti presentasi Anugerah Seni dan Kebudayaan di PWI Pusat pada Jumat (9/1/2026).
Presentasi dilakukan di depan dewan juri yang terdiri dari Sujewo Tejo (seniman, budayawan, mantan wartawan, anggota yim.pakar PWI Pusat) Dr. Nungki Kusumastuti (dosen IKJ, penari dan artis film), Agus Dermawan T (pengamat dan penulis seni budaya, penerima anugerah kebudayaan RI), Yusuf Susilo Hartono (wartawn senior, pelukis dan penyair). *






