Rabu, 23 Juli 2025. Hari Biasa Pekan XVI. Keluaran 16:1-5.9-15; Matius 13:1-9.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SUATU pagi, seorang petani tua duduk di teras rumahnya, memandang sawah yang baru saja ditanami. Ketika ditanya apa yang ia lakukan, ia berkata, “Saya tidak hanya menanam padi, saya juga menanam harapan. Tapi saya tahu, harapan ini hanya akan tumbuh jika langit tetap memberi hujan, dan tanah tetap subur.”

Hidup manusia tak jauh berbeda: kita menanam harapan setiap hari. Tetapi hasilnya sangat bergantung pada dua hal, yakni apa yang Tuhan beri, dan seperti apa hati kita menerimanya.

Dalam bacaan pertama dari Kitab Keluaran, bangsa Israel yang baru saja dibebaskan dari perbudakan Mesir mulai mengeluh karena kekurangan makanan. Padahal mereka telah mengalami mukjizat besar: laut terbelah, mereka selamat, dan kini berada dalam kebebasan. Namun, lapar membuat mereka lupa.

Lalu Tuhan berfirman: “Aku akan menurunkan hujan roti dari langit.” Dan sungguh, setiap pagi mereka menemukan manna, roti surgawi, yang cukup untuk hari itu. Tuhan mencukupkan kebutuhan mereka, bukan untuk ditimbun, tetapi untuk diandalkan hari demi hari. Allah setia mencukupi, bukan dengan cara manusia, tetapi dengan cara-Nya.

Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketika Cinta Tak Lari dari Kekosongan

Dalam Injil Matius, Yesus mengisahkan perumpamaan tentang seorang penabur. Benih ditaburkan ke berbagai jenis tanah: jalan, batu, semak berduri, dan tanah yang baik. Hanya benih yang jatuh di tanah yang suburlah yang menghasilkan buah, bahkan seratus kali lipat.

Yesus menjelaskan bahwa tanah yang baik adalah hati yang mau mendengarkan sabda Tuhan dan memeliharanya. Tapi, hati yang keras, dangkal, atau dipenuhi kekuatiran dunia tidak akan menghasilkan buah, seberapa pun baiknya benih yang ditabur.

Kedua bacaan hari ini saling menjelaskan bahwa Tuhan selalu memberi “roti dari langit” dan “benih sabda-Nya”, tetapi hasilnya tergantung pada respons manusia.

Manna bisa dilupakan jika hati lebih sibuk mengeluh. Sabda bisa layu jika hati tidak sungguh membuka diri. Kita sering sibuk mengejar hal yang besar, tetapi lupa mensyukuri yang kecil. Kita ingin hasil melimpah, tapi hati kita sendiri belum tentu tanah yang siap ditanami.

Baca jugaBUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Tanda-TandaNya adalah Keselamatan

Saudara-saudari terkasih. Mari hari ini kita mengubah sikap hati kita: dari mengeluh menjadi bersyukur, dari menuntut menjadi percaya. Semakin kita menyadari berkat yang Tuhan beri setiap hari entah itu udara segar, makanan yang cukup, atau sapaan kasih dari orang terdekat, semakin lembut pula tanah hati kita.

Dan, di sanalah benih sabda-Nya akan bertumbuh dan menghasilkan panen kasih. Karena hati yang bersyukur adalah tanah yang subur. Di situlah Tuhan bekerja dalam sunyi, dalam cukup, dan dalam setia.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Hati yang bersyukur menjadikan hidup ladang subur bagi sabda dan kasih Tuhan. Tuhan selalu memberi, tetapi hanya hati yang terbuka yang mampu menumbuhkan anugerah itu menjadi buah.”

Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketika Tangan Bekerja, Hati pun Harus Mendengarkan

”Kita sering menanti hujan berkat dari langit, tanpa sadar tanah hati kita belum siap menerimanya. Ketika hati menjadi tempat doa dan syukur bertumbuh, di sanalah Tuhan diam dan berkarya demi kelimpahan hidup kita.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan