Yusuf Kalla Bagi Pengalaman Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta di Maumere
MAUMERE,dewadet.com-Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Yusuf Kalla, mengunjungi Kota Maumere, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat siang 28 Agustus 2026.
Kedatangan 13 hari pasca Gempa Flores bermagnitudo 7,7 pada Sabtu 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA mendapatkan langsung laporan bencana alam, mengecek kesiapan PMI Cabang Sikka, dan mengunjungi pengungsi di Gelora Samador pada hari terakhir masa tanggap darurat..
Yusuf Kalla didampingi Pengurus Pusat PMI, Yosef Naesoi, dan beberapa orang pengurus pusat lainnya diterima Bupati Sikka, Yuventus Prima Yoris Kago, mendengarkan laporan kerusakan dan penanganan oleh Wakil Ketua Satgas Pengananan Gempa, Pet Poling.
Wakil Presiden RI periode 2014-2019 memberi motivasi dan menawarkan metode penanganan pasca tanggap tanggap darurat, memuji gerak cepat Bupati Sikka. “Pak Bupti orang muda di sini (Sikka),” katanya tertawa.
Baca juga:Peringatan Tsunami Gempa Flores Bekerja Cepat, 2 Menit 16 Detik
Yusuf Kalla berbagi pengalamanan penanganan gempa mengatakan banyak daerah di Indonesia mengalami gempa dan bencana alam lainnya.
“Jadi harus selalu siap. Tapi saat ini sudah terjadi perubahan sikap masyarakat setelah Tsunami Aceh. Korban Tsunami di Aceh banyak sekali, karena ketika tsunami orang ke laut cari ikan,” cerita Yusuf Kalla.
Ketika air surut, orang pergi cari ikan, sehingga banyak orang jadi korban. Tapi sekarang sikap itu sudah berubah. Ada gempa sebesar apapun pasti orang lari atau mengungsi ke atas ke tempat yang lebih tinggi dan jauh dari pesisir.
Bahkan, kata Ysuuf Kalla, tanpa ada pengumuman yang tinggal di pesisir pantai akan lari ke atas, maka korban tidak banyak. Karena sudah terjadi perubahan sikap masyarakat.
Diingatkan Yusuf Kalla hal yang tidak bisa dilupakan bahwa gempa itu merusak. Maka, masyarakatlah yang harus kita hadapi pada masa tanggap darurat bisa berlangsung sebulan sampai tiga bulan.
“Kalau di sini tidak banyak karena warga tidak banyak jumlahnya. Gempa tetap punya korban satu orangpun tetaplah korban. Maka agak beda tingkatnya. Dan, juga tergantung jenis rumah. Kalau di sini gempa sudah pagi, sudah banyak di luar rumah,” kata Yusuf Kalla.
Namun bencana gempa dengan korban paling banyak terjadi Yogyakarta. Saat itu, gempa berlangsung pukul 05.00 WIB ketika masih banyak warga berada di dalam rumah.
“Artinya orang masih tidur. Rumah atap seng tidak timbulkan korban besar. Beda kalau atap genteng. Kena orang tidur. Itu ciri pengalaman menangani banyak bencana di Aceh, Padang dan Yogyakarta keyika masih menjabat Menko Kesra,” pungkas Yusuf Kalla. *
-
Ping-balik: Wali Kota Kupang Antar Rp 200 Juta dan 500 Paket Sembako ke Sikka – Dewadet
-
Ping-balik: KBM SMPN I Maumere Direlokasi ke SKB Maumere, PAUD Belajar di Rumah – Dewadet





