Bandara Waioti Berubah Bandara Frans Seda, Menhub Freddy Numberi: Agar Generasi Muda Tahu Hargai Pejuang

Pesawat NamAir ditumpangi Presiden ketujuh RI, Joko Widodo mendarat di Bandara Frans Seda, Rabu 16 September 2026. (dewadet.com/eginius moa).

MAUMERE,dewadet.com-Bandar Udara (Bandara) Frans Seda, 16 tahun yang lalu bernama Bandara Waioti merupakan nadi udara di Pulau Flores setelah Bandara El Tari di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Peran besarnya tatakala  gempa bumi dan tsunami melanda Maumere, 12 Desember 1992.

Bandara Frans Seda, merupakan nama baru yang dibaptis dari Bandara Waioti, pada hari Senin, 9 Agustus 2010 oleh Manteri Perhubungan, Freddy Numberi. Pergantian nama menjadi Bandara Frans Seda bersamaan Pelabuhan Sadang Bui berganti nama menjadi Pelabuhan Lorens Say.

Perubahan nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP.301 Tahun 2010 tanggal 11 Juni 2010. Sedangkan Pelabuhan Sadang Bui menjadi Pelabuhan Lorens Say berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan nomor KP.302 Tahun 2010.

Freddy Numberi, meresmikan bandara dan elabuhan itu mengatakan, penghargaan pemerintah kepada dua tokoh Kabupaten Sikka itu sebagai hal yang wajar. Namun penghargaan itu untuk menunjukkan kepada generasi muda agar perlu menghargai para tokoh atau pejuang yang telah membaktikan diri untuk daerah dan bangsa dikutip dari poskupang.com.

Baca juga:Frans Seda, Tokoh Tiga Zaman, Orde Lama, Orde Baru dan Era Reformasi

Frans Seda adalah tokoh nasional. Semasa hidupnya pernah memangku jabatan penting seperti Menteri Perhubungan dan Menteri Keuangan, sementara Lorens Say adalah mantan Bupati Sikka dua periode (1967-1977).

Gubernur NTT, Drs.  Frans Lebu Raya mengatakan pergantian nama bandara dan pelabuhan laut ini merupakan bentuk penghargaan dari pemerintah pusat terhadap dua putra terbaik asal Kabupaten Sikka.

“Kita semua mengenal siapa itu Frans Seda dan Lorens Say dengan baik. Mereka telah menyumbangkan gagasan yang cerdas untuk membangun daerah dan bangsa ini,” kata Frans Lebu Raya.

Frans berharap kedua tokoh ini bisa menjadi panutan bagi generasi muda untuk bangkit dan berjuang agar kelak bisa tampil menggantikan para pendahulu mereka.

Baca juga:Frans Seda Digelar Pahlawan Nasional

Sementara  sesepuh masyarakat Kabupaten Sikka, Daniel Woda Palle, mengatakan penghargaan terhadap kedua tokoh ini memang pantas. Kedua tokoh ini telah membesarkan Sikka hingga menghasilkan banyak orang penting.

Sementara Ny. Yohana Seda, istri almarhum Frans Seda mengatakan, Bandara Waioti punya jasa besar bagi NTT khususnya masyarakat di Pulau Flores.

Pada saat gempa bumi dan tsunami melanda Maumere, 12 Desember 1992, ketika semua lalulintas darat putus, Bandara Waioti menjadi satu-satunya pintu masuk bagi semua pihak untuk memberikan bantuan bagi para korban bencana alam.

“Bisa dibayangkan kalau pada saat itu tidak ada Bandara Waioti. Para korban akan mengalami penderitaan yang sangat panjang karena bala bantuan tidak segera tiba,” katanya.

Baca juga:Empat Penerbangan di Bandara Frans Seda Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki

Yohana Seda, pertama menginjakkan kaki di Bandara Waioti pada 1961, saat itu almarhum Frans Seda menjabat sebagai anggota DPR-GR/MPRS. Pesawat mendarat di landasan pacu masih dalam kondisi seadanya.

Ketika Frans Seda dipercayakan mengemban jabatan Menteri Perhubungan Kabinet Dwikora 1964, ia selalu mengingatkan agar daerah-daerah harus dibangun Bandara-bandara kecil agar bisa mendukung transportasi antar daerah.

“Bandara Waioti juga diberi perhatian dan hari ini sudah bisa didarati pesawat berbadan lebar. Kita harus bangga karena bandara ini banyak berjasa,” katanya.

Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah sepakat mengabadikan nama almarhum Frans Seda menjadi nama Bandara Maumere.

Peresmian Bandara Frans Seda dan Pelabuhan Lorens Say disaksikan  banyak pejabat dari tingkat pusat hingga daerah. Dirjen Dephub RI, Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang, Wabup Sikka, dr. Wera Damianus, M,M, Bupati Ende, Drs. Don Wangge, Wabup Nagekeo, Paulus Kadju, Wakil Walikota Kupang, Daniel Hurek, anggota DPR RI, Beny K Harman, Uskup Maumere, Mgr.Cherubiem Pareira, SVD. Selain keluarga besar Frans Seda dan Lorens Say dari Maumere dan Jakarta.

Frans Seda, tokoh  tiga zaman dari pemerintahn Orde Lama, Orde Baru dan Era Reformasi asal Kabupaten Sikka akan dianugerahi Pahlawan Nasional pada peringatakan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2026 di Jakarta. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan