BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bebas untuk Taat: Menjadi Hamba Kebenaran, Bukan Tawanan Kenyamanan
Rabu, 22 Oktober 2025. Hari Biasa Pekan XXIX. Roma 6:12-18; Lukas 12:39-48.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI dan saudara terkasih dalam Kristus. Kita hidup di zaman ketika kebebasan sering dimaknai sebagai “hak untuk melakukan apa saja.” Budaya digital menanamkan keyakinan bahwa selama tidak merugikan orang lain, semua boleh dilakukan.
Namun di balik semboyan “bebas berekspresi” itu, manusia perlahan kehilangan arah kebebasan sejati. Ia menjadikan diri pusat dari segala sesuatu dan menyingkirkan suara hati yang seharusnya menuntun pada kebenaran. Inilah wajah kebebasan tanpa arah — kebebasan yang justru berubah menjadi perbudakan terhadap ego, kesenangan, dan kenyamanan.
Mendiang Paus Fransiskus pernah mengingatkan, “Dosa tidak selalu menampakkan wajah jahat; sering ia datang dalam wujud kenyamanan yang menidurkan nurani.” Itulah tanda zaman kita: banyak yang merasa bebas, padahal sesungguhnya terikat oleh kebiasaan yang perlahan menjauhkan dari Allah.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma menegaskan bahwa kebebasan sejati bukan berarti tanpa batas, melainkan hidup dalam ketaatan kepada kebenaran. Ia menulis, “Kalian telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (Rm 6:18).
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menyalakan Pelita Iman di Tengah Gelapnya Zaman
Ini paradoks iman yang indah bahwa justru ketika kita tunduk kepada Allah, kita sungguh merdeka. Dosa menjanjikan kenikmatan, tetapi menjerat hati; sedangkan kasih karunia Allah menuntut penyerahan, tetapi melahirkan damai yang sejati.
Yesus dalam Injil Lukas menegaskan sikap yang sejalan: berjaga dan bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan. “Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut dari padanya.” (Luk 12:48).
Artinya, iman bukan hanya soal menunggu kedatangan Tuhan, tetapi juga soal kesetiaan dalam mengelola kepercayaan entah jabatan, waktu, harta, atau talenta. Tuhan tidak datang untuk menakuti, melainkan untuk menilai: sejauh mana kita hidup sebagai hamba kebenaran, bukan tawanan dosa.
Saudari dan saudara terkasih. Hidup beriman menuntut keberanian untuk memilih siapa yang kita layani: dosa yang menjerat atau Allah yang memerdekakan. Dunia modern menawarkan banyak bentuk “kebebasan” yang memikat, tetapi sering kali menuntun kita pada belenggu baru, yakni ambisi tanpa batas, kesenangan tanpa arah, dan karier tanpa nurani.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menabung di Lumbung Kasih Allah
Rasul Paulus mengingatkan bahwa kebebasan sejati justru lahir dari ketaatan kepada kebenaran. Ketika tunduk kepada Allah, kita tidak kehilangan jati diri, tetapi menemukan makna terdalam sebagai manusia yang merdeka dalam kasih.
Yesus menegaskan bahwa kebebasan tanpa tanggung jawab adalah kekosongan rohani. Setiap jabatan, waktu, dan talenta yang kita miliki bukan milik pribadi, melainkan amanat untuk dikelola demi kebaikan bersama. Maka, berjaga bukan sekadar menanti kedatangan Tuhan di ujung waktu, tetapi menjaga kesetiaan dalam tugas-tugas kecil setiap hari di kantor, di rumah, di tengah masyarakat.
Kini saatnya kita menata kembali arah hidup: dari kebebasan yang liar menuju kebebasan yang bermakna; dari keinginan untuk memiliki menuju kerelaan untuk melayani dan memberi. Sebab hanya mereka yang setia pada kebenaran akan menemukan kedamaian yang tidak bisa diberikan dunia, dan hanya mereka yang bekerja dengan iman dan integritas akan siap menyambut Tuhan yang datang setiap hari dalam perjumpaan sederhana dengan sesama.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Misionaris Pengharapan Di Antara Segala Suku Bangsa
“Kebebasan tanpa ketaatan hanyalah jalan menuju kekosongan, dan ketaatan tanpa kasih hanyalah beban bagi jiwa.”
“Kebebasan sejati bukanlah hak untuk berbuat sesuka hati, tetapi kekuatan untuk tetap setia pada kebenaran ketika dunia memuja kelonggaran.”
“Mereka yang tunduk kepada Allah bukan kehilangan kebebasan, tetapi justru menemukan damai yang tidak dapat dijanjikan oleh segala kenyamanan dunia.”
Tuhan memberkati kita.





