Selasa, 21 Oktober 2025. Hari Biasa Pekan XXIX. Roma 5:12,15b,17-19,20b-21; Lukas 12:35-38.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI  dan saudara terkasih dalam Kristus. Hidup kita terang benderang oleh layar, tetapi sering gelap oleh hati. Banyak orang terjaga semalaman bukan karena berdoa, tetapi karena dikejar kecemasan. Kita menanti banyak hal: promosi, kesuksesan, pengakuan namun sedikit yang sungguh menanti kedatangan Tuhan.

Mendiang Paus Fransiskus pernah berkata, “Kita sering hidup seolah Tuhan datang terlambat, padahal kitalah yang berhenti menunggu.” Sabda ini menampar kesadaran kita: apakah pelita iman kita masih menyala, atau sudah padam oleh rutinitas yang tanpa arah spiritual?

Dalam Injil, Yesus berbicara tentang sikap berjaga: “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” Ini bukan hanya perintah moral, melainkan sikap rohani: hidup dengan kesiapsiagaan yang penuh harapan.

“Pinggang berikat” berarti siap untuk bergerak, tidak terlena oleh kenyamanan ; “pelita menyala” berarti hati yang tetap berdoa, tetap beriman, tetap berbuat kasih kepada mereka yang menderita .

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menabung di Lumbung Kasih Allah

Hamba yang berjaga tidak menebak waktu kedatangan tuannya, tetapi menjaga kesetiaan dalam waktu yang lama, sepi, dan tak pasti, dan di situlah iman diuji: bukan pada saat ramai, tetapi dalam kesunyian kesetiaan.

Sementara itu, Rasul Paulus dalam Roma 5 mengingatkan kita akan dua wajah kehidupan: Adam dan Kristus. Melalui Adam, dosa masuk dan kematian merajalela; tetapi melalui Kristus, kasih karunia dan pembenaran melimpah bagi semua orang.

Rasul Paulus menghadirkan realitas yang menembus zaman: manusia terus jatuh dalam dosa yang sama, seperti egoisme, keserakahan, dan ketidakpedulian tetapi Allah tidak pernah berhenti menawarkan kasih yang menyelamatkan.

Ada paradoks indah di sini: ketika dosa bertambah, kasih karunia Allah justru melimpah lebih besar. Artinya, kegelapan dunia bukan alasan untuk padam, melainkan panggilan untuk menyalakan pelita iman lebih terang.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Misionaris Pengharapan Di Antara Segala Suku Bangsa

Saudari-saudara, berjaga bukan berarti hidup dalam ketakutan, tetapi dalam kesadaran kasih. Orang yang berjaga tahu bahwa hidupnya bukan milik sendiri. Ia tidak membiarkan dosa menidurkan nuraninya, melainkan terus menyalakan pelita iman melalui kejujuran, doa, dan pelayanan.

Maka, di tengah dunia yang lelah oleh kejaran hasil, kita dipanggil untuk menjadi penjaga harapan, hamba yang setia, yang membuka pintu saat Tuhan datang, baik lewat peristiwa besar, maupun dalam perjumpaan kecil setiap hari.

Marilah kita menyalakan kembali pelita iman di tengah gelapnya zaman dan menjaga pinggang kita tetap berikat dengan kesetiaan serta tanggung jawab.

Sebab hanya mereka yang tetap berjaga dalam iman dan kasih akan menyambut Tuhan dengan sukacita ketika Ia datang. Sebab berbahagialah hamba yang, ketika Tuhan datang, didapati masih berjaga, bekerja, berdoa, dan berharap dalam kasih yang tak pernah padam.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menulis Injil dengan Tinta Kehidupan: Kesetiaan yang Tak Lekang oleh Zaman

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Berjaga bukan sekadar menanti waktu Tuhan datang, tetapi menata hati agar selalu siap ketika Ia menyapa dalam setiap peristiwa hidup.”

”Di tengah dunia yang terang oleh layar namun gelap oleh hati, iman yang tetap menyala adalah satu-satunya pelita yang menuntun kita pulang kepada kasih Allah.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan