Jumat, 08 Mei 2026. Hari Biasa Pekan V Paskah. Kisah Para Rasul 15:22-31; Yohanes 15:12-17

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARA-saudari terkasih, dunia saat ini sering mengukur nilai seseorang dari apa yang tampak: kekayaan, jabatan, popularitas, prestasi, dan pengaruh. Orang dianggap berhasil bila dikenal banyak orang, dikagumi, atau memiliki kuasa untuk menentukan arah hidup orang lain. Akibatnya, tidak sedikit orang berjuang keras agar dipilih, diakui, dan diperhitungkan oleh dunia.

Namun, Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa ukuran Allah berbeda. Dunia mungkin memilih orang karena apa yang tampak di luar, tetapi Kristus memilih kita karena kasih-Nya. Ia memilih kita bukan untuk menjadi terkenal, melainkan untuk diutus menghasilkan buah yang baik bagi sesama.

Dalam bacaan pertama, para rasul dan penatua di Yerusalem mengambil keputusan penting bagi jemaat di Antiokhia. Mereka tidak ingin membebani orang-orang bukan Yahudi yang baru percaya kepada Kristus dengan tuntutan yang tidak perlu. Maka, mereka mengutus Yudas Barsabas dan Silas bersama Paulus dan Barnabas untuk membawa surat peneguhan.

Keputusan itu lahir dari doa, kebijaksanaan, dan tuntunan Roh Kudus. Mereka berkata, “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Tengah Gaduh Dunia,Tinggallah dalam Kasih

Di sini kita belajar bahwa Gereja yang sejati bukanlah komunitas yang suka menambah beban, melainkan komunitas yang menuntun orang kepada keselamatan dengan kasih. Keputusan yang lahir dari Roh Kudus tidak menindas, tetapi membebaskan; tidak memecah, tetapi menyatukan; tidak membuat orang takut, tetapi menghadirkan sukacita.

Dalam Injil, Yesus menyampaikan perintah yang sangat mendalam: “Kasihilah seorang akan yang lain seperti Aku telah mengasihi kamu.” Kasih yang diminta Yesus bukan kasih yang dangkal, bukan sekadar perasaan baik, melainkan kasih yang rela berkorban. Yesus bahkan berkata bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.

Lalu Yesus menyebut para murid bukan lagi hamba, melainkan sahabat. Seorang hamba hanya menjalankan perintah, tetapi seorang sahabat diajak masuk ke dalam kedekatan, kepercayaan, dan isi hati Tuhan. Karena itu, menjadi sahabat Yesus berarti hidup kita harus mencerminkan hati-Nya: mengasihi, mengampuni, membawa damai, dan tidak menambah luka dalam hidup sesama.

Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan hari ini menegaskan bahwa kita dipilih bukan untuk hidup bagi diri sendiri, melainkan untuk diutus menghasilkan buah. Buah itu adalah kasih, sukacita, damai, kesabaran, kebaikan, pengampunan, dan pelayanan yang tulus.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Melekat. Dimurnikan, dan Berbuah

Maka, jangan biarkan hidup kita hanya mengejar pengakuan dunia yang mudah hilang. Jangan pula menjadi orang beriman yang justru membebani sesama dengan kata-kata keras, sikap menghakimi, atau ego yang sulit dikalahkan.

Kita dipanggil untuk menjadi sahabat Kristus yang menghadirkan kasih-Nya dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, dan Gereja. Hidup yang berbuah bukanlah hidup yang paling banyak dipuji, melainkan hidup yang membuat orang lain merasakan bahwa Allah itu dekat, lembut, dan menyelamatkan.

Semoga hari ini kita berani memilih jalan kasih, sebab hanya kasih yang lahir dari Kristus akan tinggal sebagai buah yang abadi.

Petikan BUSA-H untuk kita: 

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Damai yang Menguatkan di Tengah Kesulitan

”Kristus memilih kita bukan agar dunia memuji kita, melainkan agar hidup kita menjadi buah kasih yang menguatkan sesama.”

”Menjadi sahabat Yesus berarti membiarkan hati kita dibentuk oleh kasih-Nya, hingga kata, sikap, dan tindakan kita menghadirkan damai.”

”Hidup yang berbuah bukanlah hidup yang paling dikenal, melainkan hidup yang membuat orang lain merasakan bahwa Allah sungguh dekat dan menyelamatkan.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan