Selasa, 07 Juli 2026. Hari Biasa Pekan XIV. Kitab Hosea 8:4-7.11-13; Matius 9:32-38

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, tidak semua kebutaan terjadi pada mata, dan tidak semua bisu terjadi pada mulut. Ada hati yang tidak lagi mampu melihat karya Allah, dan ada hidup yang kehilangan keberanian untuk mewartakan kebaikan-Nya.

Itulah kebutaan dan kebisuan rohani yang kadang membuat kita sulit bersyukur, lambat mengenali rahmat, dan takut menyuarakan kebenaran. Di situlah Allah terus berkarya, membuka mata batin dan menghidupkan kembali suara iman yang lama terdiam.

Hosea menggambarkan kesedihan Allah melihat umat yang sibuk membangun kehidupan tanpa melibatkan-Nya. Mereka mengangkat raja tanpa bertanya kepada Allah, membuat berhala dari emas dan perak, serta memperbanyak mezbah, tetapi justru semakin menjauh dari-Nya.

Dosa terbesar Israel bukan sekadar menyembah berhala, melainkan menggantikan Allah dengan hasil ciptaannya sendiri. Mereka lebih percaya pada kekuatan yang mereka buat daripada kepada Dia yang menciptakan mereka. Akibatnya, seperti kata Hosea, “Mereka menabur angin, maka mereka menuai puting beliung.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Tidak Pernah Terlambat

Setiap pilihan selalu membawa akibat. Hati yang sombong dan menjauh dari Allah akan kehilangan arah, dan apa yang ditabur dalam kesombongan akan berbuah kehancuran.

Dari hati yang kehilangan arah itu, Yesus membawa kita kepada pemulihan yang mengagumkan. Seorang bisu yang kerasukan dibawa kepada-Nya, lalu Yesus mengusir setan itu sehingga orang itu dapat berbicara kembali.

Orang banyak berseru, “Hal semacam itu belum pernah dilihat orang di Israel!” Mereka tidak berkata, “Belum pernah didengar,” melainkan, “Belum pernah dilihat.”

Mukjizat itu bukan hanya mengubah hidup seorang bisu, tetapi juga membuka mata banyak orang untuk mengenali karya Allah yang hadir di tengah mereka. Mukjizat sejati bukan hanya terjadi pada orang yang disembuhkan, melainkan juga pada hati yang akhirnya mampu melihat kehadiran Tuhan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kelegaan: Saat Kristus Ikut Memikul Beban Kita

Namun tidak semua mata melihat dengan cara yang sama. Orang banyak memuji karya Allah, sedangkan orang Farisi justru menuduh Yesus bekerja dengan kuasa penghulu setan.

Peristiwa yang sama melahirkan dua tanggapan yang berbeda karena hati yang melihatnya pun berbeda. Hati yang rendah akan menemukan alasan untuk bersyukur, sedangkan hati yang dipenuhi iri dan prasangka akan selalu menemukan alasan untuk menolak.

Karena itu, yang paling membutuhkan mukjizat sering kali bukan keadaan di sekitar kita, melainkan cara kita memandang karya Allah.

Saudari dan saudara terkasih, Yesus masih terus berkarya hingga hari ini. Ia membuka mata yang tertutup oleh kesombongan, membebaskan mulut yang lama terdiam untuk mewartakan kebaikan, dan memulihkan hati yang kehilangan harapan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman Tidak Hanya Dipertahankan, Tetapi Harus Selalu Diperbarui

Marilah kita memohon rahmat agar tidak hanya menjadi saksi mukjizat, tetapi juga menjadi pribadi yang berubah oleh mukjizat itu. Hati yang mampu melihat karya Allah akan selalu menemukan alasan untuk bersyukur, melayani, dan menghadirkan harapan bagi sesama.

Petikan BUSA-H untuk kita #07/07/2026@

“Mukjizat terbesar bukan hanya kesembuhan tubuh, melainkan hati yang kembali mampu melihat karya Allah di tengah hidup.”

“Hati yang dipenuhi kesombongan akan selalu mencari alasan untuk menolak, tetapi hati yang rendah akan selalu menemukan alasan untuk bersyukur.”

Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Luka yang Melahirkan Iman

“Apa yang kita tabur dalam hati, itulah yang akan kita tuai dalam hidup; karena itu taburlah iman, kerendahan hati, dan kasih.”

“Kristus tidak hanya membuka mulut yang bisu, tetapi juga membuka mata batin agar kita berani melihat, percaya, dan mewartakan kebaikan-Nya.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan