BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kelahiran Maria Awal Perjumpaan Baru Allah dengan Umat-Nya
Senin, 08 September 2025. Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Nubuat Mikha 5:1-4a; Matius 1:1-16.18-23 (1:18-23).
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Ada sosok yang tak tergantikan dalam hidup kita, yakni ibu. Dari ibu, kita dilahirkan; melalui kasih dan pengorbanannya, kita pertama kali merasakan wajah Allah yang penuh cinta.
Sering kali kita baru menyadari betapa berharganya seorang ibu ketika kita jauh dari pelukannya atau ketika hidup membuat kita terjatuh. Sosok ibu selalu mempesona, sebab ia menghadirkan kehangatan Allah yang menyelamatkan.
Demikian pula Maria: ia bukan hanya ibu Yesus, tetapi juga ibu kita. Melalui dirinya, kasih Allah hadir, bukan dengan kuasa dan kemegahan duniawi, melainkan dalam keheningan, kerendahan hati, dan pelayanan yang tulus.
Nubuat Mikha menyingkapkan janji Allah tentang seorang gembala yang akan memimpin umat-Nya dengan kekuatan Tuhan dan membawa damai sejahtera. Janji itu mencapai kepenuhannya dalam Yesus Kristus, yang lahir dari rahim Maria, seorang perawan sederhana dari Nazaret.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kelahiran Maria Awal Perjumpaan Baru Allah dengan Umat-Nya
Bukankah ini tanda indah bahwa Allah bekerja melalui yang kecil, lemah, dan sederhana? Maria menjadi teladan nyata: kerendahan hatinya membuka jalan bagi karya keselamatan yang besar.
Penginjil Matius menegaskan melalui silsilah panjang bahwa Allah setia bekerja dalam sejarah manusia, bahkan melalui garis keturunan yang sarat dengan kelemahan. Dari rahim Maria, lahirlah Yesus, Sang Immanuel—Allah yang menyertai kita. Inilah kabar baru yang menggugah: Allah tidak hadir melalui jalan yang megah, melainkan melalui kesederhanaan seorang ibu yang taat.
Dalam Maria, dimulai perjumpaan baru antara Allah dan manusia, perjumpaan yang menghadirkan damai, harapan, dan penyertaan abadi.
Maka, saudari dan saudara terkasih, merayakan kelahiran Santa Perawan Maria bukan sekadar mengenang seorang tokoh besar, melainkan undangan untuk membuka hati seperti Maria, agar Allah terus lahir dalam hidup kita. Dunia yang letih dan gelisah ini membutuhkan kesetiaan, harapan, dan kasih yang sejati.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Allah Sumber Relasi yang Memerdekakan
Menghormati Maria berarti juga belajar menghormati ibu kita masing-masing. Melalui ibu, kasih Allah mengalir dalam sentuhan, doa, dan pengorbanan tanpa pamrih. Dari Bunda Maria kita belajar kesetiaan menjalani rencana Allah, agar kita pun berani setia pada panggilan hidup dan menghadirkan kasih Allah dalam keseharian. Sebab di manapun ada hati yang tulus mengasihi, di situlah Allah hadir menyertai umat-Nya.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Seorang ibu adalah wajah pertama Allah yang kita kenal; melalui pelukan dan pengorbanannya, kita belajar arti kasih yang sejati.”
”Dalam kerendahan hati Maria, Allah memilih tinggal; dalam kesetiaannya, kita menemukan teladan bagaimana kasih Allah menjelma dalam hidup sehari-hari.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eugenius Moa





