Lima Kandidat Calon Paus Pengganti Paus Fransiskus
JAKARTA, dewadet.com-Vatikan menggelar konklaf atau proses untuk memilih Paus yang baru di Kapel Sistina, Rabu 7 Mei 2025.
Konklaf dilakukan setelah Kepala Negara Vatikan sekaligus Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus, meninggal dunia pada Senin (21/4/2025).
Merujuk pada akun Instagram resmi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), konklaf dimulai dengan misa kudus pukul 10.00 waktu setempat atau 15.00 WIB.
Prosesi konklaf dilanjutkan dengan melantunkan Veni Creator, menutup pintu Kapel Sistina, dan pemilihan Paus.
Baca Juga: Kardinal Suharyo Soal Kemungkinan Terpilih Jadi Paus: “Peluang Saya Nol Koma Nol”
Siapa saja kardinal yang menjadi kandidat terkuat Paus? Beriut lima nama calon yang digadang-gadang menggantikan mendiang Paus Fransiskus.
1.Uskup Agung Bologna Kardinal Mateo Zuppi (69 tahun)
Dilansir dari Majalah Time, Selasa (6/5/2025), Zuppi dianggap sebagai salah satu kandidat terkuat pengganti Paus Fransiskus.
Ia memiliki kedekatan dengan Paus Fransiskus sehingga digadang-gadang siap untuk meneruskan kepemimpinan pendahulunya. Zuppi pernah diangkat menjadi Uskup Agung Bologna, Italia oleh Paus Fransiskus pada 2015.
Baca Juga: Kardinal Sedunia Bahas Tantang Dihadapi Paus Baru:
Jabatan yang diemban Zuppi menjadi salah satu posisi paling berpengaruh di Italia. Setelah itu, Zuppi ditunjuk sebagai Presiden Konfederasi Uskup pada 2022.
Paus Fransiskus kemudian memberikan tugas baru kepada Zuppi kepada utusan perdamaian untuk urusan Ukraina pada 2023.
- Menteri Luar Negeri Vatikan Kardinal Pietro Parolin (70 tahun)
Media-media di Italia menggambarkan Parolin sebagai pewaris Paus Fransiskus. Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai seorang diplomat kawakan untuk Vatikan dan pernah bertugas di Venezuela, Nigeria, dan Meksiko.
Baca Juga: Mengenal Kapel Sistina, Tempat Konklaf Pemilihan Pengganti Paus Fransiskus
Ia juga dipandang sebagai seorang moderat yang bijaksana seperti Paus Fransiskus yang berfokus pada demokrasi, HAM, dan kemanusiaan.
- Kardinal Robert Francis Prevost (69 tahun)
Sepanjang sejarah Vatikan, belum pernah ada Paus yang berasal dari Amerika. Meski begitu, nama Prevost dipertimbangkan sebagai salah satu Paus yang baru.
Baca Juga: Kapel Sistina Pasang Cerobong Asap Menjelang Pemilihan Paus
Pasalnya, Prevost menjabat sebagai kepala kelompok penasihat utama Fransiskus dalam memilih uskup baru. Posisi tersebut memberikan Prevost keuntungan karena namanya dikenal luas.
Prevost juga bertugas sebagai misionaris di Peru di awal perjalanannya sebagai imam sebelum pindah ke posisi kepemimpinan di Vatikan.
- Mantan Uskup Agung Filipina Kardinal Luis Antonio Gokim Tagle (69 tahun)
Tagle juga masuk bursa Paus yang baru setelah ia dipandang sebagai “bintang” yang sedang naik daun di Gereja Katolik.
Sejak pengangkatannya pada 1997, dalam kelompok teolog Katolik terpilih yang memberikan bimbingan kepada para pemimpin gereja mengenai pertanyaan-pertanyaan teologis utama.
Jika hasil konklaf menetapkan Tagle sebagai pengganti Paus Fransiskus, ia akan menjadi Pemimpin Gereja Katolik pertama yang berasal dari Asia.
- Kardinal Peter Kodwo Appiah Turkson (76 tahun)
Turkson merupakan penasihat dekat Paus Fransiksus dalam ensiklik “Laudato Si” yang berisi prinsip untuk merawat Bumi sebagai rumah bersama. Turkson juga mewakili kelanjutan warisan keadilan sosial dan lingkungan progresif Fransiskus.
Menurut Profesor Teologi di Boston College, Richard Lennan, Turkson akan menjadi pilihan yang benar-benar menarik dalam konklaf tahun ini. Lennan juga mengatakan, Turkson memiliki komitmen yang kuat terhadap keadilan sosial dan melakukan apa saja yang harus dilakukan. “Ia memenuhi semua kriteria Fransiskus.
Diikuti 133 Kardinal Elektoral
Dilansir dari Kompas.co.id Selasa (6/5/2025), konklaf akan diikuti oleh 133 kardinal dari seluruh dunia. Kardinal dapat mengikuti konklaf apabila usianya di bawah 80 tahun.
Indonesia mengirimkan satu wakil, yaitu Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo.
Sebanyak 133 kardinal peserta konklaf disebut sebagai kardinal electoral dan memiliki hak untuk dipilih/memilih Paus yang baru.
Selama konklaf berlangsung, para kardinal tidak diperbolehkan keluar dari Kapel Sistina sampai Paus yang baru terpilih.
Syarat seorang kardinal terpilih sebagai Paus adalah memperoleh dua pertiga suara dari para elektor.
Jika Paus yang baru sudah terpilih, akan keluar asap putih dari cerobong asap Kapel Sistina.
Setelah itu, Paus terpilih akan menyapa umat Katolik yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. (Kompas.com)
Penulis: Eginius Moa
Editor: Eginius Moa





