Siap-Siap!Festival Jelajah Maumere Usung Tema Wini Ronan, Lumbung Benih
MAUMERE,dewadet.com-Festival Jelajah Maumere 2025 semula dijadwalkan menyuguhkan atraksi budaya dan kuliner kepada tim balap Tour De EnTete tetap digelar pada 17-20 September 2025, meski balapan etape enam dan tujuh dari Larantuka-Maumere dan Maumere Ende.
Rencana awal, balap sepeda Tour de EnTete akan menjajal Pulau Flores pada 17 September 2025 setelah balapan di Pulau Sumba. Etape enam melakukan start dari Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur dan finish di Kota Maumere.
Balapan etape pertama di Pulau Flores ini urun dilombakan karena kekhawatiran erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur. Gunung api aktif ini masih erupsi secara terus-menerus sejak tahun lalu sampai saat ini.
Sementara etape tujuh akan start dari Kota Maumere akan finis di Kota Ende tanggal 18 September 2025 terkendala longsor panjang pada beberapa segmen di wilayah Kabupaten Ende.
Baca juga: Satu Abad Watu Gamba, Pesan Perempuan Cantik dari Titik Nol Pulau Flores di Km 17 Ende-Maumere
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Even Edomeko, mengatakan Festival Jelajah Maumere tetap digelar selama tiga hari pada 17-20 September.
“Memang semula festival akan memberi suguhan budaya dan hiburan kepada tim balap Tiour De EnTeTe, tapi ancaman letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki dan longsor mengharuskan etape enam Larantuka-Maumere dan etape tujuh Maumere-Ende dibatalkan,” kata Even Edomeko, Rabu siang 10 September 2025.
Festival Jelajah Maumere memasuki tahun ketiga sejak 2023, kata Even Edomeko menjadi ajang promosi pariwisata, budaya dan karya ekonomi kreatif dari UMKM di Sikka. Festival 2025 mengusung tema Wini Ronan (g) artinya Lumbung Benih juga sejalan dengan program besar Presiden RI, Prabowo Subianto membangun ketahanan pangan.
Even Eddomeko mengatakan dari perspektif budaya, banyak sekali ritus-ritus adat yang lahir dari pertanian berladang yang diwariskan dari nenek moyang sampai saat ini.
Baca juga:“Ria Rago” Film Kawin Paksa di Flores dan Niat Gubernur NTT Bangun Monumen Film di Ndona
“Salah satunya tarian Sako Seng (cangkul kebun) persiapan lahan. Semua tahapan berladang sampai panen terdapat pada ritus-ritus adat yang masih terjaga sampai saat ini,” kata Even Edomeko
Demikian juga ketika tanaman padi, jagung di ladang terserang hama, wilayah tertentu di Kabupaten Sikka punya ritual mengusir hama belalang, tikus dan penyakit lainnya.
Pada masyarakat Desa Ian Tena di Kecamatan Kangae, ada ritius mengusir hama mengunakan Jong Dobo. Kemudian masyarakat Lio memiliki ritual Tu Teu, ritus menghalau tikus memakan tanaman.
Festival ini berpusat di Lapangan Kota Baru, Kota Maumere menghadiri suku-suku besar yakni Suku Krowe, Lio, Palue, Tana Ai, dan suku pendatang Bugis, Bajo dan Buton yag telah menetap turun-temurun di Sikka. *





