Selasa, 16 September 2025. Peringatan Wajib St. Kornelius, Paus-Martir dan Siprianus, Uskup-Martir
Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius 3:1-13; Lukas 7:11-17.

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARI-saudara terkasih. Hidup kita sekarang ini penuh dengan kejatuhan. Ada orang yang jatuh dalam dosa karena keserakahan, ada keluarga yang runtuh karena kehilangan arah, ada masyarakat yang roboh karena korupsi dan ketidakadilan.Tidak sedikit orang jatuh dalam keputusasaan karena merasa tidak lagi dihargai, tidak lagi dianggap, atau tidak lagi punya harapan.

Di tengah realitas ini, kita sering bertanya: siapa yang bisa membangkitkan kita kembali, siapa yang mau menolong tanpa pamrih, siapa yang berani melayani bukan demi gengsi, melainkan demi kasih?

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius menegaskan bahwa menjadi pemimpin dalam jemaat adalah sebuah pekerjaan yang mulia. Tetapi Paulus mengingatkan, kemuliaan itu bukan soal jabatan atau pujian, melainkan soal tanggung jawab untuk mengurus dengan hati seorang bapa yang setia.

“Jika seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimana mungkin ia mengurus jemaat Allah?” (1Tim 3:5). Artinya, pelayanan sejati berawal dari kesetiaan dalam hal kecil, dalam keluarga, dalam keseharian, bukan sekadar pencitraan di ruang publik. Pemimpin yang sejati adalah dia yang mau berkorban, menjaga integritas, dan melayani dengan kasih, bukan dengan ambisi.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Maria Berduka Cita: Harapan yang Tidak Mengecewakan

Injil Lukas hari ini menyingkapkan wajah Allah yang penuh belaskasih. Yesus berjumpa dengan seorang janda di Nain yang baru saja kehilangan anak tunggalnya. Dalam tangisan duka, Yesus mendekat, tergerak oleh belas kasihan, dan berkata: “Hai Pemuda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Luk 7:14).

Dan, pemuda itu bangkit. Inilah puncak pelayanan Yesus: memberi kehidupan, bukan sekadar kata-kata; menghadirkan pengharapan, bukan sekadar penghiburan semu. Pelayanan sejati selalu membangkitkan, bukan menjatuhkan; menghidupkan, bukan mematikan; menguatkan, bukan melemahkan.

Hari ini kita mengenang St. Kornelius dan St. Siprianus, dua gembala yang berani menyerahkan nyawanya demi kawanan domba Kristus. Mereka adalah contoh nyata bahwa pelayanan bukan mencari kehormatan, melainkan berani menderita bahkan mati demi iman.

Dari mereka kita belajar bahwa kepemimpinan Kristiani bukanlah soal gengsi atau status, melainkan keberanian untuk berdiri di sisi Kristus dan umat-Nya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Buah Kasih dari Hati yang Tulus

Saudari-saudara, kita semua, entah sebagai imam, biarawan-biarawati, bapak-ibu keluarga, atau kaum muda, dipanggil untuk pelayanan yang membangkitkan. Dunia ini sudah cukup penuh dengan kata-kata yang menjatuhkan, berita yang melemahkan, dan kepemimpinan yang hanya mencari keuntungan diri.

Tetapi iman mengajak kita untuk berbeda: menjadi orang yang menghadirkan kasih, harapan, dan kehidupan baru. Maka marilah kita melayani dengan hati yang tulus, tanpa pamrih, dengan keberanian yang menghidupkan. Dunia ini tidak hanya butuh pemimpin besar, tetapi juga umat beriman yang berani hidup mulia: melayani dengan kasih, memimpin dengan teladan, dan membangkitkan yang jatuh dengan iman dan harapan.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Pelayanan sejati bukanlah soal gengsi atau kehormatan, melainkan keberanian untuk mengulurkan tangan dan membangkitkan yang jatuh dengan kasih Kristus.”

”Di tengah dunia yang penuh kejatuhan, iman memanggil kita untuk menjadi wajah belas kasih Allah yang membangkitkan dan suara yang menghidupkan.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan