Test DNA Fakultas Kedokteran Universitas Kairo, Raja Firaun Meninggal Terserang Malaria
Dewadet.com- Tutankhamun atau Raja Firaun merupakan tokoh paling terkenal dalam sejarah zaman Mesir kuno. Konon, ia naik takhta pada usia sembilan tahun dan meninggal di usia 18 atau 19 tahun.
Namanya melejit setelah arkeolog Inggris Howard Carter menemukan makamnya pada 1922, lengkap dengan lebih dari 5.000 artefak yang hampir tak tersentuh waktu.
Sejak penemuan itu, para ahli terus meneliti jasadnya untuk mengungkap misteri di balik kematiannya yang mendadak lebih dari 3.300 tahun lalu.
Kini, para ilmuwan telah mengungkap penyebab kematian Raja Tutankhamun menggunakan metode analisis DNA terbaru. Adapun analisis genetik ini dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Kairo yang bekerja sama dengan dua spesialis DNA Jerman.
Baca Juga: Paus Leo XIV Telepon Presiden Zelensky Bahas Ribuan Anak Ukraina Dideportasi ke Rusia
Apa Penyebab Raja Tutankhamun Meninggal?
Dilansir The Jerusalem Post pada Rabu (9/4/2025), penelitian menunjukkan bahwa Raja Tutankhamun atau sosok firaun muda itu meninggal akibat infeksi malaria yang berulang.
“Hasil uji DNA menunjukkan bahwa Raja Tutankhamun terinfeksi malaria, yang disebut berkontribusi besar pada kematiannya,” ujar Direktur Umum Pameran Tutankhamun, Tim Batty.
Batty menjelaskan, bahwa hal itu bukanlah satu peristiwa tragis, melainkan akibat dari beberapa infeksi malaria dari waktu ke waktu. Malaria merupakan penyakit umum yang seringkali berakibat fatal di Mesir kuno, terutama karena keterbatasan pengobatan di masa itu.
Selain penyakit malaria, para ilmuwan juga menemukan penyebab lain dari kematian raja Mesir kuno itu. “Selain garis keturunannya, tes DNA juga mengungkap riwayat penyakit dan gangguan bawaan yang dideritanya pada masa lampau,” lanjut dia.
Baca juga: Paus Leo XIV Akan Terima Cincin Nelayan, Simbol Penerus Santo Petrus
Surat kabar The Guardian pada 2010 lalu juga pernah melaporkan bahwa penyakit malaria diyakini sebagai salah satu penyebab kuat di balik kematian Raja Tutankhamun.
Dugaan ini diperkuat oleh temuan serupa pada sejumlah mumi lain dari masa yang sama, yang juga menunjukkan tanda-tanda infeksi malaria.
Analisis DNA 11 Mumi
Sementara itu sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association (2010) oleh Zahi Hawass mengungkap lebih jauh tentang penyakit dan kemungkinan penyebab kematian di masa pemerintahan Firaun Akhenaten dan Tutankhamun.
Baca juga: Kenali Ordo Agustinian, Ordo Paus Leo XIV
Penelitian ini melibatkan analisis DNA pada 11 mumi kerajaan yang diperkirakan hidup antara tahun 1410–1324 SM. Mumi-mumi tersebut diyakini memiliki hubungan darah dengan Tutankhamun.
Untuk memastikan keakuratannya, proses autentikasi DNA dilakukan berulang kali di laboratorium, termasuk uji replikasi.
Hasil studi menunjukkan bahwa Tutankhamun menderita penyakit Kohler II, yakni kelainan langka pada tulang kaki yang menyebabkan kaki pengkor. Kelainan ini diperparah oleh kondisi fisik lain seperti skoliosis dan kerusakan serius pada kaki kiri.
Para peneliti menduga kuat bahwa masalah-masalah kesehatan tersebut merupakan dampak dari praktik perkawinan sedarah antara kedua orang tuanya.
Baca Juga: Kenapa Paus Leo XIV Punya Julukan ‘Father Bob’
Hal ini semakin diyakini setelah ditemukannya lebih dari 130 tongkat di makam Tutankhamun yang bisa menunjukkan bahwa sang raja muda telah mengalami kesulitan berjalan sejak usia dini.
“Tutankhamun kerap digambarkan sebagai raja muda yang tampan dan anggun. Namun kenyataannya, kondisi fisiknya jauh dari gambaran itu,” ujar Zahi Hawass, arkeolog Mesir yang memimpin studi tersebut.
Sejarawan medis dari Universitas Michigan, Howard Markel, menambahkan bahwa penyakit-penyakit yang diderita Tutankhamun sangat mungkin muncul akibat pernikahan antar kerabat dekat.
Menurutnya, praktik ini memang lazim dilakukan di kalangan bangsawan Mesir kuno demi menjaga kemurnian garis keturunan. Meski telah wafat lebih dari tiga milenium silam, sosok Tutankhamun tetap menyisakan banyak misteri.
Namun berkat kemajuan teknologi medis dan genetika, sedikit demi sedikit tabir kehidupannya mulai terungkap. (kompas.com)
Penulis: Eginius Moa
Editor: Eginius Moa




