Senin, 22 Juni 2026. Hari Biasa Pekan XII. Kitab Kedua Raja-Raja 17:5-8.13-15a.18; Matius 7:1-5

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, bacaan pertama hari ini memperlihatkan tragedi yang tidak lahir dalam satu malam. Kerajaan Israel runtuh bukan pertama-tama karena kekuatan musuh, melainkan karena ketegaran hati yang berlangsung lama.

Allah berulang kali mengutus para nabi untuk mengingatkan mereka, tetapi mereka tidak mau mendengarkan. Kalimat ini sangat menyentuh, “Mereka bertegar hati seperti nenek moyangnya yang tidak percaya kepada Tuhan, Allah mereka.”

Ternyata lawan terbesar iman bukanlah penderitaan, melainkan hati yang tidak lagi mau mendengar. Ketegaran hati membuat seseorang merasa sudah tahu segalanya, sehingga tidak lagi memberi ruang bagi Allah untuk berbicara.

Di situlah awal dari banyak kejatuhan rohani. Bukan karena Allah berhenti berbicara, melainkan karena hati berhenti mendengarkan.

Baca juga:BUSA-H  (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Kehilangan Dirimu Sendiri

Injil hari ini membawa kita kepada gambaran yang sangat kuat. Yesus berbicara mengenai selumbar dan balok. Biasanya kita menganggap selumbar di mata sesama sebagai masalah besar, sementara balok dalam diri sendiri dianggap biasa.

Padahal Yesus justru membalik cara pandang itu. Selumbar memang mengganggu, tetapi balok jauh lebih berbahaya. Selumbar masih dapat dilihat dan disadari. Balok sering kali tidak disadari karena sudah menyatu dengan cara berpikir dan cara menilai.

Itulah sebabnya Yesus tidak pertama-tama melarang kita menolong sesama, melainkan mengajak kita membersihkan mata hati terlebih dahulu agar mampu melihat dengan jernih.

Saudari dan saudara terkasih, jika direnungkan lebih dalam, ketegaran hati dalam bacaan pertama dan balok dalam Injil sebenarnya berbicara mengenai penyakit rohani yang sama. Keduanya membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk melihat dirinya sendiri secara jujur.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Harta Hati,Pelita Hidup

Ketegaran hati membuat telinga tertutup terhadap suara Allah. Balok membuat mata tertutup terhadap kebenaran diri sendiri. Yang satu menghalangi kita mendengar, yang lain menghalangi kita melihat.

Dan di antara keduanya, yang paling berbahaya bukanlah kesalahan yang tampak di luar, melainkan kebutaan batin yang membuat kita merasa tidak membutuhkan pertobatan lagi.

Hati yang keras dan mata yang tertutup dapat membuat seseorang rajin beribadah, tetapi sulit berubah; pandai menilai sesama, tetapi enggan menilai dirinya sendiri.

Saudari dan saudara terkasih, dunia saat ini tidak kekurangan kritik, tetapi sering kekurangan refleksi diri. Kita mudah menemukan kesalahan orang lain, tetapi lambat mengenali luka, kesombongan, dan kelemahan yang tersembunyi dalam diri sendiri.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Doa: Ruang Relasi, Bukan Transaksi

Hari ini Tuhan mengajak kita bukan untuk menjadi hakim bagi sesama, melainkan peziarah yang terus bertobat. Sebelum melihat selumbar di mata saudara kita, marilah memohon agar Tuhan terlebih dahulu menyingkirkan balok dari mata hati kita.

Hanya hati yang rendah hati yang mampu mendengar suara Allah, dan hanya mata yang jernih yang mampu melihat sesama dengan kasih. Di situlah terang Allah mulai bekerja dan mengubah hidup kita.

Petikan BUSA-H untuk kita #22/06/26@:

”Allah terus mengetuk pintu hati, tetapi ketegaran selalu menutup telinga untuk mendengarkan suara-Nya.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Yang Sunyi Yang Berkenan

”Mata yang sibuk mencari selumbar pada sesama sering lupa bahwa balok dalam dirinya sedang menutup jalan menuju terang.”

“Selumbar di mata sesama mungkin mengganggu pandanganmu, tetapi balok dalam matamu sendiri dapat membuatmu buta total.”

”Pertobatan sejati dimulai saat kita berani melihat balok dalam diri sendiri sebelum menunjuk selumbar pada sesama.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan