BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mutiara yang Tidak Boleh Hilang
Selasa, 23 Juni 2026. Hari Biasa Pekan XII.Kitab Kedua Raja-Raja 19:9b-11.14-21.31-35a.36; Matius 7:6.12-14.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, bacaan pertama hari ini memperlihatkan sebuah pemandangan yang sangat indah. Raja Hizkia menerima surat ancaman dari Sanherib, lalu membawanya ke hadapan Tuhan dan membentangkannya di dalam Bait Allah.
Menarik bahwa Hizkia tidak pertama-tama membentangkan kekuatannya, melainkan membentangkan ketakutannya. Ia tidak berpura-pura kuat. Ia tidak menyembunyikan kegelisahannya. Ia membawa seluruh beban hidupnya ke hadapan Allah.
Di sinilah letak kebesaran iman. Bukan pada kemampuan mengatasi segala persoalan sendirian, melainkan pada keberanian menyerahkan apa yang tidak mampu kita tanggung sendiri kepada Tuhan.
Dari doa yang sederhana itu lahirlah sebuah keajaiban. Allah bertindak bukan karena Hizkia kuat, melainkan karena ia percaya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Balok dan Selumbar
Dalam Injil, Yesus mengucapkan sabda yang sekilas terdengar keras, “Janganlah kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan janganlah kamu melemparkan mutiaramu kepada babi.”
Sabda ini bukan ajakan untuk merendahkan siapa pun. Yesus sedang mengingatkan bahwa ada hal-hal yang begitu berharga sehingga tidak boleh diperlakukan sembarangan. Mutiara yang dimaksud bukan hanya ajaran iman, tetapi juga hati nurani, martabat diri, kasih, kepercayaan, dan relasi kita dengan Allah.
Banyak orang kehilangan damai bukan karena tidak memiliki sesuatu yang berharga, melainkan karena menyerahkan mutiara hidupnya kepada hal-hal yang tidak mampu menghargainya.
Ada yang menukar kejujuran demi keuntungan sesaat. Ada yang mengorbankan integritas demi penerimaan. Ada yang melepaskan iman demi kenyamanan. Mutiara yang hilang sering tidak dirampas; ia justru dilepaskan sedikit demi sedikit.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Kehilangan Dirimu Sendiri
Lalu Yesus melanjutkan dengan sabda yang sangat terkenal, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”
Menarik bahwa kedua ajaran ini berdiri berdampingan. Di satu sisi, Yesus meminta kita menjaga mutiara yang berharga dalam hidup. Di sisi lain, Ia meminta kita memperlakukan sesama dengan kasih dan penghormatan.
Artinya, menjaga nilai-nilai yang suci tidak membuat hati menjadi tertutup. Sebaliknya, hati yang sungguh menghargai anugerah Allah justru akan semakin mampu menghargai sesama.
Orang yang mengenal nilai dirinya di hadapan Allah tidak perlu merendahkan orang lain. Orang yang menjaga terang dalam hatinya akan lebih mudah menjadi terang bagi sekitarnya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Harta Hati,Pelita Hidup
Saudari dan saudara terkasih, dunia saat ini dipenuhi banyak hal yang menarik perhatian, tetapi tidak semuanya layak menerima hati kita. Ada banyak tawaran yang tampak berkilau, tetapi tidak semuanya bernilai seperti mutiara.
Hari ini Tuhan mengajak kita bertanya, di manakah mutiara yang selama ini sedang kita jaga? Apakah kita masih menjaga iman, kejujuran, kasih, dan suara hati sebagai harta yang paling berharga?
Seperti Hizkia yang membentangkan seluruh hidupnya di hadapan Tuhan, marilah kita membawa segala ketakutan, harapan, dan pergumulan kepada-Nya.
Hanya Allah yang mampu menjaga mutiara hati kita agar tetap bercahaya. Dan hanya hati yang dijaga oleh Allah yang mampu memperlakukan sesama sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Doa: Ruang Relasi, Bukan Transaksi
Petikan BUSA-H untuk kita #23/06/26@:
”Hizkia tidak membentangkan kekuatannya di hadapan Tuhan, melainkan ketakutannya; dan dari hati yang percaya itulah Allah mulai bekerja dengan cara yang tidak terduga.”
”Tidak semua yang berkilau layak menerima hatimu; jagalah mutiara iman, kejujuran, dan kasih, karena itulah harta yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.”
”Mutiara hidup tidak selalu dirampas dalam sekejap, tetapi sering hilang sedikit demi sedikit setiap kali kita menukar kebenaran demi kenyamanan dan integritas demi penerimaan.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Yang Sunyi Yang Berkenan
“Mutiara terbesar dalam hidup bukanlah apa yang kita genggam di tangan, melainkan apa yang tetap kita jaga di dalam hati.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





