Rabu, 09 September 2026. Hari Biasa Pekan XXIII. 1 Korintus 7:25-31; Lukas 6:20-26.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara yang terkasih. Setiap hari kita berusaha mengisi hidup dengan banyak hal yang kita harapkan dapat membuat kita bahagia. Kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan, membeli berbagai kebutuhan dan keinginan, mengejar pencapaian, mencari hiburan, menikmati pujian, dan menyusun banyak rencana untuk masa depan.

Kita berharap, semakin banyak yang kita miliki dan capai, semakin penuh dan bahagia hidup kita. Tetapi apakah semua itu sungguh dapat membuat kita bahagia?

Hari ini Yesus justru mengguncang ukuran kebahagiaan kita dengan sabda yang keras, “Celakalah kalian yang kini kenyang” dan “Celakalah kalian yang kini tertawa.”

Yesus tidak sedang menyalahkan orang yang makan kenyang atau tertawa. Ia memperingatkan kita tentang bahaya merasa hidup sudah cukup karena memiliki banyak hal, sementara hati tidak lagi membutuhkan Allah dan tidak lagi peka terhadap sesama.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Maria, Kita Belajar Menjadi Berkat

Injil Lukas memang menempatkan kemiskinan dan kekayaan sebagai persoalan tentang nilai hidup dan ketergantungan manusia kepada Tuhan. Lantas, pertanyaannya, apakah kita bahagia dan di manakah kita mencari kebahagiaan?

Rasul Paulus menjawab dengan mengingatkan kita agar tidak menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang akan berlalu. “Waktunya singkat” dan “dunia yang kita kenal sekarang ini akan berlalu.”

Paulus tidak meminta kita meninggalkan keluarga, pekerjaan, kegembiraan, atau harta milik. Ia mengajak kita menempatkan semuanya secara benar.

Kita boleh memiliki, tetapi jangan sampai dimiliki oleh apa yang kita miliki. Kita boleh menikmati keberhasilan, tetapi jangan menggantungkan harga diri padanya. Kita boleh merencanakan masa depan, tetapi jangan hidup seolah-olah segala sesuatu berada dalam kendali kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Membiarkan yang Salah Menjadi Biasa

Apa yang sekarang membuat kita bangga dapat berlalu, dan apa yang sekarang membuat kita menangis pun tidak berlangsung selamanya. Karena itu, kebahagiaan sejati bukanlah hidup yang memiliki segala sesuatu, melainkan hidup yang tidak kehilangan Allah di tengah segala sesuatu.

Maka hari ini periksalah apa yang paling kita kejar dan apa yang paling kita takut kehilangan. Kurangilah satu keterikatan yang membuat hati semakin jauh dari Tuhan, dan gunakanlah sesuatu yang kita miliki untuk membahagiakan orang lain.

Yesus sedang mengubah ukuran kebahagiaan kita. Berbahagialah bukan karena hidup selalu mudah, kita selalu kenyang, atau semua keinginan terpenuhi, melainkan karena di tengah segala yang datang dan pergi, hati tetap berpaut kepada Allah dan terbuka kepada sesama.

Dunia akan berlalu. Yang kita miliki akan kita tinggalkan. Maka jangan habiskan hidup dengan mengejar kebahagiaan yang semu.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Sabda yang Mengubah Hati, Kasih yang Menjaga Kehidupan

Petikan BUSA-H #09/09/2026

”Kebahagiaan sejati bukanlah memiliki segala sesuatu, melainkan tidak kehilangan Allah di tengah segala sesuatu.”

”Kita boleh memiliki banyak hal, tetapi jangan sampai hati kita dimiliki oleh apa yang kita miliki.”

”Apa yang kita genggam hari ini dapat berlalu, tetapi hati yang berpaut kepada Allah tidak kehilangan alasan untuk berharap.”

”Dunia akan berlalu dan yang kita miliki akan kita tinggalkan, maka jangan habiskan hidup mengejar kebahagiaan yang semu.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan