Kamis, 01 Januari 2026. Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah (Hari Kedelapan dalam Oktaf Natal) Hari Perdamaian Sedunia. Kitab Bilangan 6:22-27; Galatia 4:4-7; Lukas 2:16-21

Oleh: Rd. Fidelis Dua.

Saudari dan saudara terkasih, Selamat Tahun Baru.

Ada sebuah pertanyaan dari Santo Sirilus dari Aleksandria yang menolong kita merenungkan makna perayaan Maria Bunda Allah. Ia bertanya, “Sebab Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah.”

Pertanyaan ini menegaskan bahwa Maria sungguh Bunda Allah, karena melalui ketaatan dan kasihnya, ia menjadi tempat Allah berkenan hadir. Dia yang dilahirkannya adalah Allah yang menjelma menjadi manusia demi keselamatan dunia. Inilah kebenaran iman Gereja yang kita imani dan rayakan. Melalui Maria, Allah memilih hadir secara dekat, menyertai manusia dalam seluruh peziarahan hidupnya, dari awal hingga akhir.

Bacaan pertama dari Kitab Bilangan memperlihatkan wajah Allah yang selalu hadir dan memberkati. Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau. Berkat dalam teks ini bukan sekadar kata penutup doa, melainkan janji kehadiran Allah yang hidup dan aktif.

Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah–Harian) Dari Akhir Menuju Awal di Dalam Firman

Ia adalah Allah yang tidak pernah meninggalkan, Allah yang tidak berpaling dari manusia, Allah yang berkenan berjalan bersama umat-Nya di setiap tahap perjalanan hidup. Sabda ini menanamkan keyakinan mendalam ketika kita melangkah memasuki Tahun Baru 2026. Kita tidak dipanggil untuk mengandalkan diri sendiri, mengejar rasa aman yang semu lewat keberuntungan, pencapaian, atau tumpukan rencana dan target.

Di awal tahun yang baru, kita diajak untuk percaya bahwa hanya karena berkat Tuhanlah hidup dapat dimulai dengan benar dan dijalani dengan setia. Di luar berkat-Nya, semua kepastian mudah runtuh. Hanya Tuhan yang mampu memulai sesuatu dengan makna dan mengantarkannya pada kepenuhan yang sejati.

Berkat Allah itulah yang mencapai kepenuhannya ketika Ia tidak hanya menyertai manusia dari jauh, melainkan masuk ke dalam sejarah manusia itu sendiri.

Dalam surat kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus membawa kita lebih dalam ke inti misteri iman. Setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan. Kalimat ini mengubah cara kita memandang waktu dan sejarah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hanna dan Seni Menunggu Allah di Tengah Dunia yang Bergegas

Allah bekerja dalam waktu, bukan di luar waktu. Ia menunggu saat yang tepat, dan ketika saat itu tiba, keselamatan datang bukan melalui kekuatan, melainkan melalui kelahiran sebagai perjumpaan nyata antara Allah dan manusia. Kelahiran Yesus dari Maria menegaskan bahwa martabat manusia diangkat, bahwa tubuh, relasi, dan keseharian menjadi ruang tempat Allah berkarya.

Maka Tahun Baru bukan sekadar lembaran kosong, melainkan ruang rahmat tempat Allah terus bekerja melalui pilihan-pilihan hidup, kesetiaan dalam tugas-tugas harian, dan kehidupan kita yang konkret dalam suka dan duka. Itu berarti setiap detik di tahun yang baru dapat menjadi saat keselamatan bila kita membuka hidup bagi kehendak Allah.

Misteri Allah yang masuk ke dalam waktu itu kemudian tampak dengan sangat sederhana dan menyentuh dalam kisah Injil.

Injil Lukas menghadirkan tokoh-tokoh yang sederhana namun berkenan di hadapan Allah, yakni para gembala, Maria dan Yusuf, serta Bayi yang terbaring di dalam palungan. Para gembala hadir sebagai orang-orang kecil yang hatinya terbuka, yang tidak terhalang oleh status atau kepentingan, sehingga mereka mampu bergegas menyambut karya Allah. Bunda Maria hadir bukan sebagai pribadi yang banyak berkata-kata, melainkan sebagai pribadi yang menyimpan dan merenungkan. Ia adalah Bunda Allah karena ia menerima.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hanna dan Seni Menunggu Allah di Tengah Dunia yang Bergegas

Sabda bukan hanya dalam tubuh, tetapi juga dalam hati. Artinya, iman sejati bukan pertama-tama soal memahami segalanya, melainkan keberanian untuk mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Allah. Yusuf hadir sebagai pribadi yang taat dan setia dalam diam, yang memilih melindungi kehidupan meski tidak selalu mengerti jalan Tuhan. Dan Bayi Yesus hadir sebagai Allah yang merendahkan diri, yang datang tanpa kekuasaan, namun membawa keselamatan.

Bagi hidup kita di Tahun Baru, kita diajak untuk mulai menapaki hari pertama di tahun yang baru ini bukan dengan kesombongan rencana-rencana kita, melainkan dengan hati seperti gembala yang mau melangkah, seperti Maria yang mau merenungkan, dan seperti Yusuf yang mau setia. Di sinilah Allah selalu hadir dalam setiap keputusan, relasi, dan keseharian hidup kita.

Saudari dan saudara terkasih, dengan demikian merayakan Santa Perawan Maria sebagai Bunda Allah di awal Tahun Baru berarti belajar memulai segala sesuatu dengan sikap Maria. Sikap percaya, sikap terbuka, dan sikap menyerahkan diri kepada kehendak Allah. Maria tidak memahami segalanya, tetapi ia mempercayakan hidupnya sepenuhnya. Itulah jalan damai yang harus kita lintasi sebagai pembawa damai dalam cara kita bekerja, berbicara, dan memperlakukan sesama.

Maka ketika kita melangkah memasuki Tahun Baru 2026, Gereja tidak pertama-tama memberi kita resolusi, melainkan berkat. Bukan strategi, melainkan Sabda. Bukan janji manusia, melainkan kehadiran Allah. Bersama Maria Bunda Allah, kita diajak menyimpan Firman, melahirkan kasih, dan menghadirkan damai. Semoga wajah Tuhan yang bersinar atas kita menuntun setiap langkah, agar hidup kita menjadi ruang tempat Allah tinggal, dan dunia merasakan bahwa damai bukan sekadar impian, melainkan anugerah yang nyata.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Menjadi Terang dalam Kasih

Mentari pagi menyapa waktu,
langkah kecil menuju rahmat baru;
Bersama Maria kita bersatu,
Tuhan menuntun di tahun yang baru.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Maria mengajarkan bahwa hidup menjadi bermakna bukan karena segalanya dimengerti, tetapi karena segalanya dipercayakan kepada Allah.”

”Tahun Baru tidak bermula dari rencana manusia, melainkan dari Allah yang memberkati dan menyertai, dan bersama Maria Bunda Allah kita belajar bahwa kehidupan yang selamat bila diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan