BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tangan Penuh Berkat, Hati Kosong Kasih!
Selasa, 21 Oktober 2026. Hari Biasa Pekan XXIX. *Efesus 3:2-12; Lukas 12:39-48.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARA-saudari terkasih, sadar atau tidak, kita sering menjadi orang beriman yang begitu sibuk mencari berkat Tuhan. Sayangnya, kita terlalu sibuk mengejar berkat yang belum kita terima, sampai lupa mensyukuri dan menggunakan berkat yang sudah ada di tangan.
Tuhan telah menganugerahkan waktu, kesehatan, kemampuan, rezeki, dan kesuksesan, tetapi kita sering lupa melihat semuanya sebagai anugerah yang harus dibagikan, bukan sekadar dinikmati sendiri.
Kita begitu mudah meminta berkat, tetapi begitu sulit menjadi berkat bagi sesama. Akibatnya, tangan kita penuh dengan pemberian Tuhan, tetapi hidup kita kosong dari perbuatan kasih! Sungguh ironis! Kita merasa hidup ini milik kita sepenuhnya, padahal setiap detak jantung, setiap tarikan napas, dan setiap kesempatan adalah titipan Tuhan.
Kita berhasil memiliki banyak hal, tetapi justru gagal menjalankan tanggung jawab atas apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Karena itu, jangan sampai berkat yang seharusnya menjadi jalan untuk mengasihi sesama justru berubah menjadi kenyamanan yang membuat hati kita semakin jauh dari Tuhan!
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kokoh dalam Kristus, Menyala dalam Iman
Kesadaran bahwa setiap berkat adalah anugerah sekaligus tanggung jawab inilah yang kita pelajari dari Rasul Paulus dalam bacaan pertama. Paulus menyebut dirinya paling hina di antara orang-orang kudus, tetapi justru kepadanya Allah mempercayakan tugas besar untuk mewartakan kekayaan Kristus kepada bangsa-bangsa lain. Ia tidak membanggakan dirinya, sebab ia sadar bahwa semuanya adalah kasih karunia Allah, bukan hasil kehebatannya sendiri.
Sejalan dengan itu, dalam Injil, Yesus mengingatkan para hamba agar selalu berjaga dan setia menjalankan tugas, sebab tuannya dapat datang pada saat yang tidak disangka.
Yesus menegaskan, “Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut daripadanya.” Artinya, semakin besar rahmat yang kita terima, semakin besar pula tanggung jawab yang harus kita jalankan.
Di hadapan Tuhan, yang terpenting bukan seberapa banyak berkat yang kita miliki, melainkan seberapa setia kita menggunakan berkat yang dipercayakan-Nya. Tuhan tidak selalu meminta kita melakukan hal-hal besar dan luar biasa, tetapi menghendaki kita setia dalam perkara-perkara kecil yang sering kita abaikan. Sebab kesetiaan sejati bukan hanya terlihat ketika banyak orang menyaksikan, melainkan justru terbukti ketika tidak seorang pun melihat.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Lumbung Penuh, Hati Kosong
Karena itu, saudara-saudari terkasih, kesetiaan kepada Tuhan harus nyata dalam cara kita menggunakan setiap berkat yang dipercayakan-Nya. Jangan hanya bangga memiliki keluarga, tetapi belajarlah sungguh-sungguh hadir bagi mereka. Jangan hanya bersyukur memiliki pekerjaan, tetapi jalankanlah dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Jangan hanya merasa diberkati dengan rezeki yang cukup, tetapi bukalah mata dan hati bagi mereka yang hidup dalam kekurangan.
Tuhan tidak meminta pertanggungjawaban atas berkat yang tidak pernah kita terima, tetapi atas berkat yang sudah dipercayakan-Nya kepada kita. Pada akhirnya, nilai hidup kita bukan ditentukan oleh banyaknya harta yang berhasil kita kumpulkan, melainkan oleh kebaikan yang telah kita bagikan.
Jangan sampai ketika Tuhan datang, tangan kita penuh dengan harta, tetapi hati kita miskin kasih dan hidup kita tidak menghasilkan buah!
Semoga ketika Tuhan datang, Ia menemukan kita bukan sedang sibuk mengejar berkat-Nya, melainkan setia melaksanakan kehendak-Nya. Sebab hidup yang sungguh diberkati bukanlah hidup yang memiliki segalanya, melainkan hidup yang menjadi berkat bagi sesama.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Satu Dalam Kristus, Bersatu dalam Misi
Petikan BUSA-H #21/10/2026
”Jangan terlalu sibuk meminta berkat yang belum Tuhan berikan, sampai lupa mempertanggungjawabkan berkat yang sudah ada di tangan.”
“Betapa malangnya hidup yang tangannya penuh dengan pemberian Tuhan, tetapi hatinya kosong dari kasih dan kepedulian kepada sesama.”
“Kesetiaan kepada Tuhan tidak diukur dari besarnya pekerjaan yang kita lakukan, tetapi dari ketulusan hati menjalankan tanggung jawab, bahkan ketika tidak seorang pun melihat.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Hidup Membawa Damai
“Pada akhirnya, Tuhan tidak hanya melihat seberapa banyak berkat yang kita terima, tetapi seberapa banyak kehidupan orang lain yang telah kita sentuh melalui berkat itu.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@





