BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur
Senin, 17 Agustus 2026. Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia. Putra Sirakh 10:1-8; 1 Petrus 2:13-17; Matius 22:15-21.
SAUDARA dan saudara yang terkasih, “Negara yang kuat bukan pertama-tama negara yang rakyatnya takut kepada penguasa, melainkan negara yang rakyatnya merasa dilindungi, dihargai, dan diperlakukan adil.”
Di tengah perayaan kemerdekaan ke-81, Sabda Allah hari ini mengajak kita melihat kemerdekaan dari tempat yang lebih dalam, yaitu dari martabat manusia di hadapan Allah.
Kitab Putra Sirakh mengingatkan bahwa seorang pemimpin yang bijaksana membuat rakyatnya hidup dalam ketertiban, sedangkan penguasa yang angkuh dan tidak adil pada akhirnya akan kehilangan dasar kekuasaannya.
Rasul Petrus menegaskan bahwa hidup sebagai warga negara berarti menghormati lembaga dan tata kehidupan bersama, tetapi penghormatan itu selalu berada dalam cakrawala yang lebih tinggi, yaitu kehendak Allah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Maria, Tanda Harapan dan Hambatan Kasih di Tengah Guncangan
Karena itu, ketika Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”,
Ia tidak sedang mengajarkan pemisahan antara iman dan kehidupan sosial. Yesus justru mengingatkan bahwa negara memiliki kewenangan, tetapi Allah tetap Tuhan atas manusia dan hati nurani manusia tidak boleh diperbudak oleh kekuasaan.
Dalam terang Sabda ini, kemerdekaan Indonesia bukan hanya soal terbebas dari penjajahan, tetapi tentang bagaimana kekuasaan digunakan untuk melindungi kehidupan, menegakkan keadilan, dan memuliakan manusia.
Sabda Allah menjadi semakin tajam ketika kita membawanya ke Tanah Flores yang baru saja diguncang gempa. Ketika sebagian saudara kita kehilangan anggota keluarga, rumah, rasa aman, bahkan tempat untuk beristirahat, kita tidak dapat merayakan kemerdekaan hanya dengan mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu perjuangan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Perubahan Hidup Dimulai dari Pilihan Kita Sendiri
Gempa boleh mengguncang tanah, tetapi jangan sampai penderitaan mengguncang solidaritas kita. Di sinilah pertanyaan Yesus tentang apa yang menjadi milik Kaisar dan apa yang menjadi milik Allah menjadi sangat konkret.
Kita membayar pajak kepada negara, menaati hukum, menghormati pemerintah dan menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara, tetapi kepada Allah kita mempersembahkan sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu hati yang peduli, tangan yang mau menolong, dan kehidupan yang tidak membiarkan sesama menderita sendirian.
Negara yang berdaulat harus hadir bagi rakyat yang paling rentan, masyarakat yang adil harus memberikan perhatian kepada mereka yang paling membutuhkan, dan kemakmuran harus memungkinkan setiap orang hidup dengan aman dan bermartabat.
Karena itu, kemerdekaan menuntut pertobatan dari egoisme, korupsi, keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakpedulian, dan kebiasaan menikmati kenyamanan sendiri sementara sesama sedang berjuang.
Kadang kita begitu cepat bertanya, “Apa yang negara berikan kepada saya?” tetapi Sabda hari ini mengubah pertanyaan itu menjadi, “Apa yang dapat saya berikan bagi sesama dan bagi negeri ini?”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Setia Saat Kasih Diuji
Mungkin bagi sebagian orang bentuknya sederhana, memberi makanan kepada pengungsi, membantu tetangga memperbaiki rumah, menyisihkan penghasilan bagi korban bencana, mengunjungi orang yang kesepian, menjalankan pekerjaan dengan jujur, menolak suap, tidak menyebarkan kebencian, dan menggunakan hak pilih dengan hati nurani yang benar. Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak masuk berita, tetapi justru di sanalah kemerdekaan menjadi nyata.
Maka, pada Hari Kemerdekaan ini, Sabda Allah mengundang kita untuk menjadikan kemerdekaan sebagai panggilan untuk memanusiakan dan solidaritas sebagai cara untuk menjembatani. Jangan sampai kita merayakan Indonesia yang berdaulat, tetapi hati kita masih dikuasai kesombongan.
Jangan sampai kita berbicara tentang keadilan, tetapi kita sendiri tidak adil kepada orang yang bekerja bersama kita. Jangan sampai kita berdoa bagi bangsa, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita masih memelihara kebencian, korupsi, fitnah, diskriminasi, dan ketidakpedulian.
FABC XII mengingatkan Gereja di Asia untuk menjadi pembangun jembatan, jembatan kepercayaan, perdamaian, belas kasih, dan harapan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Simpan Luka,Simpanlah Kasih
Pesan ini terasa sangat nyata bagi kita ketika Flores sedang terluka. Jangan membangun tembok ketika saudara sedang membutuhkan jembatan. Jadilah jembatan yang menghubungkan yang kuat dengan yang lemah, yang berkecukupan dengan yang berkekurangan, pemerintah dengan rakyat, dan manusia dengan sesamanya.
Hari ini kita tidak hanya diminta untuk mencintai Indonesia dengan kata-kata, tetapi dengan pertobatan yang dapat disentuh dan dilihat. Mari mulai dari rumah, dari keluarga, dari tempat kerja, dari lingkungan, dari paroki, dan dari cara kita memperlakukan orang yang paling kecil.
Sebab pada akhirnya, ukuran kemerdekaan bukan hanya berapa lama bangsa ini telah merdeka, tetapi berapa banyak manusia yang melalui kemerdekaan itu dapat hidup lebih bermartabat, lebih adil, lebih aman, dan lebih penuh harapan.
Semoga dari luka Flores lahir solidaritas baru, dari solidaritas lahir persaudaraan, dari persaudaraan lahir keadilan, dan dari keadilan lahir Indonesia yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur. Merdeka untuk memanusiakan, merdeka untuk menjembatani, merdeka untuk mengasihi.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Membicarakan, Datanglah dan Bicara
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka!
Merdeka dalam kemanusiaan.
Merdeka dalam keadilan.
Merdeka dalam persaudaraan.
Merdeka dalam harapan.
Dan semoga Indonesia terus menjadi rumah bersama bagi semua.
Petikan BUSA-H #17/08/2026
”Kemerdekaan sejati bukan hanya ketika bangsa terbebas dari penjajahan, melainkan ketika setiap manusia dapat hidup dalam martabat, keadilan, keamanan, dan harapan.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Demi yang Satu
” Gempa boleh mengguncang tanah Flores, tetapi jangan biarkan penderitaan mengguncang solidaritas kita, karena Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang hadir bagi mereka yang terluka dan paling rentan.”
”Jangan bertanya hanya apa yang negara berikan kepada kita, tetapi tanyakan pula apa yang dapat kita berikan bagi sesama, sebab kemerdekaan menjadi nyata ketika hati kita bebas dari egoisme, keserakahan, ketidakadilan, dan ketidakpedulian.”
” Mari menjadi jembatan kepercayaan, perdamaian, belas kasih, dan harapan, agar dari luka Flores tumbuh persaudaraan, dari persaudaraan lahir keadilan, dan dari keadilan terwujud Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@”





