Kamis, 22 Oktober 2026. Hari Biasa Pekan XXIX. Efesus 3:14-21; Lukas 12:35-38

OLEH: RD.Fidelis Dua

SAUDARA-saudari terkasih, ada orang yang memilih diam ketika melihat ketidakjujuran, bukan karena tidak tahu mana yang benar, tetapi karena takut kehilangan teman, jabatan, atau kenyamanan.

Ada pula yang rela mengorbankan prinsip hidupnya hanya supaya tetap diterima dan disukai semua orang. Akhirnya, yang salah dibiarkan, yang benar disembunyikan, dan suara hati perlahan dibungkam.

Sungguh menyedihkan! Kita ingin hidup damai dengan semua orang, tetapi terkadang damai itu dibayar dengan mengorbankan kebenaran. Padahal, tidak semua ketenangan berarti kedamaian, dan tidak semua pertentangan berarti permusuhan. Ada saatnya kita harus berani berdiri teguh dalam kebenaran, meskipun harus menghadapi penolakan.

Inilah yang ditegaskan Yesus dalam Injil hari ini. “Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala!” Api yang dimaksud Yesus bukanlah api kebencian atau kekerasan, melainkan api kasih dan kebenaran Allah yang membakar hati, memurnikan hidup, dan menggerakkan manusia untuk bertobat.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tangan Penuh Berkat, Hati Kosong Kasih!

Ketika Yesus berkata bahwa Ia datang membawa pertentangan, bukan damai, Ia tidak sedang mengajarkan permusuhan, tetapi menegaskan bahwa kesetiaan kepada-Nya dapat menimbulkan perpecahan, bahkan di tengah keluarga, karena tidak semua orang mau menerima kebenaran-Nya.

Hidup yang menerima kebenaran Yesus berarti berani meninggalkan kebiasaan buruk meskipun sudah terasa nyaman, tetap setia menjalankan tanggung jawab dalam keluarga sekalipun penuh tantangan, serta memiliki kerendahan hati untuk tidak selalu merasa diri paling benar, paling baik, dan paling hebat.

Sejalan dengan itu, dalam bacaan pertama, Rasul Paulus berdoa agar umat dikuatkan oleh Roh Kudus, sehingga Kristus tinggal dalam hati mereka dan hidup mereka berakar dalam kasih.

Artinya, keberanian membela kebenaran harus lahir dari hati yang dipenuhi kasih, bukan dari kesombongan agar tidak melahirkan pertentangan yang melukai. Api Kristus harus menghangatkan hati, bukan membakar persaudaraan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kokoh dalam Kristus, Menyala dalam Iman

Karena itu, saudara-saudari terkasih, iman kita harus tampak bukan hanya dalam doa dan ibadat di gereja, tetapi juga dalam kesetiaan menjalani kehidupan sehari-hari dengan semakin solider dan peduli terhadap sesama.

Kesetiaan kepada Kristus terkadang menuntut kita berani tampil beda, bahkan ketika pilihan itu membuat kita tidak disukai atau ditinggalkan orang lain. Lebih baik kehilangan tepuk tangan manusia daripada kehilangan iman dan keberanian untuk hidup benar di hadapan Tuhan.

Semoga api kasih Kristus terus menyala dalam hati kita, sehingga kita tetap teguh dalam iman, berani dalam kebenaran, tulus dalam kasih, dan berkanjang dalam kesetiaan.

Sebab damai sejati bukan sekadar hidup tenang tanpa persoalan, melainkan keberanian untuk tetap mengasihi, berbagi, dan peduli di tengah kehidupan yang semakin berat akibat krisis iklim, bencana yang kian mengancam, dan biaya hidup yang terus menghimpit.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Lumbung Penuh, Hati Kosong

Petikan BUSA-H #22/10/2026

“Tidak semua ketenangan berarti kedamaian dan tidak semua pertentangan berarti permusuhan, sebab damai sejati tidak pernah dibangun dengan mengorbankan kebenaran.”

“Api Kristus harus membakar kebiasaan buruk dalam diri kita, bukan membakar persaudaraan, sebab kebenaran tanpa kasih hanya akan melahirkan pertentangan yang melukai.”

“Lebih baik kehilangan tepuk tangan manusia daripada kehilangan iman dan keberanian untuk hidup benar di hadapan Tuhan, sebab kesetiaan kepada Kristus terkadang menuntut kita berani berbeda.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Satu Dalam Kristus, Bersatu dalam Misi

“Damai sejati bukan sekadar hidup tenang tanpa persoalan, melainkan keberanian untuk tetap mengasihi, berbagi, dan peduli ketika kehidupan semakin berat dan penderitaan sesama semakin nyata.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan