Selasa, 03 November 2026. Hari Biasa Pekan XXXI.  Filipi 2:5-11; Lukas 14:15-24

OLEH: RD. Fidelis Dua

SAUDARI-saudara terkasih, Santo Agustinus pernah mengajarkan bahwa kesombongan menjauhkan manusia dari Allah, sedangkan kerendahan hati membawanya semakin dekat kepada-Nya.

Pesan ini menemukan maknanya dalam bacaan pertama. Rasul Paulus mengajak kita memiliki sikap hidup seperti Kristus Yesus. Walaupun memiliki kemuliaan ilahi, Yesus rela mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai wafat di salib.

Inilah jalan kerendahan hati yang membawa keselamatan. Mengosongkan diri berarti memberi ruang bagi kehendak Allah untuk membentuk pikiran, sikap, dan tindakan kita. Namun, betapa mudahnya manusia dewasa ini mencari kesalahan orang lain demi membenarkan sikapnya sendiri.

Saat ditegur, kita segera mencari alasan. Saat melakukan kesalahan, kita sibuk menunjuk siapa yang harus disalahkan. Bahkan, teguran yang seharusnya menyadarkan hati sering kita anggap sebagai serangan terhadap harga diri. Akibatnya, kita semakin pandai membela diri, tetapi semakin sulit memperbaiki diri.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Teladan Kekudusan Bertumbuh dalam Kesetiaan Sehari-Hari

Kerendahan hati dimulai dari keberanian untuk berkata, “Saya keliru, saya perlu berubah.” Sebab hati yang terus sibuk membenarkan diri akan sulit memberi tempat bagi Allah untuk membenahinya.

Sikap suka mencari alasan itu juga tampak dalam Injil hari ini. Yesus mengisahkan seorang tuan yang mengadakan perjamuan besar, tetapi para undangan menolaknya dengan berbagai dalih. Ada yang mengurus ladang, mencoba lembu, dan baru menikah. Mereka merasa memiliki alasan yang masuk akal, hingga kehilangan kesempatan untuk menikmati perjamuan yang telah disediakan.

Kisah ini menjadi cermin kehidupan rohani kita. Betapa sering kita memiliki alasan untuk menunda pertobatan, mengabaikan suara hati, atau menghindari tanggung jawab terhadap sesama. Kita merasa sudah cukup baik, merasa selalu benar, bahkan menggunakan kelemahan orang lain untuk menutupi kekurangan sendiri.

Sementara itu, sang tuan justru mengundang orang miskin, cacat, buta, dan lumpuh, bahkan mereka yang berada di jalan dan persimpangan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hidup Bagi Kristus, Bertumbuh dalam Kerendahan Hati

Perjamuan ini melambangkan undangan keselamatan Allah yang terbuka bagi semua orang, terutama mereka yang tersisih. Di hadapan Allah, kesediaan membuka hati jauh lebih berarti daripada segala alasan yang kita susun untuk mempertahankan keangkuhan. Iman mengajak kita berani melihat kekurangan sendiri sekaligus menghormati martabat setiap manusia.

Saudari-saudara terkasih, kedua bacaan hari ini membawa kita pada satu panggilan yang mendesak, yakni memiliki hati Kristus dan menghadirkan kasih-Nya kepada setiap orang. Melalui Sabda dan Ekaristi, Allah terus mengundang kita mengambil bagian dalam perjamuan kasih-Nya.

Undangan itu menuntut perubahan hati dan keterlibatan nyata dalam penderitaan sesama. Mulailah dengan berhenti mencari kambing hitam atas kesalahan  orang lain, bersedia menerima nasihat yang menyakitkan, dan berani memperbaiki sikap yang melukai orang lain.

Selanjutnya, turunlah tangan untuk menemani mereka yang menderita, menguatkan orang yang kehilangan harapan, menyediakan makanan bagi mereka yang lapar, dan merangkul pribadi-pribadi yang selama ini merasa tersisih.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Yesus Melihat Penderitaan, Manusia Sibuk Melihat Pelanggaran

Tuhan menghendaki kehadiran yang sungguh menyentuh kehidupan sesama, melampaui rasa iba dan ungkapan keprihatinan. Betapa menyedihkan jika suatu hari kita begitu dekat dengan pintu rumah Tuhan, tetapi hati kita terlalu penuh dengan pembenaran diri hingga kehilangan sukacita perjamuan-Nya.

Maka, bukalah hati, terimalah kebenaran dengan rendah hati, dan jadilah tangan Kristus bagi mereka yang membutuhkan. Sebab surga yang kita rindukan adalah perjamuan kasih Allah, dan langkah menuju perjamuan itu dimulai dari hati yang bersedia dibentuk oleh-Nya serta tangan yang rela melayani sesama.

Petikan BUSA-H #03/11/2026

“Orang yang selalu mencari kesalahan orang lain akan kehilangan kesempatan untuk melihat apa yang perlu diperbaiki dalam dirinya sendiri.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ketika Kasih kepada Allah Menyentuh Hati Sesama

“ Kesombongan membuat manusia memiliki seribu alasan untuk merasa benar, sedangkan kerendahan hati memberinya keberanian untuk berubah.”

“Teguran yang diterima dengan rendah hati dapat menjadi pintu masuk bagi rahmat Allah yang mengubah kehidupan.”

“Keberanian mengakui kesalahan adalah awal dari pertobatan, dan kerelaan memperbaiki diri adalah bukti bahwa rahmat Allah sedang bekerja.”

“Tuhan menyediakan tempat bagi setiap orang dalam perjamuan-Nya, tetapi hati yang dikuasai keangkuhan sering menolak undangan itu.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kesabaran Tuhan Bukan Izin untuk Menunda Pertobatan

“Kerendahan hati membuat kita mampu melihat kesalahan sendiri, mendengarkan suara Tuhan, dan membuka tangan bagi mereka yang tersisih.”

“Betapa mudahnya kita menemukan kesalahan orang lain, tetapi betapa sulitnya kita mengakui kesalahan sendiri, dan betapa banyak undangan Tuhan yang akhirnya kita abaikan karena merasa diri selalu benar.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan