BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Yesus Melihat Penderitaan, Manusia Sibuk Melihat Pelanggaran
Senin, 26 Oktober 2026. Hari Biasa Pekan XXX. Efesus 4:32-5:8; Lukas 13:10-17
OLEH: RD. Fidelis Dua.
SAUDARA-saudari terkasih, filsuf Immanuel Kant mengingatkan bahwa manusia harus selalu diperlakukan sebagai tujuan, bukan sekadar alat untuk mencapai kepentingan tertentu.
Betapa pentingnya pesan ini di tengah kehidupan sekarang! Kita bisa begitu teliti menjalankan aturan, tetapi kurang peka terhadap manusia yang sedang terluka. Kita bisa begitu cepat menemukan kesalahan orang lain, tetapi begitu lambat melihat penderitaannya. Ketika aturan lebih kita utamakan daripada martabat manusia, hati kita perlahan kehilangan kepekaannya.
Injil hari ini memperlihatkan bahwa bagi Yesus, kasih tidak boleh dikalahkan oleh sikap beragama yang kaku. Sebab aturan seharusnya menolong manusia mengalami kebaikan Allah, bukan menjadi alasan untuk membiarkannya terus menderita.
Dalam Injil, Yesus melihat seorang perempuan yang sudah delapan belas tahun menderita karena tubuhnya bungkuk. Tanpa diminta, Yesus memanggilnya, membebaskannya dari penyakit, dan membuatnya kembali berdiri tegak.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ketika Kasih kepada Allah Menyentuh Hati Sesama
Namun, kepala rumah ibadat justru marah karena penyembuhan itu dilakukan pada hari Sabat. Betapa menyedihkan! Ketika seorang perempuan akhirnya dapat berdiri tegak setelah delapan belas tahun, masih ada orang yang lebih sibuk mempersoalkan hari penyembuhannya daripada mensyukuri kebebasannya.
Yesus menegaskan bahwa jika seekor ternak boleh dilepaskan untuk diberi minum pada hari Sabat, terlebih lagi perempuan keturunan Abraham itu layak dibebaskan dari penderitaannya.
Sabat adalah hari untuk memuliakan Allah, dan pembebasan manusia justru menyatakan kemuliaan-Nya. Yesus tidak hanya meluruskan tubuh perempuan itu, tetapi juga meluruskan cara berpikir orang-orang yang telah kehilangan hati dalam menjalankan agama.
Pesan ini ditegaskan Rasul Paulus dalam bacaan pertama. Sebagai anak-anak Allah yang dikasihi, kita dipanggil untuk hidup dalam kasih seperti Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita (Ef. 5:1-2).
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kesabaran Tuhan Bukan Izin untuk Menunda Pertobatan
Kasih itu harus tampak dalam sikap yang ramah, perkataan yang membangun, dan hidup yang bersih dari keserakahan serta perilaku yang merendahkan martabat manusia.
Di tengah dunia yang mudah mempermalukan orang melalui komentar di media sosial, mengabaikan rekan kerja yang sedang kesulitan, atau berlindung di balik prosedur untuk menghindari tanggung jawab, orang beriman dipanggil bukan hanya menjadi penjaga aturan, melainkan pembawa kelegaan.
Saudara-saudari, mungkin kita tidak dapat menyembuhkan tubuh yang sakit seperti Yesus, tetapi kita dapat meringankan beban seseorang melalui perhatian, keberanian membela yang lemah, dan kesediaan membantu tanpa banyak alasan.
Jangan sampai kita begitu sibuk membuktikan diri sebagai orang yang benar, tetapi lupa menjadi orang yang membawa kebaikan. Sebab iman yang sejati bukan hanya membuat kita berdiri tegak di hadapan Allah, tetapi juga menolong sesama bangkit dari beban yang membungkukkan hidupnya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Membaca Tanda Zaman dengan Mata Iman di Tengah Dunia yang Gaduh
Petikan BUSA-H #26/10/2026
“Kita sering begitu cepat melihat kesalahan orang lain, tetapi begitu lambat menyadari beban hidup yang sedang mereka pikul.”
“Yesus tidak hanya menegakkan tubuh perempuan yang bungkuk, tetapi juga meluruskan cara berpikir mereka yang tidak lagi peka terhadap penderitaan sesama.”
“Jangan sampai kita terlalu sibuk membuktikan diri sebagai orang yang benar, tetapi lupa menjadi pribadi yang membawa kebaikan.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Api Kristus Menghangatkan Hati, Bukan Membakar Persaudaraan
“Iman yang sejati bukan hanya membuat kita berdiri tegak di hadapan Allah, tetapi juga membantu sesama bangkit dari beban yang membungkukkan hidupnya.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@





