Berapa Pendapatan Perawat asal Flores di Jepang? Gaji Awal Rp 25 Juta, Ada Lembur dan Bonus

Martinus Moa, perawat binaan LPK Musubu Bali diantar para sahabatnya di Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar Bali dalam penerbangan ke Jakarta-Singapura-Okinawa, Selasa 29 September 2026. (dok.LPK Musubu Bali).

MAUMERE,dewadet.com-Berkarya di Jepang menjadi impian banyak anak muda Pulau Flores khususnya dan Provinsi Nusa Tenggara Timur  (NTT) umumnya.

Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Musubu berbasis di Bali didirikan tujuh tahun silam telah mengutus 71 orang perawat sebagai tenaga kerja profesional. Mereka berkarya di sejumlah rumah sakit di Negeri Sakura.

Jaminan pendapatan, penghargaan atas karya menjadi salah satu daya tarik. Tahukah Anda berapa pendapatan sebulan untuk pekerja yang baru tandatangan kontrak memulai karyanya?

Direktur Bidang Recruitment dan Partnership LPK Musubu, Yofani Francis Yuki, membeberkan bahwa sesuai kontrak kerja, mereka bekerja delapan jam sehari atau 25 hari sebulan, akan mendapat gaji rata-rata 1.280 Yen perjam atau sekitar Rp 1 juta perhari atau sebesar Rp 25 juta perbulan. Namun, penerapan di setiap perfektur berbeda-beda.

Baca juga:LPK Musubu Utus Empat Perawat Asal Flores Kerja di Jepang

Vonny Francis Yuki, sapaanya menjelaskan pendapatan tersebut akan dikurangi untuk pajak, asuransi kesehatan dan asuransi tenaga kerja. Kemudian biaya apartemen atau tunjangan perumahan, meski ada yang ‘sharing’ biaya antara perusahaan selain listrik, air yang harus ditanggungnya.  Ada juga tunjangan makan, meski ada juga yang tidak mendapatkanya.

“Jadi di tahun pertama kerja, gaji bersih diterima sekitar Rp 16-19 juta perbulan,” kata Vonny Francis Yuki, Rabu, 29 September 2026 di Maumere.

Setelah enam bulan berkarya, kata  Vonny Francis Yuki, di dalam kontrak tertulis akan diberi kesempatan lembur bekerja dalam shift.  Shift malam  berlaku dari pukul 15.00 sampai 23.00 dilanjutkan lagi dari pukul 23.00 sampai 07.00. Setelah itu mereka mendapat libur.

Dikatakanya, besar tarif sekali shift malam berbeda-beda antara satu kota dengan kota yang lain. Di ibukota Tokyo, sekali shift malam Rp 2,2 juta. Sedangkan di kota-kota lain berkisar Rp 1,3 sampai Rp 1,5 juta pershift. Maksimal bekerja shift malam tujuh kali sebulan.

Baca juga: Orang Jepang Terkesan Bersih dan Rapih Bengkel Kerja Politeknik Cristo Re Maumere

Vonny Francis Yuki menambahkan, bila dalam sebulan melakukan lima kali lembur bisa dapat minimal Rp 6,5 juta.

“Uang pesangon bisa diambil setelah lima tahun kontrak pertama selesai, nilainya sekitar Rp 200-an juta,” kata Vonny Francis Yuki.

Dikatakannya, investasi setiap perawat yang dididik oleh LPK Musubu lumayan besar akan dicicil selama setahun pada tahun pertama kerja. Namun dia tegaskan, cicilan itu tidak membuat mereka kekurangan uang.

Mereka juga dapat bonus setiap tahun diterima pada bulan Juli dan bulan Desember. Besar bonus sama dengan sebulan gaji.

Baca juga:Alumni Mesin Politeknik Cristo Re dan Pertanian STIPER Bajawa Wawancara Kerja di Jepang

“Jadi setelah enam bulan kerja, mereka sudah bisa dapat bonus. Tanggal 10 bulan Juli ditransfer bonus besarnya Rp 25 juta, dan tanggal 25 dibayar gaji Rp 25 juta, sehingga pada buan Juli dan Desember, mereka bisa terima Rp 50 juta perbulan,” katanya.

Selanjutnya kata Vonny Francis Yuki, pada tahun kedua masa kerja, pada bulan April selalu ada kenaikan gaji. Besarnya dihitung berdasarkan kinerja setiap pekerja, sehingga besarnya tidak sama. Performa kerja bagus akan mendapatkan lebih besar.

“Kesempatan ini sudah dinikmati oleh Rian Bajo asal Kecamatan Nita. Oleh kawan-kawanya, dia dipanggil orang kaya. Kinerjanya bagus sekali, sehingga naik gajinya juga besar sekali,” Vonny Francis Yuki tersenyum mencontohkan.

Baca juga:Owner Perusahaan Kuliner Asal Cina Temui Petani Kakao di Desa Bloro dan Petani Pala di Desa Rubit

Namun, hal yang utama menurut Vonny Francis Yuki bahwa  penghargaan terhadap skill pekerja di Jepang sangat bagus, sehingga ada pekerja yang enggan pulang.

Menurut Vonny Francis Yuki, orang Jepang sangat ‘wellcome’ dengan orang asing. Mereka sangat suka. Sopan santunya mengajarkan mereka untuk koreksi diri dan sangat mempengaruhi ‘attitude’ mereka. Kalau mereka pulang sangat kelihatan sekali standar-standar salam yang diterapkan, bukan hanya dengan kata-kata tapi dengan bahasa tubuh.

“Buat saya dan LPK Musubu, mengirim mereka ke Jepang, bukan cuma dapat gaji besar, tetapi juga belajar nilai-nilai baru,” tegas Vonny Francis Yuki.

Ia garisbawahi, LPK Musubu memandang anak-anak muda baru lulus sekolah bukan sebagai pasar, tetapi aset NTT. Bagaimana ‘value’ itu bisa dinaikkan, memberi kesempatan memiliki cara pandang lebih luas di luar negeri.

“Kalau terus di sana tentu menjadi duta NTT. Ketika balik, dia membawa nilai yang baik. NTT punya sumber daya manusia yang sudah terlatih dan teruji berkompetisi  di pasar kerja. Terbukti. Saat ini masih ada 40 yang sedang proses belajar dan persiapan ujian kompetensi di Asrama LPK Musubu Bali,” pungkas Vonny Francis Yuki.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan