Senin, 05 Oktober 2026. Hari Biasa Pekan XXVII. Peringatan Fakultatif St. Faustina Kowalska
Galatia 1:6-12; Lukas 10:25-37.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, kadang-kadang dalam perjalanan kita menjumpai seseorang yang membutuhkan pertolongan pada saat yang paling tidak nyaman bagi kita. Kita sedang terburu-buru, ada urusan pribadi yang tidak bisa ditunda, atau merasa bahwa orang itu bukan tanggung jawab kita. Pada saat seperti itulah hati kita diuji, apakah kita hanya melihat lalu meneruskan perjalanan, atau berani berhenti dan mendekat.

Dalam Injil hari ini, seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Siapakah sesamaku manusia?” Yesus tidak menjawab dengan definisi, tetapi dengan kisah seorang Samaria yang melihat korban penyamun dan “tergeraklah hatinya oleh belas kasih.”

Orang Samaria itu tidak bertanya siapa namanya, dari kelompok mana ia berasal, atau apakah nanti ia akan membalas kebaikannya. Ia mendekat, membalut luka, membawa orang itu ke penginapan, membayar perawatannya, bahkan berjanji menanggung kekurangannya.

Sesama ternyata bukan pertama-tama orang yang dekat dengan kita saja, melainkan siapa pun yang kesusahannya atau penderitaannya memanggil kita untuk mendekat.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Sia-siakan Kebun Anggur Tuhan

Di sinilah orang Samaria itu mempertemukan Injil dengan pertanyaan Paulus dalam bacaan pertama, “Adakah aku mencari kesukaan manusia atau kesukaan Allah?” Paulus menolak mengubah Injil hanya supaya dirinya diterima dan disukai orang, sebab seorang hamba Kristus tidak menjadikan pengakuan manusia sebagai ukuran kebenaran.

Orang Samaria itu melakukan hal yang sama melalui tindakannya. Ia tidak mencari pujian, tidak membuat story WA atau video TikTok tentang pertolongannya supaya dilihat banyak orang dan menjadi viral.

Ia menolong karena ada manusia terluka yang membutuhkan belas kasihnya. Orang Samaria itu berasal dari kelompok yang dipandang rendah oleh banyak orang Yahudi, tetapi justru dialah yang melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Imam dan orang Lewi melihat korban itu lalu melewatinya, sedangkan si Samaria melihat dan mendekat. Mencari kesukaan Allah ternyata bukan hanya soal mengatakan yang benar tentang Tuhan, tetapi berani melakukan yang benar bagi manusia yang terluka, sekalipun tidak ada seorang pun yang melihat, mengetahui, atau memuji kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ketika Hidup Tak Dimengerti, Kasih Tuhan Tetap Pasti

Karena itu, pertanyaan “ Siapakah sesamaku?” akhirnya dibalik Yesus menjadi pertanyaan yang lebih menantang, “Sudahkah aku menjadi sesama bagi orang lain?”

Di tengah kehidupan yang mudah membuat kita memilih siapa yang layak dibantu, siapa yang kita suka, siapa yang menguntungkan, dan siapa yang sebaiknya dihindari, Yesus mengajak kita memiliki hati seperti si Samaria.

Mungkin hari ini ada seseorang yang lukanya tidak terlihat, tetapi sedang menunggu kita berhenti untuk mendengarkan jeritan hatinya, membela ketika diperlakukan tidak adil, atau memberikan pertolongan yang sungguh dibutuhkan.

Jangan terlalu sibuk mencari kesukaan manusia sampai kita melewati manusia yang sedang membutuhkan belas kasih kita. Sebab sering kali kesukaan Allah tidak ditemukan dalam tepuk tangan banyak orang, tetapi di pinggir jalan, ketika kita berani berhenti, mendekat, dan menjadi sesama bagi seseorang yang terluka.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ditemani Malaikat, Belajar Menjadi Berkat

Petikan BUSA-H #05/10/2026

”Kebaikan yang paling tulus sering dilakukan dalam diam, ketika tidak ada mata yang melihat dan tidak ada pujian yang bergemuruh.”

”Sesama bukan hanya mereka yang dekat dengan kita, melainkan siapa pun yang penderitaannya membuat hati kita berani berhenti dan mendekat.”

”Jangan terlalu sibuk mencari kesukaan manusia sampai kita kehilangan kesempatan melakukan sesuatu yang berkenan kepada Allah.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jalan Kecil yang Menjangkau Dunia

“Kadang-kadang wajah Allah paling jelas kita temukan bukan di tempat yang menjadi perhatian banyak mata, melainkan pada wajah manusia terluka yang dilewati banyak orang, tetapi menunggu kita berhenti dan berbelas kasih.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan