BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Rasa Cukup: Harta Sejati Orang Beriman
Jumat, 19 September 2025. Hari Biasa Pekan XXIV. Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius 6:2c-12; Lukas 7:36-50.
Oleh: Rd,Fidelis Dua.
SAUDARI-saudara terkasih. Ada sekian banyak daftar keinginan yang tak ada habisnya dalam kehidupan kita. Ada yang ingin kekuasaan, ada yang mendambakan harta, ada yang mengejar popularitas.
Kita hidup dalam budaya “tambah terus”—punya rumah ingin yang lebih besar, punya gawai ingin yang lebih baru, punya jabatan ingin yang lebih tinggi. Ironisnya, semakin banyak yang kita miliki, semakin sering kita merasa kurang. Kita lupa bersyukur, lupa merasa cukup, dan pada akhirnya hati kita mudah dikuasai iri hati, curiga, bahkan pertengkaran.
Bukankah kita kerap melihat orang yang seharusnya bijak justru sibuk bersilat kata, mencari keuntungan pribadi, atau memakai agama demi gengsi?
Rasul Paulus hari ini mengingatkan Timotius dengan sangat tegas: ajaran sejati adalah ajaran yang sehat, yang sesuai dengan Kristus. Ia memperingatkan kita tentang bahaya orang yang hanya mencari kepentingan diri dalam iman. Kata Paulus, mereka “berlagak tahu, padahal tidak tahu apa-apa,” dan akhirnya jatuh dalam iri hati, fitnah, serta kehilangan kebenaran.
Sebaliknya, Paulus menegaskan: “Ibadah itu memang suatu keuntungan besar bila disertai rasa cukup.” Artinya, inti iman bukanlah soal keuntungan materi atau penghormatan, melainkan hidup sederhana dengan hati yang puas karena Allah sudah cukup bagi kita. Kita lahir tanpa apa-apa dan akan kembali kepada-Nya tanpa membawa apa-apa, maka yang terpenting adalah bagaimana kita menghidupi kasih, kebenaran, dan iman yang murni.
Injil hari ini melukiskan sisi yang sangat indah dari hidup beriman. Ketika Yesus berkeliling memberitakan Kabar Baik, bukan hanya kedua belas murid yang menyertai-Nya, tetapi juga sekelompok perempuan yang telah disembuhkan oleh-Nya. Maria Magdalena, Yohana, Susana, dan banyak perempuan lain melayani Yesus bukan dengan kata-kata, tetapi dengan pemberian nyata: harta mereka, tenaga mereka, waktu mereka.
Mereka tidak sibuk membuat daftar “apa yang harus mereka terima,” melainkan daftar “apa yang bisa mereka berikan.” Dari hati yang sudah disentuh dan disembuhkan oleh kasih Allah, mereka belajar memberi tanpa perhitungan, melayani tanpa menuntut balasan.
Saudari-saudara. Kita sering lebih sibuk menghitung kekurangan kita daripada menghitung berkat yang sudah kita terima. Kita lebih banyak menuntut dilayani daripada belajar melayani. Padahal, Yesus menunjukkan jalan sebaliknya: hidup bukan soal apa yang kita kumpulkan, melainkan apa yang kita berikan. Kebahagiaan sejati bukan terletak pada daftar keinginan yang tak ada habisnya, melainkan pada rasa cukup yang lahir dari hati yang bersyukur.
Maka, marilah kita belajar dari Paulus dan dari para perempuan dalam Injil. Jangan biarkan iman kita terjebak dalam ambisi atau kepentingan diri. Jangan gunakan agama sebagai alat mencari keuntungan, tetapi biarlah iman membuat kita rendah hati, sederhana, dan puas dengan apa yang ada.
Seperti para murid dan para perempuan, mari kita melayani dengan tulus, memberi dengan kasih, dan percaya bahwa Allah akan mencukupkan segala kebutuhan kita. Sebab kebahagiaan sejati bukanlah memiliki segalanya, melainkan hidup dalam kasih yang memberi tanpa pamrih.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Semakin kita mengejar banyak hal, hati kita justru terasa kurang; tetapi ketika kita belajar cukup dalam Allah, kita menemukan kelimpahan kasih yang sejati.”
“Kebahagiaan bukanlah apa yang kita genggam erat, melainkan apa yang kita lepaskan dengan kasih dan syukur.”
Tuhan memberkati kita.





