Rabu, 29 April 2026. Peringatan Wajib St. Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja,
Kisah Para Rasul 12:24 – 13:5a; Yohanes 12:44-50.

Oleh: Rd.Fidelis Dua

Embun pagi jatuh perlahan,
Menyentuh daun dari dahan yang patah,
Di saat hati diliputi beban,
Tuhan hadir memberi arah dan topangan.

Langit redup tertutup awan,
Cahaya kecil tetap menyala,
Meski hidup terasa rawan,
Terang kasih-Nya tak pernah sirna.

SAUDARI dan saudara terkasih. Banyak orang saat ini sedang berjuang dalam kegelapan hidup: menghadapi kegagalan, penolakan, kekecewaan, dan rasa tidak dihargai.

Di tengah semua itu, tidak sedikit yang kehilangan harapan, seolah hidup berjalan tanpa terang yang menuntun. Kita pun kadang bertanya dalam hati: ke mana harus melangkah ketika jalan terasa gelap dan masa depan tampak samar?

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Teguh, Berani Bersaksi Tanpa Keraguan

Dalam bacaan pertama, kita melihat bahwa di tengah dinamika hidup Gereja, Firman Allah terus bertumbuh dan menyebar bukan terutama karena usaha manusia, tetapi karena kuasa Allah sendiri.

Dalam suasana doa, puasa, dan ibadah, Roh Kudus berbicara dan memanggil: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku.” Inilah tanda bahwa Gereja bukan sekadar organisasi atau lembaga, melainkan misteri Allah yang hidup dan berkarya. Gereja adalah ruang perjumpaan antara Allah dan manusia, tempat Roh Kudus terus membimbing, memurnikan, dan mengutus umat-Nya untuk ambil bagian dalam karya keselamatan.

Realitas ini menjadi spirit hidup Katarina dari Siena yang dengan keberanian iman menanggapi suara Tuhan hingga mampu menggerakkan Gereja, termasuk ketika Gereja berada dalam situasi sulit.

Ia bahkan berperan dalam mendorong Paus Gregorius XI kembali dari Avignon Perancis ke Roma. Karena itu, kita pun dipanggil untuk tidak tinggal diam, tetapi berani mendengarkan suara Tuhan di tengah kebisingan hidup ini, dan setia mengambil bagian dalam hidup Gereja dengan iman yang hidup dan tindakan nyata.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih Sang Gembala Tanpa Batas, Mengapa Hati Kita Masih Terbatas? 

Dalam Injil, Yesus menegaskan diri-Nya sebagai terang yang datang ke dalam dunia, agar setiap orang yang percaya tidak tinggal dalam kegelapan. Terang itu bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk diikuti dan dihidupi.

Ketika kita mengalami gelapnya hidup entah karena luka, kegagalan, atau ketidakadilan, Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Ia hadir sebagai terang yang menguatkan dan memberi harapan.

Namun, terang itu hanya akan mengubah hidup kita jika kita berani percaya dan membuka hati. Percaya kepada Kristus berarti memilih untuk tidak tinggal dalam keputusasaan, tetapi berjalan dalam terang iman yang memberi arah dan makna.

Karena itu, saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk hidup sebagai Gereja yang mendengarkan dan sebagai murid yang berjalan dalam terang.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jadilah Injil yang Hidup: Berakar dalam Kebenaran, Siap Diutus

Dari bacaan pertama kita belajar untuk peka terhadap panggilan Tuhan yang lahir dalam keheningan dan doa; dari Injil kita diingatkan bahwa Kristus adalah terang yang menuntun kita keluar dari kegelapan hidup.

Maka, marilah kita membuka hati, setia pada panggilan kita, dan berjalan dalam terang Kristus. Sebab ketika kita hidup dalam terang dan ketaatan, hidup kita sendiri akan menjadi tanda kehadiran Allah yang bekerja dan membawa harapan bagi banyak orang.

Petikan BUSA-H untuk kita:

”Kegelapan hidup tidak pernah lebih kuat dari terang Kristus yang hadir dalam hati yang mau percaya.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tubuh dan Darah Kristus: Energi Kasih yang Mengubah

”Panggilan Tuhan lahir dalam keheningan, tetapi menghasilkan keberanian untuk mengubah dunia.”

”Ketika kita berjalan dalam terang iman, hidup kita tidak hanya menemukan arah, tetapi juga menjadi terang bagi sesama.”

Tuhan memberkati kita.#rd.fd@

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan