BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kedewasaan Iman Bukan Kenak-Kanakan

Gereja di Kampus IFTK Ledalero. (dewadet/eginius moa)

Rabu, 17 September 2025. Hari Biasa Pekan XXIV. 1 Timotius 3:14-16; Lukas 7:31-35.

Oleh Rd.Fidelis Dua

SAUDARI-saudara terkasih. Kehidupan kita dewasa ini terasa jauh dari kebenaran. Banyak orang lebih percaya pada opini di media sosial daripada sabda Allah; lebih sibuk mengejar citra diri ketimbang integritas; lebih rela hidup dalam kompromi daripada berpegang pada kebenaran yang terkadang terasa keras.

Kita pun mudah jatuh pada sikap menghakimi: kalau ada orang yang terlalu serius beriman, kita anggap fanatik; kalau ada orang yang terbuka dan ramah, kita curigai tidak konsisten. Hidup ini akhirnya dipenuhi komentar, tudingan, dan label, tetapi miskin kedalaman dan kebijaksanaan.

Rasul Paulus dalam bacaan pertama mengingatkan Timotius dan kita juga tentang identitas sejati kita, yakni umat Allah adalah keluarga Allah, jemaat Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran (1Tim 3:15).

Artinya, Gereja bukan sekadar institusi, melainkan sebuah rumah tempat kebenaran dijaga, ditegakkan, dan dihidupi. Menjadi anggota keluarga Allah berarti berperilaku sesuai iman, menjaga kesucian hidup, dan menjadi saksi kebenaran di tengah dunia yang sering kali menolaknya. Paulus bahkan menyebut rahasia iman itu “agung”: Kristus yang datang ke dunia, dimuliakan, dan kini menjadi dasar keselamatan kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Seperti Anak-Anak: Menjadi Tulus dan Sederhana

Namun, Injil hari ini menunjukkan betapa sulitnya orang menerima kebenaran itu. Yesus melukiskan generasi-Nya seperti anak-anak yang kekanak-kanakan: selalu menuntut orang lain sesuai ekspektasi mereka.

Yohanes Pembaptis dianggap kerasukan karena asketis; Yesus dianggap pelahap dan peminum karena bergaul dengan orang berdosa (Luk 7:33-34).

Manusia, ketika hatinya tidak matang, akan selalu mencari alasan untuk menolak kebenaran. Tetapi Yesus menutup dengan kalimat tegas: “Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya” (Luk 7:35). Artinya, kebenaran Allah hanya bisa dipahami oleh hati yang terbuka, sederhana, dan dewasa dalam iman.

Saudari-saudara. Bukankah sering kita pun seperti anak-anak dalam Injil? Kita cepat kecewa, gampang mengeluh, mudah mencela, dan sulit menerima sesuatu yang tidak sesuai selera kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Di Tengah Penolakan, Harapan dan Cahaya Tak Pernah Padam

Kita menuntut Allah hadir sesuai keinginan kita, padahal Allah bekerja dengan cara-Nya sendiri. Kita ingin iman yang instan, bukan ketaatan yang matang. Padahal, iman sejati bukan soal menyenangkan hati kita, melainkan soal kesetiaan pada kebenaran yang hidup.

Hari ini kita dipanggil untuk bertumbuh dalam kedewasaan iman. Bukan iman yang kekanak-kanakan, tetapi iman yang sederhana seperti anak kecil — penuh percaya, tulus, dan berani taat.

Menjadi keluarga Allah berarti berani menegakkan kebenaran, sekalipun dikritik, ditolak, atau disalahpahami. Dunia memang penuh suara yang membingungkan, tetapi Gereja dipanggil untuk tetap berdiri sebagai tiang penopang kebenaran itu.

Mari kita renungkan: apakah kita masih hidup dengan sikap kekanak-kanakan dalam iman, atau sudah bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa, teguh, dan bijaksana? Maukah kita, sebagai keluarga Allah, menjadi saksi kebenaran yang hidup di tengah dunia yang haus akan hikmat sejati?

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Maria Berduka Cita: Harapan yang Tidak Mengecewakan

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Iman yang matang bukan mencari Allah sesuai selera, melainkan menerima Allah yang bekerja dengan cara-Nya sendiri.”

“Di tengah dunia yang bising dengan komentar dan tudingan, hanya hati yang dewasa dalam iman mampu menjadi saksi kebenaran yang hidup.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan