Selasa, 04 Agustus 2026. Peringatan Wajib St. Yohanes Maria Vianney, Imam
Kitab Yeremia 30:1-2.12-15.18-22; Matius 15:1-2, 10-14.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara yang terkasih, “hati manusia bagaikan mata air. Jika sumbernya jernih, seluruh aliran kehidupan akan membawa kesegaran; tetapi jika sumbernya tercemar, segala sesuatu yang mengalir darinya pun kehilangan kejernihan.”
Demikianlah kedua bacaan Kitab Suci mengajak kita memandang kehidupan iman. Melalui Nabi Yeremia, Allah menunjukkan bahwa penderitaan umat bukan pertama-tama berasal dari keadaan di luar diri mereka, melainkan dari hati yang menjauh karena dosa.
Namun Allah tidak berhenti pada teguran. Dengan penuh belas kasih Ia berjanji memulihkan umat-Nya, mendekatkan mereka kembali kepada-Nya, dan menjadikan mereka milik-Nya.
Injil kemudian menegaskan arah yang sama ketika Yesus berkata, “Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Biarkan Keraguan Menenggelamkan Iman
Yesus mengingatkan bahwa sumber kebaikan maupun kejahatan bukan pertama-tama terletak pada keadaan di luar diri, melainkan pada hati yang menjadi sumber setiap perkataan, keputusan, dan tindakan.
Sebab hati yang dipenuhi kasih dan kebenaran akan memancarkan damai dan sukacita, sedangkan hati yang dikuasai kesombongan, kebencian, dan kepalsuan hanya akan melahirkan perkataan yang melukai, perbuatan yang mencederai, dan kehidupan yang menjauh dari Tuhan.
Dari kenyataan itu kita semakin memahami bahwa Allah tidak pernah menegur untuk menghukum, melainkan untuk memulihkan. Melalui Nabi Yeremia, Ia berjanji mengumpulkan kembali umat-Nya, mendekatkan mereka kepada-Nya, dan memperbarui perjanjian kasih-Nya.
Pemulihan itu mencapai kepenuhannya dalam ajaran Yesus yang menegaskan bahwa sumber persoalan manusia bukan pertama-tama berasal dari luar, melainkan dari hati yang membiarkan kesombongan, kebencian, iri hati, dan kepalsuan berakar.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kecukupan Ada dalam Hati yang Percaya
Karena itu, Yesus memperingatkan bahwa setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa akan dicabut sampai ke akar-akarnya.
Betapa sering kita sibuk memperbaiki penampilan lahiriah, tetapi lupa memurnikan hati sebagai sumber setiap perkataan, keputusan, dan tindakan.
Dari permenungan ini, marilah kita memelihara doa sebagaimana diajarkan Santo Yohanes Maria Vianney, “Di dalam doa yang dilakukan dengan baik, semua kesulitan lenyap seperti salju di bawah sinar matahari.”
Sebab doa yang sejati bukan sekadar rangkaian kata-kata, melainkan perjumpaan yang membiarkan Allah menjernihkan sumber hati kita, sehingga seluruh hidup memancarkan kasih, damai, dan kebenaran.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kebenaran yang Menguatkan Pengharapan
Karena itu, teruslah menjaga hati, sebab orang yang menjaga hatinya akan menjaga perkataannya, dan orang yang menjaga perkataannya akan menghadirkan damai bagi sesamanya.
Hati yang terus dimurnikan oleh rahmat Allah akan menjadi mata air yang tidak pernah berhenti mengalirkan kasih, pengharapan, dan sukacita ke mana pun kita melangkah.
Petikan BUSA-H #04/08/2026
”Hati yang dipenuhi kasih dan kebenaran akan memancarkan damai dan sukacita, sedangkan hati yang dikuasai kesombongan dan kepalsuan hanya akan melahirkan perkataan yang melukai serta perbuatan yang mencederai.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mengenal Kristus dengan Hati yang Terbuka
”Allah tidak pernah menegur untuk menghukum, melainkan menegur agar hati kita dipulihkan, didekatkan kembali kepada-Nya, dan diperbarui oleh kasih-Nya.”
”Doa yang sejati bukan sekadar rangkaian kata-kata, melainkan perjumpaan yang membiarkan Allah menjernihkan sumber hati sehingga seluruh hidup memancarkan kasih, damai, dan kebenaran.”
”Hati yang terus dimurnikan oleh rahmat Allah akan menjadi mata air yang tidak pernah berhenti mengalirkan kasih, pengharapan, dan sukacita ke mana pun ia melangkah.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@






