Sabtu, 16 Agustus 2025. Hari Biasa Pekan XIX. Kitab Yosua 24:14-29; Matius 19:13-15.
Oleh: RD.Fidelis Dua.
SAUDARA dan saudara yang terkasih, Yosua menegaskan kepada umat Israel untuk memilih dengan tegas kepada siapa mereka akan berbakti: “Hendaklah kalian takwa dan beribadah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas dan setia.”
Dalam hal ini Yosua mengingatkan bahwa hidup yang diberkati bukan terletak pada kenyamanan atau tradisi semata, tetapi pada kesadaran penuh akan penyertaan Tuhan dalam hidup. Kesetiaan kepada Allah berarti menempatkan Dia sebagai pusat kehidupan, menjadikan-Nya pedoman dalam keputusan, tindakan, dan hubungan dengan sesama.
Yesus menekankan pentingnya hati yang murni dalam relasi dengan Tuhan dan sesama seperti anak-anak: “Sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” Anak-anak, dengan kesederhanaan dan ketulusan mereka, menjadi teladan bagaimana kita harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam dunia yang penuh tuntutan sekarang, kita harus menjaga ketulusan hati dan kesederhanaan dalam setiap interaksi dengan orang lain.
Ketulusan hati berarti melakukan sesuatu dengan niat yang jujur, tidak berpura-pura, dan tanpa motif tersembunyi. Seseorang yang memiliki ketulusan hati akan bersikap apa adanya, menghormati orang lain, serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi semata. Tetapi tidak mudah menjadi tulus hati karena orang lain akan mengatakan bohong, pura-pura, atau banyak sandiwara.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kesetiaan dalam Jejak Tuhan
Sementara itu, kesederhanaan berarti hidup dan bertindak tanpa berlebihan, tidak mengumbar kekayaan, status, atau kemampuan, serta tidak sombong dalam perbuatan maupun kata-kata. Kesederhanaan juga tercermin dalam kemampuan menerima keadaan apa adanya, bersikap rendah hati, dan menghargai orang lain tanpa membandingkan diri secara berlebihan.
Dengan demikian, ketulusan hati dan kesederhanaan dalam interaksi dengan orang lain menuntut kita untuk bersikap jujur, terbuka, dan rendah hati, menghargai orang lain tanpa pamrih, serta membangun hubungan yang sehat, hangat, dan penuh kasih. Dalam konteks komunitas, hal ini membantu menciptakan lingkungan yang harmonis, saling percaya, dan mendukung pertumbuhan pribadi setiap orang.
Saudari dan saudara yang terkasih. Mari biarkan ketulusan hati dan kesederhanaan menjadi nafas setiap langkah kita, cahaya yang menerangi tindakan, kata, dan relasi kita. Seperti anak-anak yang menyerahkan diri tanpa syarat, marilah kita belajar untuk menghadapi dunia dengan hati jujur, tangan terbuka, dan jiwa rendah hati.
Dalam kesederhanaan, kita menemukan kedamaian; dalam ketulusan, kita menebar kasih yang menguatkan; dan melalui kesetiaan kepada Allah, kita menapaki jalan yang membawa hidup kita menuju Kerajaan-Nya. Semoga setiap pertemuan, setiap karya, dan setiap senyum yang lahir dari ketulusan dan kesederhanaan hari ini menjadi saksi hidup dari kasih Tuhan yang abadi, menginspirasi dan membentuk komunitas yang hangat, penuh persaudaraan, dan berbuah nyata bagi sesama.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kesetiaan dalam Jejak Tuhan
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Ketulusan hati adalah nyala api yang menembus keraguan, dan kesederhanaan jiwa adalah angin yang menyejukkan setiap langkah kita menuju Kerajaan Allah.”
“ Hidup yang murni bukan tentang kemegahan atau kata-kata indah, melainkan keberanian menempatkan Tuhan di pusat hati dan menyebarkan kasih melalui setiap tindakan sederhana yang tulus.”
Tuhan memberkati kita.






