Kamis, 24 Juli 2025. Hari Biasa Pekan XVI. Keluaran 19:1-2.9-11.16-20b; Matius 13:10-17.
Oleh: RD. Fidelis Dua.
SEORANG anak kecil pernah berkata kepada ibunya, “Aku ingin Tuhan berbicara padaku seperti Dia berbicara kepada Musa.” Sang ibu menjawab lembut, “Tuhan masih berbicara, Nak. Tapi kadang kita terlalu sibuk, terlalu takut, atau terlalu keras hati untuk mendengarkan.”
Ucapan polos ini menggambarkan realitas kita dewasa ini: Tuhan hadir, tetapi tidak semua hati siap menyambut-Nya. Tuhan bersabda, namun tidak semua telinga mau mendengarkan-Nya. Dunia kita penuh suara, penuh percakapan medsos, opini, kesibukan, dan ambisi tetapi semakin sedikit yang mendengarkan suara Tuhan.
Saudari dan saudara terkasih. Dalam bacaan pertama hari ini, kita melihat gambaran yang agung dan mendalam: Tuhan turun ke Gunung Sinai dalam awan tebal, disertai guruh dan gemuruh, di hadapan seluruh umat. Tetapi mengapa begitu dramatis? Karena umat Israel, meskipun telah dibebaskan dari Mesir, masih belum sungguh percaya dan mendengarkan.
Tuhan datang bukan hanya kepada Musa, tetapi agar seluruh bangsa dapat mendengar, percaya, dan gentar akan kekudusan-Nya. Allah ingin mengguncang kesadaran mereka, agar mereka menguduskan diri, agar mereka tahu: Allah itu nyata, dan perjumpaan dengan-Nya mengubah hidup.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Percaya, Bersyukur dan Berbuah
Dalam Injil, Yesus berbicara tentang rahasia Kerajaan Allah dengan perumpamaan. Para murid bertanya, “Mengapa Engkau berkata-kata dalam perumpamaan?” Yesus menjawab bahwa tidak semua hati siap menerima kebenaran. Mereka telah melihat, tapi tidak menangkap. Telah mendengar, namun tidak mengerti. Hati yang menebal oleh dosa dan keacuhan membuat mereka buta dan tuli secara rohani. Dan seperti dikutip dari nabi Yesaya, mereka tidak mau berbalik supaya disembuhkan.
Saudari dan saudara, ada keterkaitan erat antara Gunung Sinai dan perumpamaan Yesus, yakni tentang dua sisi dari satu kebenaran: Tuhan hadir dan berbicara, tetapi apakah kita mendengarkan-Nya dengan iman, atau menolak karena hati sudah tertutup? Tuhan menyatakan Diri dalam kemuliaan maupun dalam keheningan, dalam guntur Sinai maupun dalam perumpamaan. Namun tanah hati kita haruslah siap, agar suara Tuhan tidak berlalu begitu saja.
Paus Fransiskus pernah berkata, “Kita harus membiarkan diri kita terganggu oleh Sabda Tuhan. Jangan hanya mendengar dengan telinga, tetapi izinkan Sabda itu mengusik hati, mengguncang rutinitas, dan menuntun kepada pertobatan.”
Sabda bukan untuk disimpan dalam pikiran, tetapi untuk mengubah hidup. Namun perubahan hanya mungkin jika hati kita selalu terbuka.
Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketika Cinta Tak Lari dari Kekosongan
Saudari dan saudara, iman bukan hanya menerima kasih Tuhan, tetapi juga bersedia dikoreksi dan dibentuk oleh-Nya. Paus Fransiskus juga pernah mengingatkan, “Kita tidak bisa berjalan bersama Kristus jika kita menolak disapa oleh Sabda-Nya. Hanya hati yang rendah hati yang bisa mendengarkan Allah.”
Kadang Allah mengizinkan awan gelap, guruh kehidupan, atau kesunyian yang mencekam untuk membangunkan hati yang beku. Bukan untuk menghukum, tapi untuk menyembuhkan. Tuhan ingin kita bertumbuh, bukan sekadar bertahan. Maka bila hari ini Tuhan menegurmu lewat kesulitan hidup, dengarkan Dia! Bila firman terasa menusuk, jangan tolak, renungkanlah! Bila hidup sedang diguncang, siapkan dirimu, sebab bisa jadi Tuhan sedang turun di Gunung Sinai hidupmu.
Marilah kita membuka mata iman kita. Telinga batin kita. Hati yang kadang keras, biarlah dilembutkan oleh Sabda-Nya. Sebab “barangsiapa mempunyai” , yakni iman, kerendahan hati, dan kesediaan untuk mendengar akan diberi lagi. Tetapi jika kita terus menutup diri, bahkan yang kecil pun akan hilang.
Saudari dan saudara, Tuhan terus berbicara kepada kita setiap waktu. Namun, apakah kita masih mau mendengarkan-Nya? Semoga hari ini kita belajar tidak hanya percaya pada kasih Tuhan dan pengampunan-Nya, tetapi juga pada didikan-Nya yang menuntun kita menuju pertobatan dan kehidupan sejati. Sebab seperti Paus Fransiskus katakan, “Allah berbicara dalam hati yang tenang, dalam hati yang siap diubah, dan dalam hati yang mencari Dia.”
Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Tanda-TandaNya adalah Keselamatan
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Tuhan tidak pernah berhenti bersabda, yang berhenti adalah hati yang tak lagi mau mendengar. Kadang Ia datang dalam cahaya, kadang dalam awan, agar kita tidak hanya melihat, tapi sungguh percaya dan berubah.”
”Iman bukan sekadar menyambut kasih Tuhan, tapi juga keberanian untuk dikoreksi oleh-Nya. Suara-Nya bisa lembut seperti bisikan atau keras seperti guruh, yang penting hati kita cukup lembut untuk mendengarkan-Nya.”
Tuhan memberkati kita.






