BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Membalut Luka dengan Pakaian Kasih
Kamis, 11 September 2025. Hari Biasa Pekan XXIII. Kolose 3:12-17; Lukas 6:27-38
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Kita hidup di tengah dunia yang semakin keras. Media sosial dipenuhi ujaran kebencian, lingkungan kerja sering diwarnai persaingan tidak sehat, bahkan dalam keluarga pun kadang masih tersimpan luka karena kesalahpahaman.
Betapa mudah kita terjebak dalam sikap balas dendam atau menutup hati terhadap mereka yang melukai kita. Tanpa sadar, kita terkungkung dalam lingkaran kekerasan batin yang tak kunjung usai. Sampai kapankah kita membiarkan diri terus begini?
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose mengingatkan: “Kalianlah orang pilihan Allah, yang dikuduskan dan dikasihi Allah. Maka kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.”
Paulus berbicara seolah kita mengenakan pakaian baru setiap hari—pakaian yang tidak lahir dari ambisi duniawi, tetapi dari kasih Allah yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Belas kasih dan kemurahan bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kedewasaan iman. Sabarlah dan saling mengampuni, kata Paulus, sebab pengampunan adalah wajah Allah yang nyata dalam diri kita.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hidup yang Berakar dalam Kristus
Yesus dalam Injil Lukas hari ini membawa kita lebih jauh: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kalian, doakanlah mereka yang mencaci kalian.”
Bukankah ini terdengar mustahil? Namun justru di sinilah letak radikalitas kasih Kristiani. Kasih bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan untuk mengubah rantai kebencian menjadi aliran berkat. Memberi pipi yang lain, membiarkan jubah diambil, atau berbuat baik tanpa pamrih—semua ini bukan kelemahan, tetapi kekuatan batin yang lahir dari Allah. Kasih sejati tidak menunggu balasan, tetapi melahirkan pembaruan.
Saudari dan saudara. Bukankah dunia saat ini haus akan kasih yang seperti ini? Di tengah polarisasi politik, perpecahan sosial, dan retaknya relasi, kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih yang tidak terbatas.
Kasih yang memulihkan, bukan melukai; kasih yang membangun, bukan merobohkan. Jika kita berani melangkah dengan kasih, meski kecil, dunia di sekitar kita perlahan berubah. Maka, mari kita kenakan pakaian kasih setiap hari.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kelahiran Maria Awal Perjumpaan Baru Allah dengan Umat-Nya
Mari kita belajar mengampuni, mendoakan yang menyakiti, dan berbuat baik tanpa pamrih. Sebab pada akhirnya, kasihlah yang akan bertahan, dan kasihlah yang akan dikenang.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Kasih sejati bukan sekadar perasaan, melainkan keberanian untuk mengampuni dan memberi tanpa pamrih.”
“Hidup yang berakar pada kasih akan selalu melahirkan damai, meski dunia menawarkan kebencian.”
Tuhan memberkati kita.





