Jarang Terjadi, Dua Ekor Babi Dijual di Pasar Alok, Efek Demam Babi Afrika di Sikka

Seekor babi diduga terjangkit virus demam babi Afrika dijual di pinggir jalan menuju Pasar Alok di Kota Maumere, Pulau Flores, Selasa 13 Mei 2025. (dewadet.com)

MAUMERE,dewadet.com-Penyakit Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) yang kembali melanda Kabupaten Sikka pada bulan Oktober 2024 sampai saat ini berdampak serius terhadap penjualan babi hidup. Di Pasar Alok, Kota Maumere, Selasa 13 Mei 2025 hanya dua ekor babi  dijual itupun diduga telah terjangkit ASF.

Jual beli babi hidup berlokasi di sebelah barat dari pintu keluar pasar,  berdampongan dengan penjualan bahan bangunan lokal berupa balok kelapa dan bambu.

Dua ekor babi usia dewasa dijual inipun sangat kurus kondisinya. Kemungkinan telah terjangkit virus demam babi Afrika. Hampir satu jam, dewadet.com berada di lokasi tersebut, dua ekor babi tersebut tak kunjung dibeli.

Kondisi seperti ini jarang terjadi sebelumnya. Setiap hari Selasa merupakan hari pasar terbesar di Kabupaten Sikka ini biasanya menjual ratusan ekor babi berbagai ukuran dari kecil sampai besar atau dewasa.

Baca Juga: Dari Henga, Demam Babi Afrika Mewabah 13 Kecamatan di Sikka, 2.026 Babi Mati

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Yohanes Emil Satriawan, menduga menurunya penjualan babi hidup di Pasar Alok merupakan dampak penyakit demam babi Afrika.

Penyakit mematikan yang belum ada vaksin dan obat menyerang seluruh babi di Kabupaten Sikka. Padahal di hari-hari pasar sebelumnya, Pasar Alok menjadi lokasi transaksi babi hidup paling banyak.

“Minggu-minggu sebelumnya, papalele dan peternak jual babi penyakit. Ada babi yang mati ketika tiba di pasar ini,” kata Jemi Sadipun, sapaanya.

Ia mengatakan sosialisasi dan edukasi kepada papelele dan peternak mencegah virus demam babi Afrika sudah dilakukan berulang kali dengan berbagai metode. Tapi hanya sedikit orang yang memahami dan melaksanakanya.

Baca Juga: Demam Babi Afrika Merajalela di Sikka, Babi Mati Dijual Papalele di Pasar

“Papalele kebanyakan masa bodoh. Mereka beli babi murah-meriah lalu jual kembali, tapi harga di pasar juga murah meriah jarang dibeli,” tandas Jemi Sadipun.

Penyakit ASF telah menewaskan 2.206 ekor babi mulai muncul kembali pada bulan Oktober 2024 dan masih berlangsung sampai pertengahan bulan Mei menyebar pada 13 dari 21 kecamatan serta 39 desa dan kelurahan di Kabupaten Sikka. *

 

Penulis: Eginius Moa

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan