Magdalena Terharu Terima Kapolres Sikka, Jemput dan Antar ke Bendara Frans Seda

Kepala Kepolisian Resort Sikka, AKBP Bambang Supeno mengisi token listrik di kediaman Magdalena Yuliana,ibunda Afril, Rabu 19 Agustus 2025. (dok, polres sikka).

MAUMERE,DEWADET.COM-Kunjungan Kepala Kepolisian Resort Sikka, AKBP Bambang Supeno,S,IK, ke kediaman Magdalena Yuliana, ibunda Gregorius Paulus Afrizal, anggota Pasukan Pengibar Bencdera Pusaka (Paskibraka) nasional 2025, Rabu pagi 19 Agustus 2025 membikin haru Magdalena.

Kunjungan kekeluargaan itu untuk memberi apresiasi dan dukungan kepada keluarga Afril, sapaan Gregorius Paulus Afrizal. Siswa kelas XI SMAK Frater Maumere tampil dalam pasukan 17 dalam penurunan benedara pusaka peringatan HUT Kemerdekaan RI di Istana Merdeka Jakarta.

Kapolres Sikka menyampaikan rasa bangga dan hormat kepada orang tua Afrll yang telah mendidik anaknya hingga mengharumkan nama Kabupaten dan Provinsi NTT ke pentas nasional.

“Kami hadir untuk menyampaikan terima kasih dan dukungan penuh,” ujar Kapolres Sikka seperti disampaikan Kasi Penmas Sihumas Polres Sikka, Ipda Leonardus Tungga, Kamis pagi 21 Agustus 2025.

Baca juga:Asa Ibunda Afril, Jual Jagung Bakar dan Lego Kompor Minyak Demi Anak ikut Paskibraka, Wawancara Eksklusif di Televisi Nasional

Kapolres dialog dengan Magdalena mendapatkan banyak cerita dari Magdalena dalam mendidik anak-anaknya. Ia juga menyerahkan cendramata dan santunan serta bantuan sembako.

Kehadiran Polres Sikka merupakan bukti dukungan untuk masyarakat Sikka, terutama dukungan kepada generasi muda yang berprestasi. Diharapkan, kehadiran Kapolres Sikka bisa motivasi pelajar lain di Sikka untuk belajar sungguh-sungguh dan disipln meraih prestasi.

Setelah kunjungan ini, pada siang hari Kapolres Sikka juga menjemput dan mengantar Magdalena dari kediamannya menuju Bandara Frans Seda Maumere untuk selanjutnya diterbangkan dengàn pesawat menuju Jakarta. Pagi ini, 21 Agustus 2025, Magdalena akan menjalani wawancara eksklusif di salah satu stasiun televisi nasional.

Baca juga: Presiden Prabowo Beri Hadiah Afril Rp 50 Juta, Sukses di Paskibraka Nasional 2025

Jual Kompor Minyak demi Paskibraka

Kehidupan ibunda Afril sangat berat semenjak ditinggalkan oleh suaminya. Ia menjadi ‘single parent’menghidupi enam orang anaknya bekerja serabutan demi sesuap nasi dan pendidikan. Ojek sepeda motor, jual jakung bakar, nasi kuning, nasi merah dan bakso tusuk.

Si sulung Afril, dan adiknya, Aditya bahkan sebebelum berangkat sekolah pagi hari, mereka bangun dini hari mengolah bahan-bahan makanan untuk dijual oleh ibunya keesokan hari. Bila ada waktu luang, tak sibuk dengan sekolah dan latihan bela diri, Afril jual nasi kuning dan nasi merah, sedangkan setiap malam minggu, Afril dan Aditya menjajakan jagung bakar di arena car free night Jalan El Tari Maumere.

Penghasilan mereka sangat pas-pasan, Magdalena mengutamakan pendidikan semua anak-anaknya menjadi modal masa depan mereka. Dia mendidik semua anak dengan displin, salah satunya penggunaa handphone. Dia rutin memeriksa semua isi pesan di dalam handphone mereka.

Sosok Afril, sulung dari enam bersaudara, kata Magdalena, sudah tunjukan disiplin dan kerja keras sejak usia SD membantu jual es dan bakso tusuk. Ketikan Pandemi Covid-19 menyerang Magdalene, Afril dan Aditya jadi diandalkan Magdalena menghidupi mereka.

Baca juga: Magdalena Tahan Air Mata, Nonton Afril di Barisan Paskibraka Penurunan Bendera di Istana Merdeka

Siswa kelas XI SMA Frater Maumere, diakui Magdalena juga sangat displin menggukan waktu setiap hari untuk sekolah, belajar, latihan Karate, ektrakurikuler di sekolah, membantunnya di rumah dan tertib berdoa.

“Novena Tiga Salam Maeria tak pernah lepas. Pada saat pengumuman seleksi nasional, kami berada di Kupang, Afril ada di Gereja Asumta. Dia tahu dia lulus ketika sedang dia di sana,” kisah Magdalena.

Magdalena mengakui, perjuangan Afril mengikuti seleksi nasional sangat berliku. Pada saat verifikasi kesehatan, salah satu item pemeriksaan lupa diberi tanda centang oleh petugas laboratorium kesehatan di Maumere, sehingga Afril harus periksa ulang.

Pemeriksaan ulang ini membutuhkan biaya Rp 175.000. Tapi Magdalena tidak punya cukup uang terpaksa menjual kompor minyak tanah 30 sumbu yang selama ini digunakan unuk usaha makanan nasi kuning. Kompor tersebut dijual seharga Rp 700 ribu.

“Saya sampaikan ke Afril, mama tidak punya uang. Mama akan jual kompor kepada teman mama seorang guru bersedia beli Rp 700 ribu. Ketika pulanng sekolah, saya jemput di sekolah, saya sampaikan kompor sudah laku dan sore kita dokter periksa kesehatan,”cerita Magdalena.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan