Sabtu, 6 September 2025. Hari Biasa Pekan XXII. Kolose 1:21-23; Lukas 6:1-5.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Kita hidup di zaman yang begitu sibuk dan penuh tekanan. Orang-orang mengejar target pekerjaan, terjebak dalam rutinitas, terhanyut oleh arus media sosial, bahkan rela mengorbankan waktu bersama keluarga demi prestasi atau materi. Ironisnya, semakin kita berlari, semakin kita merasa hampa. Bukankah sering kita mendapati diri kita lelah secara fisik, tetapi juga kosong secara batin? Dalam situasi seperti ini, kita butuh sebuah pengingat: apa sebenarnya yang menjadi pusat hidup kita?
Dalam Surat Rasul Paulus kepada umat di Kolose, kita mendengar pesan yang sangat menenangkan: “Allah telah mendamaikan kalian, agar kalian ditempatkan di hadapan-Nya dalam keadaan kudus dan tak bercela.”
Paulus menegaskan bahwa kasih karunia Allah lebih kuat daripada dosa-dosa kita di masa lalu. Apa pun keterasingan yang pernah kita alami, Allah tidak membuang kita, tetapi justru mendekatkan kita. Ia tidak hanya memaafkan, tetapi memulihkan.
Inilah kabar sukacita: kita yang rapuh, penuh kelemahan, ditempatkan Allah di hadapan-Nya bukan sebagai orang berdosa yang hina, melainkan sebagai pribadi yang kudus dan berharga. Pertanyaannya: apakah kita sungguh percaya pada damai yang Allah berikan ini, atau kita masih terus menuduh diri sendiri dan terjebak dalam rasa bersalah?
Injil hari ini mengisahkan Yesus yang dituduh melanggar hukum Sabat karena para murid-Nya memetik bulir gandum di jalan. Jawaban Yesus mengejutkan: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
Ia menegaskan bahwa hukum Allah tidak dimaksudkan untuk membelenggu, melainkan untuk membebaskan. Sabat sejati bukanlah soal larangan kaku, tetapi ruang untuk mengalami Allah yang memberi hidup. Dalam terang ini, Yesus mengajak kita untuk tidak jatuh pada formalisme yang kering: taat aturan tetapi kehilangan kasih; sibuk beragama tetapi lupa mengasihi.
Saudari dan saudara, Sabda Allah hari ini berpadu indah. Allah mendamaikan kita, lalu Yesus mengingatkan bahwa relasi dengan Allah lebih utama daripada sekadar aturan. Maka hidup iman bukanlah soal menambah beban, melainkan menerima damai dari Allah yang memulihkan.
Kita dipanggil untuk melihat kembali hidup kita: apakah kita membiarkan hukum, rutinitas, dan kesibukan menutup mata hati, sehingga kita tidak lagi merasakan damai yang memerdekakan?
Hari ini kita diajak untuk sungguh percaya bahwa dalam Kristus kita sudah didamaikan, dipulihkan, dan diberi martabat baru. Kita juga diajak untuk berani menempatkan kasih di atas segala aturan kaku, tanpa kehilangan semangat kesetiaan. Sabat kita bukan lagi soal hari apa, melainkan saat kita membiarkan Allah hadir dalam kerja, dalam keluarga, dalam istirahat, dalam doa, dalam setiap perjumpaan kecil sehari-hari.
Semoga Roh Kudus menolong kita untuk hidup sebagai pribadi yang didamaikan, dibebaskan, dan dimampukan menjadi saksi kasih Kristus di tengah dunia yang penuh kegelisahan ini.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Kasih Allah bukan sekadar menghapus masa lalu, tetapi mengubah luka menjadi jalan menuju pemulihan.”
”Sabat sejati bukan berhenti dari pekerjaan, melainkan memberi ruang bagi Allah untuk bekerja dalam hidup kita.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eugenius Moa






