BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menjadi Serupa dengan Guru Agung
Sabtu, 11 Juli 2026. Peringatan Wajib St. Benediktus, Abas. Kitab Yesaya 6:1-8; Matius 10:24-33
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, banyak orang ingin berhasil, tetapi tidak banyak yang sungguh siap berusaha, bertekun, dan bekerja keras.
Kita senang menikmati kesuksesan, tetapi sering enggan menjalani proses yang panjang, jujur, dan penuh pengorbanan.
Hari ini Tuhan memperlihatkan bahwa keberhasilan sejati tidak diperoleh dengan jalan pintas, melainkan dari hati yang bersedia dimurnikan, dibentuk, dan diutus untuk semakin menyerupai Kristus.
Proses pembentukan itu tampak dalam pengalaman Nabi Yesaya. Di hadapan kemuliaan Allah, ia tidak membanggakan dirinya, tetapi justru berseru, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir.”
Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Tulus Tanpa Menjadi Lugu, Cerdik Tanpa Kehilangan Iman
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin jernih pula ia melihat keterbatasannya. Namun Allah tidak berhenti pada kesadaran akan dosa. Bara yang menyentuh bibir Yesaya menjadi lambang penyucian, bukan penghukuman.
Setelah dimurnikan, Yesaya mendengar suara Tuhan, “Siapakah yang akan Kuutus?” dan ia menjawab, “Ini aku, utuslah aku!”
Perutusan tidak lahir dari pribadi yang merasa paling mampu, melainkan dari hati yang terlebih dahulu dibentuk dan dimurnikan oleh rahmat Allah.
Hati yang telah dimurnikan itulah yang dipersiapkan untuk menjadi murid Kristus. Yesus berkata, “Seorang murid tidak melebihi gurunya, dan seorang hamba tidak melebihi tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih yang Diterima Harus Menjadi Kasih yang Dibagikan
Kalimat ini tidak berbicara mengenai kedudukan, melainkan keserupaan hidup. Murid sejati bukan pertama-tama orang yang mengetahui banyak ajaran, melainkan yang semakin menyerupai Gurunya dalam cara berpikir, berbicara, mengasihi, mengampuni, melayani, dan memikul salib.
Keberhasilan hidup beriman tidak diukur dari banyaknya pengetahuan rohani, tetapi dari sejauh mana wajah Kristus semakin tampak dalam diri kita.
Peringatan Santo Benediktus memperlihatkan jalan itu dengan sangat indah. Benediktus tidak mengubah Gereja melalui kekuasaan atau pidato yang hebat, melainkan melalui hidup yang tertata oleh doa, kerja, keheningan, dan ketaatan kepada Allah.
Semangat Ora et Labora mengajarkan bahwa doa tanpa karya menjadi hampa, sedangkan karya tanpa doa mudah kehilangan arah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mukjizat yang Membuka Mata Batin
Dunia saat ini membutuhkan pribadi yang tidak hanya pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi menghadirkan-Nya dalam disiplin, kerendahan hati, kesetiaan, dan pelayanan yang sederhana namun total setiap hari.
Saudari dan saudara terkasih, saat ini Kristus masih bertanya kepada kita, “Siapakah yang akan Kuutus?” Jawaban terbaik membentuk kehidupan yang semakin menyerupai Dia.
Marilah kita membiarkan Allah memurnikan hati kita, agar di tengah keluarga, tempat kerja, komunitas, dan masyarakat, kita sungguh menjadi murid yang memantulkan wajah Sang Guru Agung. Orang yang menyerupai Kristus akan membawa damai ke mana pun ia diutus.
Petikan BUSA-H untuk kita #11/07/2026@
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Tidak Pernah Terlambat
“Kesuksesan hidup tidak diperoleh secara instan melalui jalan pintas, melainkan dari kesediaan untuk dibentuk oleh proses panjang dan dimurnikan oleh perjuangan.”
“Nama dapat menunjukkan identitas, tetapi hanya keserupaan dengan Kristus yang membuktikan seseorang sungguh murid-Nya.”
“Doa membentuk hati, kerja mewujudkan kasih; keduanya menjadikan hidup sebuah kesaksian.”
“Semakin kita menyerupai Kristus, semakin kehadiran kita menjadi kabar baik bagi sesama.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





