Tahun 2030, Tak Ada HIV Baru pada Bayi dan Kematian karena AIDS di Sikka

Pekerja seks komersial dirazia tim gabungan Satpol PP Sikka, Polres Sikka, Kodim Sikka dan Lanal Maumere, pada Rabu dini hari 19 November 2025 dari hotel dan kamar kos di Kota Maumere, Kabupaten Sikka. (dewadet.com/eginius moa).

MAJUMERE,dewadet.com-Penanggulangan kasus HIV dan AIDS di Kabupaten Sikka, Pulau Flores ditargetkan terwujudnya Sikka Bebas AIDS 2030.

Tidak ditemukan kasus HIV baru pada bayi  baru lahir karena orangtuanya yang terinveksi HIV sudah diobati. Tidak ada kasus kematian karena AIDS, karena layanan kesehatan sudah tersedia dan mudah dijangkau, persediaan obat, dokter dan perawat yang berkompeten. Dan, tidak ada lagi diskriminasi dan stigma kepada orang dengan HIV menandai fase pencapaian itu.

“Masyarakat sudah kondusif menerima kehadiran orang dengan HIV, sehingga mereka yang terinfeksi bisa mengakses layanan tanpa merasa takut atau malu,” kata Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka, Simon Subandi, dalam konferensi pers bersama Sekretaris KPAD Sikka, Yohanes Siga, dan Kepala Dinas Infokom Sikka, Veri Awales, Kamis pagi di Kantor Bupati Sikka.

Simon, menjabat Wakil Bupati Sikka,  mengakui  telah banyak upaya penanggulangan HIV dengan Program STOP singkatan dari Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan.

Baca juga:Ibu Rumah Tangga dan Petani di Sikka Dominasi Penderita HIV dan AIDS

Dengan suluh atau menyuluh, kata Simon, kita mengubah cara pandang masyarakat bahwa HIV adalah penyakit kronis yang dapat dikelola supaya warga memahami penularanya, pencegahan dan pengobatan. Upaya ini harus dilaksanakan terus-menerus sampai mereka paham .

“Penyuluhan secara terus kontinu warga bisa menemukan dia terinfeksi atau tidak dari tanda dan gejalah yang dialami, sehingga bisa diperiksa sesuai prosedur medis,” jelas Simon.

Bila telah ditemukan, lanjut Simon, diperiksa sesuai prosedur maka perlu diobati tanpa melihat CD4 atau one day treatment.

Karena pengobatan HIV berlangsung seumur hidup dibutuhkan komitmen untuk mempertahankanya. Sebab, besar kemungkinan terjadi drop out dan mungkin dalam proses pengobatan, pelibatan keluarga untuk pemantauan minum obat.

Baca juga:1.225 Penderita HIV dan AiDS di Sikka, Terbanyak AIDS 857 Orang

Simon menjelaskan perhatian akan  menyasar ibu hamill, populasi kunci, pasien TB, pasangan orang dengan HIV wajib test HIV, pemeriksaan HIV melalui mobile VCT di Puskesmas, sosialisasi HIV AIDS. Pelibatan masyarakat dan organisasi warga peduii AIDS di desa atau kelurahan  serta distribusi kondom kepada populasi kunci dan beresiko.

Ditegaskan Simon, meski Sikka mengalami keterbatasan fiskal, setiap tahun pemerintah menyediakan anggaran dengan besaran yang bervariasi.

“Tahun 2020-2023 masing-masing Rp 500 juta. Tahun 2024-2025 masing-masing Rp 400 juta,” tegas Simon.

Diberitakan sebelumnya, penyakit HIV dan AIDS di Kabupaten Sikka terus meningkat di tengah praktek prostitusi ilegal yang juga makin marak. Akumulasi data tahun 2003 sampai bulan Juli 2025 sebanyak 1.225 HIV dan AIDS.

Baca juga:Kondom Bekas di PJC, Pria Bertato sampai Grup Layanan, Temuan Prostitusi Remaja di Kota Maumere   

Terbanyak penderita AIDS sebanyak 857 orang dan HIV 368 orang dengan angka kematian 260 kasus. Kasus HIV dan AIDS ini telah menyebar di semua kecamatan menyerang semua kelompok umur dan profesi.

Dari 1.225 kasus HIV, 652 orang aktif ARV dan yang melakukan tes viral load sebanyak 304 orang (hasilnya virus tidak terdeteksi). Sedangkan lost to folow up atau mangkir sebanyak 96 orang.

Menurut resiko terinfeksi kelompok heteroseks menempati urutan teratas 1012 kasus disusul homoseks 135, perinatal 51 kasus, yang tidak diketahui 23 kasus dan 4 kasus penasun.*

Penulis: Eginius Moa

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan