Kondom Bekas di PJC, Pria Bertato sampai Grup Layanan, Temuan Prostitusi Remaja di Kota Maumere
MAUMERE,dewadet.com-Praktek prostitusi liar di kalangan remaja sekolah di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores dalam tingkatan mengkhawatirkan bagi masa depan. Mereka tergabung dalam grup pesan WhatsApp yang terhubung diantara mereka memberikan pelayanan.
Bangunan lopo-lopo di Pusat Jajan dan Cinderamata (PJC) Kota Maumere, dan Patung Kuda merupakan lokasi prostitusi liar berdasarkan penelusuran informasi oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Sikka.
“Di lopo-lopo di PJC sering terjadi kalau pagi, banyak sekali kondom bekas. Ada germonya juga di sana. Ada laki-laki. Kita telusuri lebih lanjut banyak tato di badan, usianya sekitar 20-an tahun,” kata Kepala UPTD PPA Dinas P2KBP3A Sikka, Yani Yosepha, dalam paparan di Rakor Penyedia Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak di Lantai II Hotel Pelita, Kamis siang 24 Oktober 2025.
“Dia (pria bertato) ini yang fasilitasi beberapa anak sekolah. Dari beberapa sekolah. Mereka pake aplikasi bahkan grup WA yang menghubungkan dari satu ke satu,” Yani Yosepha menambahkan.
Baca juga:Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI: 80 Persen Terpidana Kekerasan Seksual Huni Rutan di Pulau Flores
“Jadi misalnya kalau hari ini dia tidak bisa melayani maka dioper ke teman yang lain. Itu beberapa hal yang kami dapatkan. Butuh kerja bersama untuk bisa ditangani, dicegah tidak terjadi,” saran Yani Yosepha.
Sementara dalam kesempatan terpisah usai Rakor, pegiat perempuan dan anak Sikka ini juga menyebut selain lokasi PJC, juga di Patung Kuda (perempatan Tugu Gong Waning) di Jalan Ahmad Yani.
“Nanti bisa diinvestigasi lebih lanjut. PJC, dan Patung Kuda. Dan itu diitemukan oleh teman-teman dari Satpol PP. Ada transaksi seskual di fasilitas umum. Kontribusi kepada kasus. Cuman praktek-praktek itu tidak dlaporkan. Kami akan tindak lanjuti kalau ada laporan,” kata Yani Yosepha.
“Atau kami temukan secara langsung. Inikan masih kepada penelusuran informasi. Kalau kami tanyakan kepada anak yang bersangkutan tidak mengaku,” kata Yani Yosepha.
Baca juga:Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI: 80 Persen Terpidana Kekerasan Seksual Huni Rutan di Pulau Flores
“Kalau anak sekolah jumlahnya lumayan banyak diatas 10 orang. Mereka punya grup WA, MiChat. Nanti bisa konfirmasi dengan KPA, karena mereka kan biasa penjangkauan di kasus-kasus di lumbung, kasus perempuan rawan. Kategori prostitusi anak. Kalau mau ditarik bagaimana? Siapa mucikarinya. Kan tidak ada,” tandas Yani Yosepha.
Mereka saling bersepakat di antara mereka. Kita mau tangkap siapa. Paling pelaku, kalau kita menemukannya. Kalau tidak temukan? Terus siapa yang fasilitasi. Diantara anak-anak semua.
Menurut Yani Yosepha, fenomena ini perlu dicegah dengan kerja kolaborasi. Upaya prevenfentif digalakan secara masif oleh semua stakeholder terkait.
“Jangan sampai kita kehilangan generasi. Perilaku seksual, salah satu indikatornya bisa dilihat pada angka IMS dan HIV yang tinggi. Kita bisa sebut prostitusi anak terjadi, tapi siapa yang bisa membuka itu (tabir),” imbuh Yani Yosepha.
Baca juga:Empat Bulan Pelarian DPO Kekerasan Seksual Anak Dibawah Umur Ditangkap di Rumah
Rakor Penyedia Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak dibuka Sekda Sikka, Adrianus Firminus Parera, dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak (P2KBP3A), Petrus Herlemus dihadiri peserta lintas sector didukung Unicef. *




