Selamat Jalan Kor Kewa Ama, Wartawan Kompas: Memilih Daerah Merah yang Dihindari Jurnalis

Kornelis Kewa Ama (tengah kemeja putih) berada di Redaksi Pos Kupang, tahun 2019. (dok )

KUPANG,dewadet.com-Ramai di grup-grup media sosial, Rabu malam 11 Maret 2026 menulis kepergian wartawan Kompas, Kornelis Kewa Ama  menghentak saya. Sudah lumayan lama tak dengar kabar beritanya setelah dia purna tugas.

Saban tahun ketika ia masih aktif di Kompas (cetak), komunikasi dengan Kor, sapaan Kornelis sering terjadi. Entah lewat chat dan telpon, kami  saling menanyakan kabar dan berbagi informasi di daerah-daerah  di Flores, ketika saya masih aktif menjadi editor di pos kupang dan tribunflores.com di wilayah Flores.

Ia selalu… teman, apakah kabar dari seberang telphonnya?. Singkat cerita ngalor ngidul kemudian tanya-tanya  informasi atau kejadian yang sedang tranding di Flores. Banyak diskusi dan bertukar informasi, tapi satu yang yang beda dan tak lekang dan ciri khas dari Kor adalah dialek Lamaholot—Adonara.

Padahal, Kor bertugas di banyak tempat. Sebagaimana kebanyakan orang, akan turut mengubah pula kesehariannya. Pengecualian bagi Kor. Dia merawatnya.

Baca juga:Bupati Manggarai, Kandidat Penerima Trofi Abyakta PWI Pusat 2026

Kepergian Kor mengejutkan di kalangan rekan-rekan seprofesi.  Ia ditemukan terkapar di kawasan Kuanino dan dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Leona, Kupang oleh polisi dan dinyatakan meninggal oleh tim medis RS tersebut seperti dikutip dari nttbicara.com.

Belum diketahui apakah wartawan senior tersebut jatuh akibat kecelakaan lalu lintas atau penyebab lainnya. Diperoleh informasi, Kornelis diduga serangan jantung dan jatuh dari sepeda motor yang dikendarainya.

Kabar duka berpulangnya Kornelis, bermila di grup WhatsApp jurnalis di NTT. Di grup Pengurus PWI NTT, Erik dari Antara meneruskan informasi dari media sosial yang disertai dengan foto KTP almarhum.

Kalangan jurnali baru yakin ketika kabr duka itu diupload Sipri Seko dari Pos Kupang/Tribunnews  bahwa benar Kornelis Kewa Ama telah meninggal dunia di RS Leona.

Baca juga:PWI dan BTN Teken Kerjasama Serahkan 100 Rumah Subsidisi untuk Wartawan di Jabodetabek

“Info duka, telah meninggal dunia Bp Kornelis Kewa Ama, warga RT 02,RW 02 Kelurahan Liliba pada hari ini, Rabu 11 Maret 2026. Alamat rumah duka, depan SD Inpres Liliba, Jalan menuju RSJ. Info pemakaman menyusul. Segenap warga RT 01,RW 02 menyampaikan turut berduka cita,” tulis Sipri di Grup WA  Pengurus PWI NTT.

Informasi yang sama juga disebarkan Elcid Li di WAG FAN Peduli Gempa El Nino & Rabies. Anggota grup pun menyampaikan turut berduka cita dan komentar terkait Kornelis Kewa Ama.

Sementara mantan wartawan Kompas, Jannes Eudes Wawa,Rabu (11/3/2026) malam sedang ada di Kupang mengatakan sudah melayat almarhum di kamar jenazah rumah sakit.

Sosok Kornelis merupakan wartawan yang unik, kata Jannes. Awal masuk Kompas, Kor langsung ditugaskan di daerah konflik Timtim saat itu.

Baca juga:Putusan Mahkamah Konstitusi; Wartawan Tak Dapat Langsung Dituntut karena Kerja Jurnalistik

Selepas tugas di Timtim, Kor menjalani masa transisi di Jawa lalu memilih ditugaskan di Papua merupakan daerah garis merah yang penuh dengan tantangan yang berat, namun dirinya menikmati.

Kornelis di mata Jannes yang pernah menjabat Redaktur Nusantara yang membawahi NTT, tempat almarhum bertugas, orangnya  sangat rajin turun ke lapangan untuk menulis dan melaporkan ke redaksi Kompas di Jakarta. Sehari dia mengirim 4-5 berita. Kornelis  juga tak pernah mengeluh tentang penugasan.

“Dia sangat menikmati tugas jurnalistik, rajin turun ke lapangan dan pandai membangun relasi. Kemampuan membangun relasi di semua level sangat bagus sehingga banyak mendapat berita eksklusif. Berita yang ada di dasar lumpur dia bisa menggali dan menyajikan secara lugas didukung dengan data-data yang akurat,” kata Jannes.

Insting Kornelis sebagai wartawan sangat tajam mencermati berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat. Ia juga unik, memilih ‘daerah merah’ yang dihindari banyak jurnalis.

Baca juga:Ketua Dewan Pers: Wartawan Bodrex, Preman yang Gunakan Kartu Palsu Peras Pemda

“Kita tahu, Timor Timur (kala itu) dan Papua selama Kor ditugaskan di sana adalah wilayah yang berkali-kali dilanda gejolak keamanan dan ketertiban masyarakat. Selama berada di tempat penugasan baik di Timor Timur hingga ke Papua, ia ibarat lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya,” kata Jannes.

Semasa terjun di dunia jurnalistik, Kornelis pernah bertugas enam bulan di Solo, Jawa Tengah. Tak lama setelah itu ia mengikuti pelatihan pengangkatan menjadi karyawan tetap.

Dia pindah tugas ke Jayapura pada tahun 1999 menggantikan wartawan Kompas Octo Mote, yang melarikan diri ke luar negeri karena diduga terlibat gerakan Papua merdeka.

Setelah 6 tahun bertugas di Papua, pada Juli 2006, dia dipindahtugaskan di Kupang, NTT. Selama di Kupang, Kornelis menorehkan banyak karya jurnalistik yang eksklusif dengan feature yang mendalam. Kornelis adalah wartawan Kompas yang sederhana, mudah bergaul, suka membagi pengalaman liputan.

Baca juga:Ketua Dewan Pers: Wartawan Bodrex, Preman yang Gunakan Kartu Palsu Peras Pemda

Dia juga pandai melihat angel sehingga berita-beritanya eksklusif walau acara-acara yang diliput bersama wartawan lain.

Jannes mengaku kaget mendapat kabar duka tersebut, karena selama ini tak pernah mendengar Kornelis sakit.

“Yang saya tahu beberapa waktu lalu dia mengantar istrinya berobat di Jawa dan sudah kembali ke Kupang. Tahun lalu saya sempat ketemu, setelah kami sama-sama pensiun dari Kompas. Dan, saat ketemu almarhum terlihat sehat. Namun dia menyampaikan bahwa jantungnya sedikit terganggu,” kata Jannes.

Gabriel Goa,Tenaga Ahli Kementerian Ham RI Bidang Human Trafficking dan HAM Berat, menyebut pers tidak hanya pilar demokrasi tetapi  juga pilar HAM. Kor, selalu menyuarakan dan membela korban pelanggaran HAM lewat karya jurnalistik.

Baca juga:Pater Viknesh: Wartawan Punya Kekuatan Mengetahui Kebenaran

“Ia menulis dan menyuarakan ‘voice of the voiceless,’ meneguhkan perjuangan kami terus setia belarasa dengan korban voice off the voiceless. Seperti Sang Guru yang setia melakukan nnnuntiare (menyuarakan kebenatan, menegakkan keadilan, menciptakan perdamaian dan menjaga keutuhan ciptaan Tuhan),” Gabriel mengirim pesan kepada dewadet.com, Kamis siang.

Ia membongkar hingga ke akar-akarnya struktur yang jahat. Korupsi dan menindas wong tjilik serta merampok hak-hak ekosob wong tjilik voice of the voicelss dengan menata kembali sistem yang adil untuk kepentingan bonum communae.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan