Minggu, 18 Januari 2026.Hari Minggu Biasa II. Kitab Yesaya 49:3.5-6; 1 Korintus 1:1-3; Yohanes 1:29-34

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, kita sering merasa cukup ketika hidup berjalan aman dalam lingkaran kecil yang kita pahami dan kuasai. Kita puas ketika tugas-tugas kita kelar, target tercapai, dan orang-orang di sekitar kita tampak baik-baik saja.

Namun di balik kepuasan, ketercapian, dan rasa aman itu, sering tersembunyi kegelisahan yang perlahan menggeliat dalam hati dan bertanya: ” Apakah hidup ini sungguh hanya berhenti pada pencapaian dan kenyamanan semacam itu?”

Sabda Tuhan hari ini menyingkapkan kegelisahan ini dengan tegas bahwa hidup manusia tidak pernah dimaksudkan hanya untuk dirinya sendiri. Allah menghendaki hidup kita menjadi terang yang melampaui kepentingan pribadi dan menjangkau lebih jauh dari batas-batas yang sempit. Allah membuka cakrawala panggilan yang jauh lebih luas daripada rasa aman dan kepuasan manusia.

Dalam nubuat Yesaya, Tuhan menegaskan bahwa panggilan hamba-Nya tidak boleh disempitkan. Terlalu kecil bila hidup hanya diarahkan untuk membenahi diri sendiri atau kelompok sendiri dan mengamankan yang sudah ada. Allah memanggil umat-Nya menjadi terang bagi bangsa-bangsa agar keselamatan-Nya menjangkau sampai ke ujung bumi.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Bersedia Dibentuk, Dipilih Oleh Tuhan

Ini bukan soal prestasi besar atau pengaruh luas, melainkan kesediaan membiarkan hidup dipakai Allah bagi kebaikan yang melampaui kepentingan pribadi. Dalam kehidupan nyata, Sabda ini menantang kita yang sering puas menjadi baik untuk diri sendiri tetapi enggan menjadi berkat bagi orang lain.

Nada yang sama bergema dalam salam Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Ia tidak memulai pewartaan dengan tuntutan, melainkan dengan anugerah. ”Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai kamu.” Paulus menyadari bahwa perutusan dan pelayanan tidak pernah bersumber dari kekuatan manusia semata.

Setiap orang yang diutus Tuhan selalu lebih dahulu diteguhkan oleh kasih karunia dan diliputi oleh damai sejahtera. Tanpa keduanya, pelayanan mudah tergelincir menjadi ambisi pribadi atau sekadar pencarian pengakuan.

Dalam hidup sehari-hari, tidak sedikit orang bekerja keras dan melayani dengan niat baik, namun perlahan kehilangan ketulusan dan daya pengorbanan demi kebaikan bersama. Hal itu terjadi ketika orang mulai mengandalkan kekuatan sendiri, sibuk menyusun program dan kegiatan yang tampak spektakuler dan mengesankan, tetapi lupa bahwa sumber kekuatan sejati hanya berasal dari Allah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah – Harian) Bangkitlah, Pengampunan Allah Membuka Masa Depan

Injil Yohanes membawa kita pada puncak pewartaan ini melalui kesaksian Yohanes Pembaptis. Ia tidak mengarahkan perhatian pada dirinya, melainkan menunjuk kepada Yesus dengan berkata, ”Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”

Sebuah gelar yang mengakui Yesus sebagai Dia yang mempersembahkan diri, memikul dosa, dan membuka jalan pendamaian antara Allah dan manusia. Yohanes mengakui bahwa ia mengenal Yesus bukan karena kedekatan pribadi, melainkan karena ia melihat Roh Kudus turun dan tinggal di atas-Nya.

Pengakuan ini lahir dari pengalaman iman yang jujur dan rendah hati. Yohanes tidak menjelaskan segalanya, ia hanya memberi kesaksian tentang apa yang ia lihat dan imani. Di sinilah inti kesaksian Kristen bahwa berbicara tentang Tuhan bukan dari teori atau kepentingan diri, melainkan dari perjumpaan nyata yang mengubah arah hidup.

Pengakuan Yohanes akan Yesus sebagai Anak Domba Allah mengguncang cara hidup manusia yang sering ingin menyelamatkan diri sendiri dengan kekuatan, prestasi, dan kendali pribadi. Di tengah dunia yang sibuk membuktikan diri dan mempertahankan kenyamanan, Anak Domba Allah menghadirkan keselamatan melalui penyerahan diri, kerendahan hati, dan kasih yang rela berkorban.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Iman yang Tidak Memperalat Tuhan

Ia mengajak manusia keluar dari lingkaran sempit kepentingan diri untuk menjadi terang bagi sesama, bukan dengan kuasa yang menguasai, melainkan dengan hidup yang dipersembahkan. Ketika kita berani percaya dan memberi kesaksian seperti Yohanes, hidup kita pun diarahkan bukan hanya untuk aman dan cukup, tetapi untuk menjadi jalan agar keselamatan Allah menjangkau lebih jauh melalui kehadiran kita.

Saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita bahwa hidup kita dipanggil lebih luas dari yang sering kita rencanakan. Misalnya ketika kita memilih jujur dan setia pada nilai kebenaran dan keadilan meski itu membuat kita tidak populer, atau ketika kita berani memberi perhatian dan waktu kepada mereka yang terpinggirkan meski tidak mendatangkan keuntungan apa pun bagi diri kita.

Kita dikuatkan oleh kasih karunia, ditenangkan oleh damai sejahtera, dan diutus untuk memberi terang melalui kesaksian hidup yang nyata. Ketika kita berani membuka diri pada karya Roh Kudus dan menunjuk kepada Kristus dalam kata dan tindakan, hidup kita menjadi jalan keselamatan bagi sesama.

Dari sanalah hidup menemukan maknanya yang sejati, bukan karena kita hebat, tetapi karena Allah setia berkarya melalui diri kita.

Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Belajar Mendengarkan agar Sabda Berbuah

Petikan Butiran Sabda hari ini:

“Hidup yang hanya mencari rasa aman akan mengecil, tetapi hidup yang diserahkan kepada Allah akan menjadi terang bagi banyak orang.”

“Keselamatan tidak lahir dari kekuatan dan kenyamanan, melainkan dari hidup yang berani dipersembahkan seperti Anak Domba Allah.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan