BUSA-H (Butiran Sabda Allah – Harian) Bangkitlah, Pengampunan Allah Membuka Masa Depan
Jumat, 16 Januari 2026. Hari Biasa Pekan I. Kitab Pertama Samuel 8:4-7.10-22a; Markus 2:1-12.
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Kita sering merasa lebih aman ketika hidup diatur dan dikendalikan oleh kekuatan yang kelihatan, seperti kekuasaan, aturan, jabatan, uang, atau jaminan manusiawi lainnya. Kekuatan-kekuatan itu memang menenangkan hati sesaat, seolah memberi kepastian dan kendali.
Namun di balik rasa aman itu tersembunyi kegelisahan, sebab yang kelihatan tidak selalu sanggup menyelamatkan dan menjawab jeritan terdalam hati manusia. Pergulatan batin inilah yang juga dialami umat Allah sejak dahulu, dan Sabda Tuhan menyingkapkannya dengan jujur dalam kisah Bangsa Israel.
Bacaan pertama memperlihatkan bangsa Israel yang menuntut seorang raja seperti bangsa lain. Mereka ingin pemimpin yang bisa dilihat, diandalkan, dan dibanggakan. Tuhan menegur pilihan ini karena keinginan itu lahir dari penolakan halus terhadap pemerintahan Allah sendiri. Peringatan Tuhan sangat keras ketika kalian berteriak karena rajamu Tuhan tidak akan menjawab.
Sabda ini membuka mata kita bahwa ketika manusia lebih percaya pada kuasa dunia daripada kehendak Allah maka ia menuai akibat dari pilihannya sendiri. Dalam hidup nyata hal serupa terjadi ketika iman digantikan oleh kelekatan pada jabatan, uang, pengaruh, atau rasa aman palsu. Tuhan tidak berhenti mengasihi, tetapi manusia harus belajar menanggung konsekuensi dari hati yang tidak lagi bersandar penuh pada-Nya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Iman yang Tidak Memperalat Tuhan
Di tengah kerapuhan manusia yang sering menggantungkan harapan pada kuasa yang kelihatan, Injil menyingkapkan wajah Allah yang bekerja dengan cara yang jauh lebih dalam dan menyelamatkan.
Injil Markus menampilkan jawaban Allah yang sejati bagi kerinduan manusia. Ketika seorang lumpuh dibawa kepada Yesus, Yesus tidak langsung menyembuhkan tubuhnya, tetapi lebih dahulu mengampuni dosanya. Di dunia ini Anak Manusia memiliki kuasa pengampunan dosa. Kuasa ini melampaui semua kuasa manusia karena menyentuh akar terdalam hidup manusia.
Yesus menunjukkan bahwa pemulihan sejati dimulai dari hati yang diperdamaikan dengan Allah. Ketika dosa diampuni, manusia dipulihkan secara utuh, maka tubuh pun bangkit dan hidup diarahkan kembali pada jalan yang benar dan penuh harapan.
Pengampunan bukan tanda kelemahan, melainkan kuasa ilahi yang membebaskan, menyembuhkan, dan membuka masa depan baru. Setiap pengampunan mesti ditanggapi dengan iman yang hidup, pertobatan yang nyata, dan keberanian untuk berjalan dalam hidup yang diubah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Belajar Mendengarkan agar Sabda Berbuah
Saudari dan saudara terkasih. Sabda Tuhan hari ini menantang kita untuk jujur memeriksa landasan dan sandaran hidup kita secara benar. Apakah kita baru berseru kepada Tuhan ketika cara dan sistem yang kita bangun sendiri gagal, ataukah sejak awal kita sungguh mempercayakan hidup kepada kuasa Tuhan yang menyelamatkan? Kelumpuhan apa yang paling membuat kita tak berdaya hari-hari ini, kelumpuhan iman, harapan, keberanian, atau kasih?
Di hadapan kelumpuhan itu, Yesus tidak pernah berhenti bersabda kepada kita, ”bangkitlah, imanmu memulihkanmu.” Inilah sabda yang menembus ketakutan dan membangunkan harapan kita dari keterpurukan.
Ketika kita berani menyerahkan seluruh hidup kepada Yesus dan membuka diri pada pengampunan-Nya, bukan hanya kelumpuhan kita yang dipulihkan, tetapi arah hidup kita pun diperbarui. Dari situlah hidup menjadi lebih bermakna, lebih kokoh, dan dituntun oleh keutamaan yang mengarah pada keselamatan serta bonum commune bagi sesama.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Doa yang Didengar dan Hidup yang Diutus
”
Iman yang berserah tidak kehilangan masa depan, sebab Tuhan sendiri yang menjadi jalannya.”
”Semua kuasa dunia hanya memberi kendali sesaat, tetapi keberanian berserah kepada Tuhan, tidak akan dibiarkan tinggal dalam kelumpuhan.”
Tuhan memberkati kita.





