BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kita Dipanggil Bukan Karena Mampu, Tetapi Karena Dibentuk
Jumat, 23 Januari 2025. Hari Biasa Pekan II. Kitab Pertama Samuel 24:3-21; Markus 3:13-19
Oleh: Rd.Fidelis Dua
Saudari dan saudara terkasih, panggilan Tuhan sering lahir dari tempat yang tidak kita duga. Ia memilih yang tampak biasa, mengurapi yang masih rapuh, dan mempercayakan karya besar-Nya kepada mereka yang sadar akan keterbatasannya.
Artinya, yang utama bukanlah kesempurnaan, melainkan kerendahan hati untuk taat dan setia. Di sinilah panggilan menemukan maknanya yang sejati, yakni ketika hidup bersedia dibentuk Tuhan, bukan untuk berkuasa dan meninggikan diri, tetapi untuk melayani sesuai kehendak-Nya.
Dalam kisah Daud, kita melihat hati yang taat dan setia kepada kehendak Tuhan. Daud memiliki kesempatan untuk membalas Saul, namun ia memilih menahan diri karena menghormati orang yang diurapi Tuhan. Ia tidak membiarkan kuasa dan peluang menguasai hatinya. Sikap Daud yang demikian menegaskan bahwa panggilan selalu dijaga oleh ketaatan dan kerendahan hati.
Dalam hidup sehari hari, kita sering tergoda menggunakan posisi, jabatan, atau pelayanan untuk meninggikan diri dan berkuasa, padahal panggilan sejati justru mengajak kita menjaga hati agar tetap bersih dan tidak mengkriminalisasi sesama.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mengelola Emosi dalam Terang Kasih Kristus
Injil Markus menampilkan Yesus yang memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan mereka pun datang kepada-Nya. Yesus tidak pertama-tama memanggil mereka untuk doing atau melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, melainkan untuk being atau menjadi sahabat dan tinggal bersama-Nya. Kedekatan dengan Yesus inilah yang menjadi sumber dari setiap perutusan.
Tanpa relasi yang hidup dan intim dengan Yesus melalui ekaristi, doa, meditasi, dan devosi, pelayanan kehilangan jiwanya dan kita mudah berubah menjadi aktivis yang lelah tanpa daya rohani. Kita bisa tampak sibuk, aktif, bahkan berhasil, tetapi batin menjadi kering dan letih ketika lupa bahwa panggilan selalu berawal dari tinggal bersama Kristus.
Dengan tinggal bersama Kristus, kita menyadari bahwa kita dipanggil dan diutus bukan karena sudah mampu, melainkan supaya dimurnikan dan dibentuk agar sungguh mampu menurut kehendak Tuhan. Panggilan bukan panggung untuk memamerkan kehebatan, melainkan ruang pembelajaran bagi kerendahan hati. Allah sedang mengerjakan sesuatu yang indah melalui kerapuhan kita.
Karena itu, jangan saling berdusta di antara sesama yang terpanggil, jangan menutup kelemahan dengan topeng kepintaran, dan jangan mengeraskan hati terhadap sesama.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Keberanian Iman di Tengah Goliat Kehidupan
Saudari dan saudara terkasih, panggilan Tuhan bukan milik segelintir orang, melainkan anugerah bagi setiap orang beriman dalam situasi hidupnya masing-masing. Di keluarga, di tempat kerja, di tengah masyarakat, dan dalam kesederhanaan keseharian, kita semua diundang untuk tinggal dekat dengan Yesus, belajar rendah hati seperti Daud, dan membiarkan Tuhan membentuk hati serta pilihan hidup kita.
Ketika kita setia dalam kedekatan dan taat dalam perutusan kecil yang dipercayakan, Allah berkarya melalui hidup kita untuk menyalakan kebaikan, menghadirkan damai, dan menumbuhkan harapan bagi dunia. Dari sanalah panggilan menjadi nyata, bukan karena siapa kita, melainkan karena Tuhan setia bekerja melalui kita. Tinggallah dekat dengan Yesus, hiduplah rendah hati, dan biarkan Tuhan berkarya melalui kesetiaan kecilmu setiap hari.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Panggilan sejati tidak diukur dari seberapa besar yang kita kerjakan, melainkan dari seberapa setia kita tinggal bersama Tuhan yang memanggil.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Allah Berkarya Melampaui Ukuran Manusia
”Ketika kita rendah hati dan setia dalam tugas-tugas kecil, Allah mengubah kerapuhan kita menjadi jalan bagi karya-Nya yang besar.”
Tuhan memberkati kita.





