BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kebenaran Selalu Mengganggu: Bertahan atau Menyerah
Jumat, 27 Maret 2026. Hari Biasa Pekan V Prapaskah (Hari Pantang). Kitab Yeremia 20:10-13; Yohanes 10:31-42.
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Ada satu pengalaman manusiawi yang sering kita alami, tetapi jarang kita akui dengan jujur bahwa kita ingin melakukan yang benar, tetapi takut menanggung akibatnya. Kita ingin jujur, tetapi takut ditolak. Kita ingin setia, tetapi takut dianggap berbeda. Kita ingin berdiri di pihak kebenaran, tetapi takut “dilempari batu”: penolakan, cibiran, bahkan kehilangan relasi.
Dalam Bacaan Pertama hari ini, kita melihat sisi lain dari Nabi Yeremia. Ia bukan sosok tanpa takut, melainkan manusia rapuh yang berkata, “Kegentaran dari segala jurusan!” Ia diintai, dikhianati, bahkan oleh sahabatnya sendiri.
Namun ia tidak lari. Ia tetap berdiri bukan karena kuat, tetapi karena percaya: “Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah.” Di sinilah iman menjadi nyata bukan bebas dari takut, tetapi tetap setia di tengah ketakutan.
Injil hari ini menunjukkan Yesus dalam situasi yang lebih tajam. Orang-orang mengambil batu untuk melempari-Nya. Ironisnya, bukan karena kejahatan, tetapi karena kebenaran yang Ia nyatakan. Yesus tidak mundur. Ia tetap melangkah, karena bagi-Nya kebenaran bukan sekadar diucapkan, tetapi dihidupi sampai tuntas.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Janji Tuhan dan Rapuhnya Kesetiaan Kita
Saudari dan saudara, kebenaran sering ditolak bukan karena salah, tetapi karena mengganggu: mengganggu kenyamanan, kepentingan, dan topeng yang kita bangun.
Filsuf Søren Kierkegaard pernah berkata, “Kebenaran selalu berada dalam minoritas.” Artinya, hidup benar tidak selalu membuat kita diterima, bahkan kadang disingkirkan. Dan jujur saja, kita pun kadang menolak kebenaran itu bukan karena tidak tahu, tetapi karena hidup kita belum benar.
Selama kita masih menyimpan kepalsuan dan kemunafikan, kita akan selalu merasa terganggu oleh kebenaran. Maka pertobatan bukan pertama-tama soal berbicara benar, tetapi hidup dalam kebenaran itu sendiri. Yeremia berani karena ia hidup benar. Yesus lebih lagi karena Ia sendiri adalah Kebenaran itu.
Mendiang Paus Fransiskus pernah mengingatkan bahwa iman yang sejati tidak membuat kita nyaman, tetapi menggerakkan kita keluar dari kenyamanan. Karena itu, dalam masa Prapaskah ini terlebih pada hari pantang hari ini, kita diajak bukan sekadar menahan diri secara lahiriah, tetapi berani menanggalkan kepalsuan dalam diri: pantang dari sikap mencari aman, pantang dari kebiasaan menyembunyikan kebenaran, pantang dari iman yang hanya hidup di permukaan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kabar Sukacita yang Mengusik Kenyamanan
Inilah yang oleh teolog Dietrich Bonhoeffer yang hidup di tengah tekanan rezim Nazi, menyebutnya sebagai bahaya “anugerah murah,” yaitu iman tanpa harga, pengampunan tanpa pertobatan, dan kekristenan tanpa salib.
Padahal mengikuti Kristus selalu menuntut keberanian untuk membayar harga, meski mungkin hanya berupa kehilangan kenyamanan, popularitas, atau citra diri. Namun inilah kabar baiknya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan yang setia. Yeremia yang ketakutan tetap bisa bersaksi: “Tuhan telah melepaskan nyawa orang miskin.” Yesus yang diancam tetap berjalan dalam rencana Bapa.
Saudari dan saudara terkasih, hari ini kita pun dihadapkan pada pilihan sederhana tetapi menentukan: jujur atau tidak, setia atau kompromi, berani atau diam. Di situlah iman diuji dan di situ pula menyatakan Tuhan selalu hadir bukan untuk menghilangkan pergulatan, tetapi untuk meneguhkan kita di dalamnya.
Pada akhirnya, bukan mereka yang tidak pernah takut yang menjadi kudus, melainkan mereka yang tetap berjalan bersama Tuhan di tengah ketakutan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Ular ke Salib: Jalan Pulang kepada Keselamatan
Petikan BUSA-H untuk kita:
”Iman bukan soal merasa tenang, tapi berani tetap benar meski hati tidak tenang.”
”Kalau kebenaran terasa mengganggu, maka yang perlu berubah bukan kebenaran, tetapi hidup kita.”
“Selama kita hidup dalam kepalsuan, kebenaran akan terasa seperti ancaman; tetapi ketika kita hidup dalam kebenaran, kebenaran menjadi kebebasan.”
Tuhan memberkati kita.#rd.fd@





