BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Janji Tuhan dan Rapuhnya Kesetiaan Kita
Kamis, 26 Maret 2026. Hari Biasa Pekan V Prapaskah. Kitab Kejadian 17:3-9; Yohanes 8:51-59.
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, janji tidak pernah berdiri sendiri; selalu ada perjanjian, dan perjanjian selalu menuntut kesetiaan. Kita semua pernah mengucapkan janji dan mengikatkan diri dalam perjanjian dengan Tuhan maupun dengan sesama.
Pertanyaannya, sejauh mana kita sungguh menghayati dan menghidupi perjanjian itu dengan setia dan penuh komitmen?
Dalam bacaan pertama, kita melihat Abraham tersungkur di hadapan Allah. Ia tidak bernegosiasi dan tidak menuntut kepastian, tetapi mengambil sikap yang jelas yakni menerima janji Allah. Allah menjanjikan sesuatu yang hampir mustahil menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
Namun janji itu langsung diikuti dengan tuntutan: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku.” Artinya, Abraham tidak hanya percaya, tetapi juga siap hidup setia dalam relasi dengan Allah, bahkan sebelum janji itu terwujud.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kabar Sukacita yang Mengusik Kenyamanan
Di sinilah letak kejujuran hidup kita. Kita sering mengukur Tuhan dari seberapa cepat janji-Nya terpenuhi untuk kita, tetapi Tuhan melihat kita dari seberapa setia kita memegang perjanjian-Nya.
Kita mudah berkata, “Tuhan, penuhi janji-Mu,” tetapi kita sendiri sering ingkar. Misalnya, kita berjanji setia dalam doa, tetapi mudah meninggalkannya ketika sibuk; kita berjanji hidup jujur, tetapi tetap mencari jalan pintas; atau dalam keluarga, kita berjanji setia, tetapi kurang memberi waktu dan perhatian yang tulus.
Atau dalam hidup panggilan, kita pernah berkomitmen untuk melayani dan mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati, tetapi dalam perjalanan kita menjadi setengah-setengah, mudah lelah, dan mencari kenyamanan diri. Inilah wajah nyata ketidaksetiaan kita.
Dalam Injil, Yesus berkata, “Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Sabda ini bukan sekadar janji tentang hidup kekal di masa depan, tetapi undangan untuk hidup dalam relasi dengan Allah sejak sekarang.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Ular ke Salib: Jalan Pulang kepada Keselamatan
Namun respons orang-orang justru keras: mereka menolak, bahkan hendak melempari Yesus. Mengapa? Karena Yesus tidak hanya memberi janji, tetapi menuntut ketaatan. Dan ketaatan itu selalu mengusik kenyamanan dan kemapanan manusia.
Penolakan itu sebenarnya tidak hanya terjadi pada masa Yesus, tetapi juga terjadi dalam hidup kita hari ini, bukan dengan batu di tangan, tetapi dengan hati yang menutup diri. Kita tidak melempari Yesus, tetapi kita menunda, mengabaikan, dan menyeleksi firman-Nya sesuai kenyamanan kita.
Saudari dan saudara, kita hidup di zaman yang menyukai hasil cepat dan kepastian instan. Tanpa sadar, kita bisa memperlakukan Tuhan hanya sebagai pemenuh harapan kita, bukan sebagai Pribadi yang mengikat kita dalam perjanjian-Nya. Kita datang kepada Tuhan saat butuh, tetapi menjauh ketika firman-Nya menuntut perubahan.
Inilah bentuk halus penolakan kita. Tuhan tidak memaksa kita; Ia mengundang dan memberi kebebasan. Namun justru dalam kebebasan itu, pilihan kita menjadi sangat jelas dan tegas: tetap setia dalam perjanjian, atau perlahan menjauh dan mengingkarinya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tulisan di Tanah, Cermin Bagi Dosa Sendiri
Dan sering kali, penolakan terbesar bukan terjadi saat kita berkata “tidak,” tetapi saat kita berkata “ya” tanpa pernah sungguh menjalaninya.
Untuk itu kita tidak cukup hanya percaya pada janji Tuhan, tetapi berani hidup dalam perjanjian dengan-Nya melalui sikap setia, taat, dan tetap tinggal dalam firman-Nya, apa pun situasi hidup kita.
Marilah kita mengingat kembali janji-janji yang pernah kita ucapkan, termasuk komitmen selama masa Prapaskah ini: apakah sungguh kita hidupi, atau hanya kita ucapkan tanpa kesetiaan dan komitmen?Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya kepada kita.
Marilah kita menghidupi setiap “ya” yang pernah kita katakan kepada Tuhan. Tetapi ukurannya bukan dari seberapa indah kita berjanji, tetapi seberapa setia kita menjalani janji itu dalam seluruh hidup.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ketika Segalanya Seolah Selesai, Tuhan Justru Memulai
Petikan BUSA-H untuk kita:
”Nilai hidup kita di hadapan Tuhan bukan ditentukan oleh seberapa cepat janji-Nya terpenuhi, melainkan oleh keberanian kita setia pada perjanjian-Nya bahkan saat hasilnya belum terlihat.”
”Kita tidak menolak Tuhan dengan batu di tangan, tetapi dengan hati yang menutup diri ketika kita memilih kenyamanan daripada ketaatan pada firman-Nya.”
”Penolakan paling halus bukan saat kita berkata “tidak” kepada Tuhan, tetapi saat kita berkata “ya” tanpa pernah sungguh menghidupinya dalam tindakan nyata.”
Tuhan memberkati kita.#rd.fd@





