Senin, 06 Juli 2026. Hari Biasa Pekan XIV. Kitab Hosea 2:13.14b-15.18-19; Matius 9:18-26

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, ada saat-saat dalam hidup di mana harapan terasa layu, doa seakan tidak lagi didengar, dan penantian berubah menjadi kelelahan.

Tidak sedikit orang menyerah karena mengira Allah telah terlambat datang. Padahal, di mata Tuhan, apa yang tampak berakhir sering kali justru menjadi awal dari karya kasih-Nya yang baru.

Harapan itu telah lama dinyatakan melalui Nabi Hosea. Allah berbicara kepada umat yang telah menjauh dan melukai kasih-Nya, namun Ia tidak membalas dengan hukuman yang membinasakan.

Sebaliknya, Allah berkata, “Aku akan membujuk dia, membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kelegaan: Saat Kristus Ikut Memikul Beban Kita

Menarik bahwa padang gurun, tempat yang sering dianggap sunyi dan gersang, justru menjadi ruang Allah memulihkan cinta yang terluka. Ia mengikat kembali perjanjian-Nya dengan kasih setia dan belas kasih. Allah tidak pernah lelah memberi kesempatan baru bagi hati yang bersedia kembali kepada-Nya.

Janji pemulihan itu mencapai kepenuhannya dalam karya Yesus. Di tengah tangisan karena seorang anak perempuan telah meninggal, Yesus berkata, “Pergilah! Karena anak ini tidak mati, tetapi tidur!”

Orang banyak menertawakan-Nya karena mereka hanya melihat kenyataan di depan mata. Namun Yesus melihat lebih dalam daripada apa yang dapat dilihat oleh mereka.Sesudah keramaian diusir, Ia masuk, memegang tangan anak itu, lalu anak itu bangkit.

Menarik bahwa mukjizat dimulai bukan dengan kata-kata yang keras, melainkan dengan sentuhan kasih. Di tangan Kristus, apa yang dianggap telah berakhir dapat memperoleh kehidupan yang baru.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman Tidak Hanya Dipertahankan, Tetapi Harus Selalu Diperbarui

Kisah ini mengingatkan bahwa ada banyak hal dalam hidup yang tampaknya “mati”: relasi yang retak, keluarga yang kehilangan kehangatan, semangat yang meredup, doa yang mulai ditinggalkan, atau harapan yang hampir padam.

Sering kali kita seperti orang banyak yang cepat menyimpulkan bahwa semuanya telah selesai. Kristus mengajak kita melihat dengan mata iman. Bagi-Nya, tidak ada hati yang terlalu jauh untuk dipulihkan dan tidak ada kehidupan yang terlalu hancur untuk dibangun kembali. Yang diminta-Nya hanyalah kepercayaan agar Ia dapat memegang tangan kita.

Saudari dan saudara terkasih, jangan menyerah hanya karena jalan terasa gelap. Tetaplah membuka hati bagi Tuhan yang setia mencari, memanggil, dan memulihkan.

Pada saat kita bersedia menggenggam tangan Kristus, kita akan menemukan bahwa kasih-Nya selalu datang pada waktu yang tepat. Tuhan Yesus tidak bekerja menurut jadwal kita, tetapi Ia tidak pernah terlambat menghadirkan rahmat dalam setiap kehidupan kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Luka yang Melahirkan Iman

Petikan BUSA-H untuk kita #06/07/2026@

“Allah tidak pernah terlambat; Ia selalu datang pada saat harapan hampir menyerah.”

” Tangan yang digenggam Kristus akan menemukan kekuatan untuk bangkit, meskipun air mata belum seluruhnya kering.”

“Di mata iman, yang tampak berakhir dapat menjadi awal dari karya kasih Allah yang baru.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hati yang Diampuni Tak Pernah Tetap Lumpuh

“Kristus tidak hanya membangkitkan yang mati; Ia juga menghidupkan kembali hati yang hampir kehilangan harapan.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan