BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Ada di Sampingmu, Meski Tak Kau Sadari

BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Ada di Sampingmu, Meski Tak Kau Sadari

Minggu, 19 April 2026. Hari Minggu Paskah III. Kisah Para Rasul 2:14.22-33; 1 Petrus 1:17-21; Lukas 24:13-35.

Oleh:Rd.Fidelis Dua

Jalan berliku menuju Emaus,
Langkah gontai di senja hari,
Tuhan hadir tanpa terasa,
Menyapa hati yang hampir mati.

Pergi ke pasar membeli selasih,
Tak lupa membeli bunga melati,
Walau jalan kadang terasa letih,
Tuhan setia menemani hati.

SAUDARI dan saudara terkasih. Dalam kehidupan kita sekarang, tidak jarang hati kita dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Banyak peristiwa datang tidak sesuai harapan, bahkan mengguncang arah dan fokus hidup kita.

Kita berjalan seperti dua murid di jalan menuju Emaus: melangkah perlahan dengan hati yang berat, berbicara tentang harapan yang terasa runtuh, mengenang masa lalu dengan luka yang belum sembuh, dan tanpa sadar menutup mata terhadap kehadiran Tuhan yang sebenarnya berjalan di samping kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Tengah Badai, Tuhan Hadir: Kita Takkan Tercerai-Berai

Kita terus berjalan, tetapi hati terasa jauh; kita berbicara, tetapi jiwa tetap kosong seperti hidup yang tetap bergerak, namun kehilangan makna. Dalam situasi seperti inilah kita dihadapkan pada pilihan: tetap berjalan dalam kebingungan, atau membuka hati untuk menyadari kehadiran Tuhan yang setia menyertai kita.

Selagi kehidupan ini masih berpihak, jangan pernah kita melangkah tanpa arah dan tanpa Tuhan di dalamnya, sebab hanya bersama-Nya kita menemukan ketenangan sejati, harapan yang baru, dan hati yang kembali menyala.

Saudari dan saudara terkasih, untuk memaknai kembali kehidupan agar lebih terarah dan bermakna, Sabda Tuhan hadir menuntun dan menerangi langkah kita. Dalam bacaan pertama, Rasul Petrus berdiri dengan penuh keberanian dan bersaksi, “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.”

Kesaksian itu tidak lahir dari teori, melainkan dari pengalaman nyata akan perjumpaan dengan Kristus yang hidup. Petrus yang dahulu diliputi ketakutan, kini tampil teguh karena hatinya telah disentuh oleh kuasa kebangkitan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Setia dalam Iman, Berlimpah dalam Berbagi

Inilah panggilan bagi kita: hidup tidak cukup hanya mengetahui jalan, tetapi harus dijalani dengan iman yang teguh dan keberanian untuk bersaksi. Karena itu, dalam kehidupan ini, kita dipanggil untuk berani membuka hati mengalami Tuhan secara pribadi, tekun mendengarkan Sabda-Nya, dan setia melangkah dalam terang kehendak-Nya.

Sebab ketika kita sungguh mengalami Tuhan yang hidup, langkah kita tidak lagi ragu, melainkan mantap, karena kita tahu bahwa Dia yang bangkit berjalan di depan, menuntun dan menguatkan kita.

Selanjutnya, dalam bacaan kedua, Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita telah ditebus bukan dengan sesuatu yang fana, melainkan dengan darah Kristus yang amat berharga. Penebusan ini menyingkapkan betapa besar kasih Allah kepada kita.

Hidup kita bukan lagi milik kita sendiri, tetapi milik Dia yang telah menyelamatkan kita. Maka, kita mesti hidup dengan penuh hormat kepada Allah, dalam kesadaran bahwa hidup kita memiliki nilai yang luhur di hadapan-Nya. Karena itu, setiap langkah kita bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan jawaban atas kasih Allah yang lebih dahulu kita terima dalam Yesus Kristus.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Taat Kepada Allah di Tengah Godaan Kekuasaan

Saudari dan saudara terkasih, Yesus Kristus yang telah dibangkitkan Allah adalah puncak cinta Allah yang terbesar, yang senantiasa menyertai perjalanan hidup kita. Betapa sering kita tidak menyadari kehadiran itu!

Dalam Injil, kita mendengar kisah dua murid yang berjalan ke Emaus dengan hati yang hancur dan harapan yang seakan sirna. Mereka tidak menyadari bahwa Yesus berjalan bersama mereka, menjelaskan Kitab Suci, dan perlahan menghangatkan hati mereka. Baru ketika roti dipecahkan, mata mereka terbuka dan mereka mengenali-Nya.

Pengalaman ini mengajarkan bahwa Yesus sering hadir dalam cara yang sederhana melalui Sabda dan Ekaristi namun kita kerap lalai untuk mengenali-Nya.

Padahal, Kristus yang bangkit senantiasa hadir, menyelamatkan, dan mengutus kita. Ia bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan kenyataan yang hidup hingga hari ini. Ia berjalan bersama kita, menebus kita dengan kasih-Nya, dan menguatkan kita untuk menjadi saksi-saksi-Nya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Setia pada Kebenaran, Hidup dalam Kebebasan

Karena itu, kita perlu menyadari bahwa hidup ini adalah panggilan yang suci: bukan sekadar ada, tetapi sungguh hidup dalam arah dan makna. Kita tidak dipanggil untuk hidup sembarangan atau dikuasai oleh hawa nafsu, melainkan untuk hidup dalam terang kebenaran dan kasih Allah.

Saudari dan saudara, sering kali kita pun seperti para murid Emaus, berjalan dalam kebingungan tanpa menyadari bahwa Tuhan begitu dekat dengan kita. Kita mudah terjebak dalam kekecewaan, ketakutan, dan keraguan yang menutup mata iman.

Namun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia terus mendekat dengan sabar, menyapa melalui firman-Nya, dan hadir dalam setiap pengalaman hidup kita, bahkan di tengah penderitaan yang paling dalam.

Namun persoalannya, apakah kita setia mendengarkan firman-Nya yang dengan lembut dan setia menyapa kita setiap hari? Apakah kita sungguh merayakan Ekaristi sebagai pusat dan sumber hidup kita?

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Angin Roh yang Mengubah Segalanya

Tidak sedikit orang lebih tertarik pada informasi yang menyesatkan daripada membuka diri pada Sabda Tuhan. Banyak pula yang hadir dalam perayaan Ekaristi, tetapi tidak sungguh hadir dengan hati, tubuh berada di gereja, namun pikiran mengembara ke mana-mana.

Karena itu, marilah kita membuka hati dan mata iman kita. Biarkan Sabda Tuhan menyalakan kembali hati yang mungkin mulai dingin dan redup. Biarkan Ekaristi menjadi momen perjumpaan yang hidup dengan Kristus yang bangkit, yang menguatkan dan memperbarui kita. Dan seperti para rasul serta murid Emaus, kita pun dipanggil untuk bangkit dan kembali, menjadi saksi bahwa Tuhan sungguh hidup dan terus berkarya dalam hidup kita.

Akhirnya, marilah kita melangkah dengan iman yang teguh dan harapan yang tak tergoyahkan. Jangan biarkan hati kita tenggelam dalam keputusasaan, tetapi biarkan hati kita berkobar-kobar oleh Sabda-Nya. Sebab Kristus yang bangkit senantiasa berjalan bersama kita, menuntun langkah kita, dan mengubah setiap kegelapan menjadi terang yang penuh harapan.

Petikan BUSA-H untuk kita: 

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dilahirkan Kembali untuk Hidup Baru Dalam Roh

”Tuhan sering berjalan di samping kita dalam diam—bukan karena Ia jauh, tetapi karena hati kita belum sungguh terbuka untuk mengenali-Nya.”

”Hidup menemukan maknanya bukan saat semua berjalan sesuai rencana, melainkan saat kita tetap melangkah bersama Tuhan di tengah kekecewaan dan luka.”

”Ketika Sabda didengarkan dengan iman dan Ekaristi dirayakan dengan hati yang utuh, hati yang hampir padam pun akan berkobar kembali oleh kasih Kristus yang hidup.”

Tuhan memberkati kita.#rd.fd@

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan