Sabtu, 22 Agustus 2026. Peringatan Wajib SP. Maria, Ratu. Nubuat Yehezkiel 43:1-7a; Matius 23:1-12.

Oleh: RD.Fidelis Dua

Saudari dan saudara terkasih, dunia sering mempertontonkan orang yang berlomba untuk menjadi terpenting, tetapi Yesus menunjukkan bahwa kebesaran sejati lahir dari kerendahan hati.

Dalam Injil, Yesus menegur ahli Taurat dan kaum Farisi bukan karena mereka mengajarkan Taurat, melainkan karena hidup mereka tidak sejalan dengan apa yang mereka ajarkan. Mereka suka mencari tempat terhormat, kedudukan, dan gelar, sementara beban berat diletakkan di pundak orang lain.

Yesus membalik ukuran kebesaran itu dengan mengatakan bahwa yang terbesar hendaklah menjadi pelayan dan siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan. Sebab kebesaran sejati tidak menempatkan diri di pusat, tetapi memberi tempat kepada Allah.

Dalam nubuat Yehezkiel, kemuliaan Tuhan kembali memenuhi Bait Allah dan Tuhan menyatakan bahwa di sanalah Ia berdiam di tengah umat-Nya.

Sabda ini mengingatkan kita bahwa pusat kehidupan beriman bukanlah kemuliaan manusia, melainkan kehadiran Allah. Jalan inilah yang tampak nyata dalam kehidupan Maria.

Maria yang kita peringati sebagai Ratu menunjukkan jalan itu. Ia dimuliakan bukan karena mengejar kehormatan, tetapi karena merendahkan diri dan menyerahkan hidup kepada kehendak Allah.

Tradisi Kristiani memang melihat kemuliaan Maria selalu dalam hubungannya dengan Kristus dan kesetiaannya kepada karya keselamatan Allah. Karena itu, ukuran kebesaran seorang beriman tampak dari siapa yang menjadi pusat hidupnya.

Sabda ini menyentuh kehidupan kita ketika posisi tertentu yang diberikan kepada kita berubah menjadi kesempatan mencari penghormatan, pelayanan menjadi panggung untuk menonjolkan diri, dan kebaikan dilakukan supaya dilihat serta dipuji.

Kita dapat aktif di gereja tetapi sulit menerima kritik, berbicara tentang kasih tetapi merendahkan orang lain, atau begitu sibuk menjaga nama baik sendiri sampai tidak lagi peduli kepada mereka yang sedang memikul beban.

Di tengah berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan kita membutuhkan semakin banyak orang yang bersedia menjadi berguna.

Maria menunjukkan wajah kekuasaan yang berbeda. Sebagai Ratu, ia tetaplah hamba Tuhan, seorang ibu yang lembut dan dekat dengan mereka yang datang membawa kesusahan.

Karena itu, marilah memohon keberanian untuk turun dari takhta kecil yang sering kita bangun bagi diri sendiri. Bertobatlah dari kesombongan, kemunafikan, haus pujian, kebiasaan meremehkan orang lain, dan pelayanan yang diam-diam mencari pengakuan.

Hari ini lakukanlah sesuatu yang baik tanpa perlu diketahui orang lain, dan ringankanlah satu beban konkret dari seseorang yang sedang kesulitan. Bersama Maria, Ratu yang rendah hati, biarkan Tuhan bersemayam dalam hati dan menghadirkan kemuliaan-Nya melalui kelembutan, kepedulian, dan pelayanan kita.

Jangan sibuk mencari tempat untuk dihormati, tetapi carilah orang yang membutuhkan tempat di hati kita, sebab di hadapan Tuhan yang terbesar bukanlah yang paling banyak dilayani, melainkan yang paling tulus melayani.

Petikan BUSA-H #22/08/2026

“Kebesaran sejati tidak lahir ketika kita berhasil menempatkan diri di atas orang lain, tetapi ketika kita merendahkan hati agar Allah semakin mendapat tempat dalam hidup kita.”

“Jangan jadikan pelayanan sebagai panggung untuk mencari pujian, sebab tangan yang sungguh melayani tidak sibuk mencari tepuk tangan.”

“Dunia mengajarkan kita berlomba menjadi terpenting, tetapi Yesus mengajak kita berlomba menjadi berguna bagi mereka yang sedang memikul beban.”

“Jangan sibuk mencari tempat untuk dihormati, tetapi carilah orang yang membutuhkan tempat di hati kita, sebab di hadapan Tuhan yang terbesar adalah yang paling tulus melayani.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan