Rabu, 23 September 2026. Peringatan Wajib St. Pius dari Pietrelcina (Padre Pio), Imam
Kitab Amsal 30:5-9; Lukas 9:1-6.

Oleh: RD.Fidelis Dua

Saudara-saudari terkasih, semakin jauh kita hendak bepergian, biasanya semakin banyak yang ingin kita persiapkan. Kita membawa pakaian cadangan, uang, makanan, obat, bahkan pengisi daya telepon genggam.

Kita merasa lebih tenang ketika semuanya tersedia. Termasuk merasa aman kalau tabungan cukup, pekerjaan mapan, kesehatan terjamin, dan rencana berjalan sesuai keinginan. Semua itu tentu baik dan perlu. Tetapi persoalannya muncul ketika sesuatu yang kita miliki berubah menjadi sesuatu yang tidak dapat kita lepaskan.

Kita mempunyai banyak pegangan, tetapi justru semakin sulit berserah kepada Tuhan. Karena itu, doa dalam Kitab Amsal hari ini begitu indah, “Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.”

Ini bukan penolakan terhadap harta, melainkan kerinduan akan hati yang bebas. Hati yang tidak diperbudak oleh kekurangan dan tidak dibutakan oleh kelimpahan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Merasa Benar Menuju Hidup Benar

Kadang-kadang yang paling kita perlukan bukan memiliki lebih banyak, tetapi menyadari apa yang sesungguhnya sudah terlalu banyak memenuhi hati kita.

Dalam Injil, Yesus mengutus kedua belas murid dengan perintah yang mengejutkan, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan.” Mereka tidak boleh menggantungkan keberhasilan perutusan pada banyaknya bekal yang mereka miliki.

Yesus terlebih dahulu memberi mereka kuasa dan kemudian mengutus mereka. Jadi, kekuatan utama mereka tidak terletak pada apa yang ada di dalam tas, tetapi pada Dia yang mengutus mereka.

Di situlah paradoks kemuridan. Tangan yang terlalu penuh sulit menerima. Hati yang terlalu penuh dengan rasa aman sulit belajar percaya. Kesederhanaan yang diminta Yesus bukan romantisasi kemiskinan dan bukan pula larangan untuk bertanggung jawab terhadap kebutuhan hidup.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Meja Mana Kita Harus Berdiri?

Dalam Injil Lukas, kemuridan memang memiliki tuntutan nyata untuk melepaskan keterikatan dan mengikuti Kristus dengan sungguh-sungguh.

Hari ini kita mengenangkan Santo Pius dari Pietrelcina, Padre Pio. Peringatan ini mengingatkan kita bahwa kekuatan seorang pelayan Tuhan tidak terletak pada banyaknya yang ia miliki, melainkan pada kedalaman persatuannya dengan Kristus.

Pertanyaannya bagi kita bukan hanya apa yang saya miliki, tetapi apa yang, begitu saya pegang, membuat saya takut berjalan tanpa itu?

Mungkin kita tidak membawa tongkat, bekal, dan dua helai baju seperti para murid dahulu. Tetapi kita membawa banyak hal lain dalam perjalanan hidup. Keinginan mengendalikan semuanya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kemurahan Tuhan Lebih Besar daripada Perhitungan Kita

Kecemasan akan hari esok. Ambisi untuk selalu berhasil. Kebutuhan untuk dipuji. Bahkan mungkin uang, kedudukan, atau kenyamanan telah menjadi pegangan yang membuat kita merasa bahwa tanpa semuanya itu hidup akan runtuh.

Hari ini Yesus tidak sekadar meminta kita melepaskan sesuatu. Ia mengundang kita untuk mempercayakan diri kepada-Nya. Lantas, kita boleh bertanya: apa yang paling sulit saya lepaskan karena saya merasa tanpanya saya tidak akan aman?

Hari ini berusahalah hidup lebih sederhana. Kurangi sesuatu yang tidak perlu, bagikan sesuatu yang kita miliki, lepaskan satu hal yang membuat kita sering cemas, atau berikan waktu kepada seseorang yang membutuhkan kita.

Kadang-kadang Tuhan mengosongkan tangan kita bukan supaya kita kehilangan segalanya, tetapi supaya tangan kita kembali bebas untuk menggenggam tangan-Nya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Setia dalam Proses, Bertumbuh dalam Ketekunan

Saya mengakhiri renungan ini dengan sebuah pantun:

Perahu berlayar menuju seberang,

Bintang bersinar menerangi bahtera.
Percayakan hidup kepada Sang Terang,
Biarkan tangan terbuka untuk menerima.

Petikan BUSA-H #23/09/2026

”Kita bisa mempunyai banyak pegangan, tetapi justru kehilangan keberanian untuk berserah kepada Tuhan.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Diampuni oleh Rahmat. Diubah untuk Mengasihi

”Tangan yang terlalu penuh sulit menerima, dan hati yang terlalu sesak dengan rasa aman sulit belajar percaya kepada Tuhan.”

”Kesederhanaan bukan tentang tidak memiliki apa-apa, melainkan tentang memiliki tanpa diperbudak dan melepaskan tanpa kehilangan damai.”

“Kadang-kadang Tuhan mengosongkan tangan kita bukan supaya kita kehilangan segalanya, tetapi supaya tangan kita kembali bebas untuk menggenggam tangan-Nya.”_

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan