BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Pelita Menyala, Hidup yang Bijaksana

Perumpamaan lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana.

Jumat, 28 Agustus 2026. Peringatan Wajib St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja. 1 Korintus 1:17-25; Matius 25:1-13.

Oleh: RD. Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, ada perbedaan yang tajam antara kecerdasan dan kebijaksanaan. Orang bijaksana menggunakan kecerdasannya untuk memilih jalan yang benar, tetapi orang cerdas belum tentu bijaksana dalam menentukan arah hidupnya.

Seseorang dapat mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu mengetahui apa yang paling penting bagi hidupnya. Perbedaan itulah yang diperlihatkan Yesus melalui pelita dan minyak dalam Injil hari ini.

Banyak orang memiliki pelita yang indah, tetapi tidak semua mempunyai minyak yang cukup untuk membuatnya tetap menyala.

Lima gadis bodoh membawa pelita tanpa persediaan minyak, sedangkan lima gadis bijaksana membawa pelita sekaligus minyak. Perbedaannya baru terlihat ketika penantian menjadi panjang dan mempelai datang pada waktu yang tidak diduga.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berjaga dalam Kesetiaan

Kebijaksanaan ternyata bukan sekadar mengetahui bahwa mempelai akan datang, tetapi mempersiapkan diri untuk tetap setia menantikannya.

Paulus membawa kita lebih dalam dengan menunjukkan kebijaksanaan yang mengejutkan, yakni salib Kristus. Apa yang dianggap kebodohan oleh dunia justru menjadi kekuatan Allah bagi mereka yang diselamatkan.

Maka kebijaksanaan kristiani bukanlah soal seberapa banyak yang kita ketahui tentang Tuhan, melainkan seberapa siap hidup kita menyambut-Nya. Pelita boleh berada di tangan, tetapi tanpa minyak, terang tidak akan bertahan.

Di sinilah Santo Agustinus membuktikannya. Ia sangat cerdas dan mengembara melalui berbagai pemikiran untuk mencari kebenaran, tetapi kecerdasan saja belum mampu menenangkan kegelisahan hatinya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Biarkan Kebusukan Tersembunyi di Balik Dua Wajah

Titik balik terjadi ketika seruan “Tolle, lege” menggerakkannya untuk mengambil dan membaca Kitab Suci. Ia akhirnya menemukan bahwa kebenaran bukan hanya sesuatu yang harus dipikirkan, tetapi Pribadi yang harus diterima dan diikuti.

Kita pun dapat memiliki banyak “pelita” dalam kehidupan modern. Pendidikan tinggi, pekerjaan, teknologi, uang, popularitas, bahkan pengetahuan agama dapat membuat kehidupan tampak terang.

Namun semua itu tidak selalu menyediakan “minyak” ketika keluarga mengalami masalah, doa terasa kering, kegagalan datang, penyakit mengguncang, atau harapan mulai melemah.

Agustinus menemukan bahwa hati manusia tidak diselamatkan hanya oleh kecerdasan, melainkan oleh rahmat yang membawanya kepada Kristus. Pelita dapat membuat kita tampak bercahaya di hadapan manusia, tetapi hanya kehidupan yang berakar dalam Tuhan membuat kita tetap menyala ketika keadaan menjadi gelap.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bersihkanlah Bagian yang Hanya Tuhan Lihat 

Karena itu, saudari dan saudara terkasih, jangan hanya sibuk memperindah pelita sambil lupa mengisi minyak. Minyak menjadi simbol kesiapsiagaan dan ketekunan dalam menantikan Tuhan.

Maka bertobatlah dari kehidupan yang mengejar penampilan, kesenangan, pengakuan, dan kepandaian, tetapi membiarkan kehidupan batin kehilangan kesiapsiagaan dan ketekunan iman. Jangan pula menunda pertobatan dengan merasa masih ada hari esok.

Hari ini, tanyakan dalam keheningan bagian hidup mana yang harus kembali diarahkan kepada Kristus sembari memeluk kebijaksanaan salib yang diwartakan Paulus.

Seperti Agustinus, kita mungkin telah berjalan melalui banyak jalan dan membawa banyak kegelisahan, tetapi rahmat Tuhan selalu membuka jalan untuk pulang.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Biarkan Topeng Menggantikan Wajah Kita

Jangan tunggu pelita hampir padam baru mencari minyak. Isilah hati dengan Kristus setiap hari, sebab ketika Sang Mempelai datang, yang menentukan bukan seberapa indah pelita yang kita bawa, melainkan apakah pelita itu masih menyala.

Petikan BUSA-H #28/08/2026

”Kecerdasan membuat kita mengetahui banyak hal, tetapi kebijaksanaan menolong kita mengenali apa yang sungguh penting dan memilih jalan yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan.”

”Jangan sibuk memperindah pelita agar dikagumi manusia sampai lupa mengisi minyak yang membuatnya tetap menyala di hadapan Tuhan.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jawablah Yesus dengan Hidupmu

”Santo Agustinus mengajarkan bahwa kecerdasan dapat membawa manusia menjelajahi banyak jalan, tetapi hanya rahmat yang dapat membawa hati pulang kepada Tuhan.”

”Ketika Sang Mempelai datang, yang menentukan bukan seberapa indah pelita yang kita bawa, melainkan apakah di tengah gelapnya perjalanan, pelita itu masih menyala.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan