26 Jalur Penerbangan Terdampak Erupsi Lewotobi Laki-Laki, Termasuk 451 Penumpang Maumere
JAKARTA, dewadet.com-Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, Cecep Kurniawan mengatakan erupsi Gunung Lewatobi Laki- Laki, Selasa 17 Juni 2025 pukul 17.35 Wita berdampak penutupan Bandara Frans Seda, Bandara Aroeboesman Ende dan Bandara Soa di Bajawa dan 26 jalur penerbangan turut terdampak.
Demikian disampaikan Kepala Bagian Humas dan Umum Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Endah Purnama Sari, dalam siaran pers diterima Rabu sore, 18 Juni 2025.
Dikatakannya, Bandara Frans Seda di Maumere hingga 19 Juni 2025 pukul 06.00 Wita, Soa hingga 18 Juni 2025 pukul 17.00 Wita dan Haji Hasan Aroeboesman di Ende hingga 19 Juni 2025 pukul 07.00 Wita.
Cecep mengatakan 26 jalur penerbangan turut terdampak, terdiri dari 12 penerbangan internasional dan 14 penerbangan domestik, dengan total penumpang yang terkena dampak 14.000 orang.
Baca Juga: Bayi Kembar Dievakuasi ke Maumere Hindari Abu Vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki
“Beberapa titik lokasi bandar udara dengan jumlah penumpang terdampak terbesar yaitu Denpasar 10.560 penumpang, Labuan Bajo 2.166 penumpang, Lombok 772 penumpang dan Maumere 451 penumpang, “ ujar Cecep.
Bandar Udara lainnya yang turut terdampak yakni Kupang, Bajawa, Ende, Sabu, dan sejumlah rute konektivitas di wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Koordinasi telah dilakukan untuk memastikan pengalihan, pengembalian dana, maupun penjadwalan ulang bagi penumpang yang terdampak.
Berdasarkan informasi dari ASHTAM VAWR3701 yang diterbitkan oleh AirNav Indonesia, abu vulkanik terdeteksi tersebar pada beberapa ketinggian 10.000 kaki ke arah barat, 35.000 kaki ke arah tenggara dan 53.000 kaki ke arah barat, dengan kecepatan angin bervariasi antara 10 hingga 25 knots.
Baca Juga: Bandara Frans Seda Ditutup, Kabupaten Sikka Diselimuti Abu Vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki
Prioritas Keselamatan Penerbangan
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menegaskan keselamatan penerbangan adalah prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan yang diambil.
“Kami terus memantau dan melakukan penyesuaian operasional berdasarkan data terbaru. Keselamatan dan kenyamanan penumpang menjadi dasar utama setiap keputusan penutupan maupun pembukaan kembali operasional bandara,” ujar Lukman.
Lukman juga menghimbau kepada seluruh operator penerbangan dan penyelenggara bandara untuk memberikan kompensasi sesuai regulasi yang berlaku kepada penumpang yang terdampak.
“Termasuk opsi reschedule, reroute, hingga pengembalian dana (refund) penuh bagi penumpang yang tidak dapat melanjutkan perjalanan. Ini penting untuk menjaga kepercayaan publik dan memberikan perlindungan maksimal kepada pengguna jasa,” katanya.
Sebagai contoh upaya mitigasi, maskapai di Labuan Bajo bekerja sama dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk menyediakan transportasi laut sebagai alternatif perjalanan bagi penumpang yang tertahan.
Secara teknis, AirNav Indonesia juga telah melakukan prosedur kontinjensi terhadap pelayanan navigasi penerbangan, termasuk opsi pengoperasian Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai-Bali selama 24 jam penuh, yang biasanya hanya beroperasi hingga pukul 02.00 WITA.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan terus melakukan pemantauan, evaluasi, dan koordinasi lintas sektor untuk memastikan keselamatan, keamanan, dan kelancaran operasional penerbangan nasional tetap terjaga di tengah situasi erupsi Gunung Lewotobi ini.*
Penulis: Eginius Moa
Editor: Eginius Moa





