Nona Sikka Deg-degan Tiba di Sapporo, Hokkaido ‘Terdampar’ di Shiraoi
MAUMERE,dewadet.com-Senin, 5 Oktober 2026 pukul 08.45 waktu Hokkaido, Irene Maria Lidi (25) menjejakan kakinya yang pertama kali di Kota Sapporo, Ibukota Hokkaido, Kota terbesar kelima di Jepang.
Penerbangan yang melelahkan, menyita tenaga, waktu dan beban mental yang lumayan, seba baru pertama keluar negeri.
“Saya berangkat dari Bali jam 05.00 Wita, Minggu (4 Oktober 2026) menuju Bangkok selama 4 jam lebih. Terjadi delay landing cukup lama karena cuaca buruk di Bangkok saat itu. Lalu transit selama 3 jam 30 menit,” kisah Rani, sapaannya dalam percakapan dengan wartawan, Senin sore Wita, 5 Oktober 2026.
Selanjutnya, penerbangan dari Bangkok menuju Sapporo terjadi pada pukul 23.30 waktu setempat. Pesawat mendarat jam 08.45 waktu Sapporo.
Baca juga:Dua Perawat Asal Flores Tiba di Jepang Dikontrak Lima Tahun
Baru pertamakali tiba di Negeri Sakura, beragam perasaan menghantui Rani. Ada rasa khawatir, jangan sampai barang bawaanya disita otoritas Bandara. Syukur semua berjalan lancar dan aman. Dia dijemput oleh penanggungjawabanya yang ada di Jepang.
“Pertama kali turun deg-degan juga. Takutnya ada barang bawaan yang disita. Syukurnya semuanya aman. Oh iya, selama transit sama sekali tidak ada merasa kesulitan. Kalau bingung, saya langsung tanya ke petugas seperti nasehat dari kaka Michael, pengurus di LPK Musubu,” cerita Rani.
Berada di dalam gedung Bandara, Rani mengaku merasa nyaman dengan cuaca di Jepang.
“Awalnya suhunya rasanya aman saja karena masih didalam, ternyata setelah keluar suhunya seperti sedang pakai “airconditioner’ he…heh. Saya hanya pakai kaos oblong lengan pendek jadi lumayan kaget.”
Baca juga:LPK Musubu Utus Empat Perawat Asal Flores Kerja di Jepang
Alumni Universitas Satya Wacana Salatiga jurusan Teknologi Pangan bersyukur perjalananya dari Bali sampai ke Sapporo sangat terbantu, karena ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan tempat ia bekerja.
Bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Yosef Benyamin, dan Imelda Lambertini, menempati lokasi tugas di Kota Shiraoi, Hokkaido. Ia akan bekerja di sebuah grup home. Dimana para penghuni grup ini rata-rata masih sehat.
Dikutip dari Wikipedia, Shiraoi adalah sebuah kotapraja di Subprefektur Iburi, Hokkaido yang terkenal sebagai pusat kebudayaan masyarakat adat Ainu serta produsen daging sapi berkualitas tinggi.
“Jadi kita harus pandai-pandai ber-kaiwa atau bercakap-cakap, membuat kegiatan, berkegiatan dan mengawasi. Ada juga yang butuh bantuan perawatan tapi tidak sebanyak itu (merawat Lansia),” ujarnya.
Baca juga:Berapa Pendapatan Perawat asal Flores di Jepang? Gaji Awal Rp 25 Juta, Ada Lembur dan Bonus
Kota Shiraoi, dilukiskan Rani merupakan kota kecil yang berada di pantai, saat ini akan memasuki musim dingin.” Gambaranya kayak Lela, langsung laut,” pungkas Rani.
Pada awal pekan pertama, Minggu 4 Oktober 2026, LPK Musubu di Bali memberangkatkan Rani dan Hilman ke Jepang. Keduanya menyusul Martinus Moa, dan Mertin Soi, yang lebih dahulu berangkat pada 29 dan 30 September 2026. Sejak empat tahun lalu sampai saat ini, LPK Musubu menempatkan 75 perawat berkarya di berbagai kota di Jepang.*




